Pesan Cinta Rasulullah di Bulan Ramadan

Harakatuna

05/03/2026

4
Min Read

Harakatuna.com – Pesan cinta Rasulullah pada bulan Ramadan adalah pesan tentang harapan. Beliau menginginkan ampunan serta keselamatan bagi kita, umatnya. Sebagaimana termaktub dalam kitab Nafahat Ramadhaniyyah, terdapat satu bab yang mencatat pesan Rasulullah dalam khutbahnya di hadapan para sahabat pada masa itu.

Dari riwayat tersebut, kita dapat memahami bahwa perhatian Rasulullah saw. begitu besar terhadap umatnya. Pesan ini bukan sekadar instruksi ibadah, melainkan panduan penuh kasih sayang agar umatnya berhasil meraih kemenangan. Oleh karena itu, secara khusus beliau menyampaikan khutbah pada akhir bulan Syaban, sebagaimana diriwayatkan dari Salman al-Farisi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيمٌ، شَهْرٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيضَةً، وَقِيَامَ لَيْلِهِ تَطَوُّعًا، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ، مَنْ فَطَّرَ فِيهِ صَائِمًا كَانَ لَهُ مَغْفِرَةً لِذُنُوبِهِ، وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ، وَكَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ

Artinya: “Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Allah menjadikan puasa di dalamnya sebagai kewajiban dan menghidupkan malamnya sebagai ibadah sunnah. Ramadan adalah bulan kesabaran, dan pahala kesabaran adalah surga. Ia juga merupakan bulan kepedulian. Barang siapa memberi makanan berbuka kepada orang yang berpuasa pada bulan itu, maka hal tersebut menjadi sebab ampunan bagi dosa-dosanya, pembebasan dirinya dari api neraka, dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikit pun.” (HR. Al-Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah).

Bulan yang Penuh Berkah

Ramadan adalah bulan yang penuh keberkahan, di mana setiap ibadah yang dikerjakan akan dilipatgandakan pahalanya. Rasulullah bersabda bahwa terdapat satu malam yang disebut Lailatul Qadar. Orang yang beribadah pada malam tersebut memperoleh pahala yang lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun.

Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia. Mengingat rata-rata usia umat Nabi Muhammad saw. berkisar sekitar 63 tahun, Lailatul Qadar menjadi cara agar pahala ibadah seseorang dapat melampaui batas usia biologisnya. Jika seseorang mendapatkan Lailatul Qadar sekali saja dalam hidupnya, maka pahala ibadahnya telah melampaui usia hidupnya.

Dalam redaksi tambahan, Rasulullah bersabda:

مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْهِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ

Artinya: “Barang siapa mendekatkan diri kepada Allah pada bulan ini dengan melakukan suatu kebaikan, maka ia seperti melaksanakan ibadah wajib pada bulan selain Ramadan. Dan barang siapa melaksanakan ibadah wajib pada bulan ini, maka ia seperti melaksanakan tujuh puluh kali ibadah wajib pada bulan selain Ramadan.”

Rasulullah menyebutkan dua ibadah utama pada bulan Ramadan, yaitu puasa pada siang hari dan qiyamul lail pada malam hari. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Barang siapa melaksanakan qiyam Ramadan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Mayoritas ulama menjelaskan bahwa makna qiyam Ramadan adalah melaksanakan salat sunnah Tarawih yang hanya ada pada bulan mulia ini. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa para salafus saleh dan ulama terdahulu bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam Ramadan dengan salat, ta’lim, serta tadarus Al-Qur’an, meskipun pada siang hari mereka tetap bekerja.

Oleh karena itu, kita diajarkan untuk tidak melewatkan malam-malam Ramadan dalam keadaan lalai, terutama pada sepertiga malam terakhir yang bertepatan dengan waktu sahur. Sebagaimana nasihat Hubabah Ummu Abdul Qadir al-Habsyi dari Seiwun, Hadhramaut, Yaman, yang suatu ketika berkata, “Bagi perempuan yang sedang haid atau nifas, jangan merasa sedih atau tertinggal. Mereka tetap dapat melaksanakan qiyamul lail dengan memperbanyak zikir, membaca selawat, atau melakukan tadabbur melalui tafsir Al-Qur’an.”

Madrasah Kesabaran dan Bulan Kepedulian

Bulan Ramadan mendidik kita agar menjadi pribadi yang lebih sabar dalam menghadapi berbagai persoalan. Dalam hal ini, Rasulullah mengajarkan manajemen emosi yang sangat indah.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada orang yang memaki atau mengajaknya berkelahi, hendaklah ia berkata, ‘Aku sedang berpuasa.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah juga mengajarkan bahwa puncak spiritualitas seorang mukmin pada bulan Ramadan adalah ketika ia mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Beliau berpesan agar cinta kita tidak berhenti di atas sajadah, tetapi juga mengalir kepada mereka yang membutuhkan, seperti memberi makan orang yang berbuka puasa serta membahagiakan anak-anak yatim.

Sebagaimana disebutkan dalam hadis sebelumnya, sedekah berupa pemberian makanan berbuka puasa memiliki keutamaan besar. Faidahnya adalah menjadi sebab ampunan bagi dosa pemberinya, pembebasan dari api neraka, serta memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang diberi makan sedikit pun.

Karena besarnya keutamaan memberi makanan berbuka, bahkan orang yang memiliki keterbatasan materi pun dianjurkan untuk melakukannya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa para sahabat bertanya ketika mendengar khutbah Rasulullah tersebut:

قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، لَيْسَ كُلُّنَا يَجِدُ مَا يُفْطِرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا عَلَى مَذَقَّةِ لَبَنٍ أَوْ تَمْرَةٍ أَوْ شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ

Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kami mampu memberi makanan kepada orang yang berbuka puasa.” Rasulullah saw. menjawab, “Allah memberikan pahala tersebut kepada setiap orang yang memberi makanan berbuka, meskipun hanya seteguk susu, sebutir kurma, atau seteguk air.” Wallahu a‘lam.[]

Oleh: Rasyida Rifa’ati Husna.

Leave a Comment

Related Post