Pesan Rasulullah Kepada Orang Yang Berambisi Memperoleh Kekuasaan

Ahmad Khalwani, M.Hum

03/09/2024

2
Min Read
berambisi memperoleh kekuasaan

On This Post

Harakatuna.com – Sekarang ini, dunia politik dan kekuasaan sangatlah kacau. Para elit politik berebut kekuasaan dengan saling sikut serta menerobos dan menerjang aturan-aturan. Aturan-aturan kekuasaan yang tidak sesuai maka diubahlah untuk kepentingannya. Sekarang ini para elit politik sangat berambisi untuk memperoleh kekuasaan. Kekuasaan dalam artian upaya mensejahterakan rakyat memang dianjurkan dalam Islam namun dengan cara yang baik. Dan bagi yang berambisi memperoleh kekuasaan, ingat pesan Rasulullah berikut ini.

Rasulullah dalam sebuah hadisnya berpesan, bagi orang yang berambisi memperoleh kekuasan bahwa kekuasaan itu laksana ibu yang menyusui anaknya, dan mengakhiri kekuasaan itu bagaikan ibu yang menyapih bayinya.

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ، وَإِنَّهَا سَتَكُونُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَنِعْمَتِ الْمُرْضِعَةُ، وَبِئْسَتِ الْفَاطِمَةُ

Artinya: “Kalian akan berambisi untuk mendapatkan kekuasaan, padahal ia akan menjadi penyesalan dan kerugian pada hari kiamat. (Kekuasaan) adalah sebaik-baiknya ibu saat menyusu, namun sejahat-jahatnya ibu ketika menyapih.”

Renungkanlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membuat perumpamaan untuk kekuasaan. Kekuasaan itu bagaikan sebaik-baik ibu ketika menyusui, namun sejahat-jahatnya ibu ketika menyapih. Seseorang ketika sedang berkuasa, seakan-akan anak bayi yang disusui oleh ibu yang paling baik ketika menyusui. Anak bayi itu tentu akan merasa senang, nikmat, kenyang, dan bisa tidur pulas. Namun, ketika kekuasaan itu berakhir, kekuasaan itu bagaikan sejahat-jahat ibu ketika menyapih, sang bayi tidak siap, lalu bayi itu pun menangis, menjerit, dan tampak menderita karena tiba-tiba tidak mendapatkan ASI dari ibunya dengan cara menyapih yang paling buruk.

Dalam sebuah hadis yang lain, Rasulullah juga berpesan bagi orang yang berambisi untuk memperoleh kekuasaan bahwa kekuasaan itu ujungnya hanya kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang jujur saat berkuasa.

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيْهَا

Artinya: “Wahai Abu Dzar, engkau adalah seorang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (HR. Muslim no. 1825)

Dua hadis ini mengindikasikan betapa pentingnya pesan Rasulullah kepada orang-orang yang berambisi memperoleh kekuasaan. Secara umum pesan Rasulullah diatas adalah boleh berambisi memperoleh kekuasaan namun dengan cara yang benar dan jujur serta amanah dalam melaksanakan kekuasaan. Sekali orang yang diberi kekuasaan melenceng dan menyalahgunakan amanah yang telah diberikan maka balasannya amat jelas kehinaan. Apa kehinaan yang didapat? dalam hadisnya Rasulullah menjelaskan bahwa kehinaan tersebut adalah dilemparkan kedalam neraka

لَيْسَ مِنْ وَالِي أُمَّةٍ قَلَّتْ أَوْ كَثُرَتْ لَا يَعْدِلُ فِيهَا إِلَّا كَبَّهُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى وَجْهِهِ فِي النَّارِ   

Artinya: “Tidaklah seorang pemimpin suatu umat, baik sedikit atau banyak, kemudian ia tidak adil dalam memimpinnya, kecuali Allah akan melemparkan wajahnya ke neraka.” (HR Ahmad).

Demikianlah pesan penting Rasulullah untuk orang-orang yang berambisi memperoleh kekuasaan.

Leave a Comment

Related Post