Harakatuna.com – Selama ini banyak yang ingin melihat perubahan dari pesantren atau lembaga pendidikan Jama’ah Islamiyah (JI). Mereka menginginkan pendidikan JI betul-betul transparan, dekat dengan masyarakat dan sebisa mungkin tidak menimbulkan bahaya.
Selama ini lembaga pendidikan JI terlihat sebagai suatu lembaga yang menakutkan. Sebab isunya, lembaga ini dijadikan sebagai tempat pengkaderan untuk jihad global. Fakta di lapangan memang demikian, meski tidak semuanya. Namun nyaris alumni pendidikan JI hampir merasa intens dengan ideologi yang dikembangkan JI.
Tetap Ketahuan Baunya
Sebagai sebuah kasus, lembaga-lembaga pendidikan JI digawangi oleh para alumni pesantren dan kader-kader JI. Mereka telah turut serta menciptakan masyarakat yang berakhlak seperti JI. Mereka dengan segala keterbatasan membentuk citra baik bagi keberlangsungan lembaganya.
Sementara lembaga layanan sosial JI turut membantu masyarakat yang tidak mampu dalam mengakses pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan yang layak. Kabarnya, banyak yang terbantu, dan karena itu pula banyak pihak mengakui prestasi mereka.
Namun, bau busuk tak selalu bisa ditutupi oleh rekayasa citra. Bau busuk selalu tercium manakala orangnya teledor. Akhirnya, pendidikan JI masih terbukti tidak meninggalkan jihad yang mereka pelajari. Sebagian dari mereka masih percaya bahwa ideologi JI dengan jihad radikalnya bisa mendirikan negara khilafah bersistem Islam di Asia Tenggara. Lalu di antara mereka melakukan pelatihan militer ilegal dan bergabung dengan kelompok teroris internasional.
Dua Pesantren Berubah?
Di sisi lain, ada sebagian pesantren JI yang mulai berubah. Meski perubahannya tidak nampak secara signifikan, namu paling tidak mereka mau berkompromi dengan pemerintah. Adalah Pondok Pesantren SMPIT Nurul Iman Pesawaran dan Pondok Pesantren Al Muhsin Metro. Pondok Pesantren SMPIT Nurul Iman didirikan pada tahun 2004 di Desa Purworejo, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Ide pendirian pesantren ini berasal dari beberapa orang kader Jama’ah Islamiyah Lampung yang didukung oleh para tokoh masyarakat setempat.
Ada juga Pesantren Al Muhsin Metro. Pondok ini berdiri sejak 1995. Pondok ini merupakan salah satu pesantren terafiliasi Jama’ah Islamiyah (JI) tertua di Lampung. Didirikan atas inisiatif salah satu Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) agar mendirikan pesantren untuk kaderisasi da’i di wilayah Lampung. Inisiatif ini kemudian disambut oleh para kader JI di wilayah Metro dan sekitarnya.
Dua pondok itu sekarang mulai berubah. Dimulai dengan konflik internal mereka. Dan juga adanya pendekatan pemerintah kepada mereka. Perubahan pondok itu bisa dilihat dari mengubah AD-ART yayasan dengan menambahkan Muhammadiyah sebagai lembaga pembina dan pengawas yayasan. Dilanjutkan dengan merombak jajaran kepengurusan yayasan dengan lebih banyak melibatkan masyarakat di luar komunitas eks JI.
Perubahan Kurikulum dan Bantuan
Selain itu, di lingkup pesantren juga ada perubahan kurikulum. Kurikulum lama ditinggalkan sementara kurikulum baru mulai dipasang dan dijalankan. Mereka merancang kurikulum di mana disisipkan rasa cinta Tanah Air dan NKRI di kalangan pesantren.
Perubahan kurikulum terlihat dari, pertama, perubahan hari libur dari hari Jum’at menjadi hari Ahad/Minggu. Kedua, pelaksanaan upacara bendera setiap Senin. Ketiga, perubahan kurikulum pesantren sejak tahun ajaran 2022/2023 dengan rincian: Kitab Tauhid diganti dengan Aqidatul Awam; Minhajul Muslim (fikih) diganti dengan Safinatun Najah; Minhajul Muslim (adab/akhlak) diganti dengan Ta’lim Muta’allim; Nahwul Wadhih diganti dengan Matan Jurumiyah; Tajwid menggunakan Tuhfatul Athfal (Arif Budi Setyawan, 2023).
Mereka juga tidak segan belajar kepada kiai-kiai NU untuk mendalami berbagai macam kitab. Kabarnya terkini mereka mencoba untuk bertransformasi dengan pelajaran-pelajaran baru yang lebih sesuai dengan perkembangan pikiran dan lingkungan santri berada. Ini dilakukan sebab mendapatkan apresiasi oleh masyarakat dan juga pemerintah setempat.
Apresiasi yang besar tentu saja datang dari dinas Provinsi Lampung. Dinas Kesehatan misalnya, ini telah memberikan bantuan sarana kebersihan pada tahun 2022. Dan di tahun 2023 ini Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran memberikan bantuan sarana sanitasi senilai Rp 100 juta. Kemudian dinas pendidikan provinsi memberikan bantuan 10 laptop dan komputer untuk SMPIT Nurul Iman (Arif Budi Setyawan, 2023). Mantap, bukan?
Perubahan di atas apakah tidak ada tantangan, penolakan dan pertentangan sama sekali, baik dari pihak JI dan pihak wali santri? Jawabannya insyaallah saya akan uraikan pada tulisan selanjutnya.








Leave a Comment