Politik Jalan Ruhani

Ayik Heriansyah

20/08/2025

3
Min Read
Politik

On This Post

Harakatuna.com – Di tengah hiruk-pikuk dunia politik yang sering kali dipandang sinis, sejatinya politik adalah ladang mulia dan panggilan jiwa untuk berkhidmat. Politisi bukan sekadar perebut kekuasaan, melainkan pelayan umat yang mengatur kemaslahatan bersama tanpa diskriminasi suku, agama, atau golongan. Politik sejatinya adalah bentuk pengabdian yang menuntut keikhlasan, kasih sayang, dan ketulusan.

Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa kepemimpinan adalah amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Dalam sabda beliau, setelah para nabi tidak ada lagi nabi pengganti, tetapi lahirlah para khalifah yang jumlahnya banyak—yang tugasnya memimpin dengan hati dan akal sehat. Ini menunjukkan bahwa politik adalah ladang pengabdian spiritual dan sosial sekaligus.

Seorang politisi yang ideal harus memiliki kombinasi hati dan kecerdasan: welas asih yang tulus, kebesaran jiwa, akal tajam, serta stamina untuk bekerja keras. Kebijakan yang membawa manfaat luas adalah amal jariyah yang pahalanya mengalir terus, menjadi investasi akhirat yang tak ternilai.

Untuk menjadi pemimpin politik yang bermartabat dan berdampak positif, diperlukan proses pendewasaan batin. Sifat-sifat luhur seperti pemaaf dan penyayang perlu diasah melalui latihan spiritual seperti wirid, zikir, dan suluk. Ini bukan sekadar ritual, tapi cara membersihkan hati dari penyakit seperti ambisi buta, tamak, dan kesombongan yang kerap menggerogoti dunia politik.

Surat At-Taubah ayat 128–129 (Laqad Ja) menyampaikan teladan kepemimpinan Rasulullah yang penuh kasih sayang bahkan kepada yang menolak. Saat malaikat menawarkan untuk menghancurkan kaum yang mendustakan, Nabi memilih belas kasih dan berharap ada generasi beriman yang lahir dari mereka. Spirit ini harus menjadi nafas setiap politisi yang ingin memimpin dengan hati.

Di Pesulukan Thariqah Agung (PETA) Tulungagung, wirid Laqad Ja dijadikan amalan harian untuk menumbuhkan sifat welas asih dan pengabdian sosial. Murid-murid dilatih untuk menjadi pribadi yang gigih mengajak kepada kebaikan dan lembut berbelas kasih—karakter yang pas untuk pengurus masyarakat.

Politisi yang mengamalkan wirid ini mendapatkan kekuatan ruhani untuk menepis penyakit hati dan menghadirkan kebijakan yang adil serta bermartabat. Dengan bimbingan sanad amalan (ijazah), politik yang dijalani berbuah keberkahan, bukan sekadar ambisi duniawi.

Sejarah mencatat bahwa banyak tokoh sufi yang terjun ke dunia politik tanpa kehilangan ruh spiritualnya. Mereka menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk menebar keadilan dan kasih sayang, bukan sebagai tujuan pribadi.

Imam al-Ghazali. Meski tidak menjabat sebagai politisi, Imam al-Ghazali menjadi penasihat spiritual bagi penguasa Dinasti Seljuk. Ia menulis at-Tibrul Masbuk fi Nasihati al Muluk sebagai panduan etika politik, menekankan pentingnya keadilan, zuhud, dan tanggung jawab sosial dalam kekuasaan.

Syekh Yusuf Makassar. Tokoh sufi asal Sulawesi ini tidak hanya berdakwah, tetapi juga memimpin perlawanan politik terhadap kolonialisme. Ia menggabungkan spiritualitas dan perjuangan sosial, menunjukkan bahwa tarekat dan politik bisa berjalan beriringan.

Di Indonesia, Habib Luthfi adalah contoh kontemporer seorang sufi yang aktif dalam urusan kebangsaan. Ia terlibat dalam forum-forum kenegaraan, menyuarakan perdamaian, dan merangkul budaya lokal sebagai bagian dari dakwah.

Jalan politik sesungguhnya adalah lebih dari urusan kekuasaan. Ia adalah pengabdian tertinggi yang mengandung nilai spiritual dan sosial. Seorang politisi yang sukses bukan hanya diukur dari jabatan atau kekuasaan, tapi dari keikhlasan dan manfaat jalannya kepemimpinan bagi rakyat.

Dengan fondasi spiritual yang kokoh, politik dapat menjadi ladang amal yang suci, tempat menebar keadilan, dan wujud nyata cinta kasih kepada sesama. Sehingga politik bukan lagi arena pertarungan, tapi taman subur bagi tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan dan keberkahan.

Leave a Comment

Related Post