Harakatuna.com – Berbicara mengenai posisi perempuan dalam masyarakat memang tak ada habisnya. Dari masa ke masa, perempuan semakin menunjukkan eksistensinya sebagai kaum yang mampu dalam berbagai bidang, namun budaya patriarki nyatanya tak hilang begitu saja. Pada saat yang sama, pendalaman makna nasionalisme adalah urgen. Lalu, benarkah budaya patriarki dapat membatasi nasionalisme para perempuan?
Dalam KBBI, nasionalisme berarti suatu paham yang menganggap bahwa kesetiaan tertinggi atas setiap pribadi harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Dalam pemaknaan yang luas, nasionalisme yakni perasaan cinta yang tinggi atau bangga terhadap tanah air dan tidak memandang rendah bangsa lain.
Jiwa nasionalisme dapat dibuktikan dalam wujud yang beraneka ragam, salah satu wujud nasionalisme bela negara secara langsung adalah melalui pendidikan militer. Sudah bukan menjadi rahasia lagi jika banyak masyarakat dan orang tua yang tidak mengizinkan anak perempuannya masuk pendidikan militer karena berbagai alasan, salah satunya adalah melekatnya kontribusi perempuan dengan pekerjaan-pekerjaan rumah.
Apalagi ketika perempuan telah menikah seolah semua pekerjaan rumah mulai dari memasak, membersihkan rumah, dan mengurus anak adalah murni kewajiban istri saja. Ada konotasi menjadikan perempuan sebagai manusia domestik (homemaker) yang tidak memiliki konstribusi secara aktif di luar rumah. Hingga kini eksistensinya selalu dikaitkan dengan beberapa kata: sumur, dapur, dan kasur. Lalu bagaimana dengan perempuan yang memiliki cita-cita nasionalisme untuk bela negara melalui pendidikan militer, menjadi polisi wanita (polwan) misalnya?
Seiring berlalunya waktu, peran ganda perempuan sebagai ibu rumah tangga dan sebagai perempuan yang bekerja semakin banyak diterima masyarakat, meskipun juga masih ada yang kontra dengan hal tersebut. Sejatinya perempuan berhak memiliki peran di bidang apapun yang mereka kuasai dan sah-sah saja memiliki peran ganda selama tidak melepas tanggung jawabnya sebagai istri dan ibu rumah tangga.
Demikian juga dengan adanya minat yang tinggi dari kelompok perempuan untuk bergabung di pendidikan militer menyebabkan instansi yang terkait membuka jalan selebar-lebarnya bagi perempuan untuk menjadi bagian dalam instansi tersebut. Pada dasarnya, dimanapun itu peran perempuan sangatlah dibutuhkan guna menciptakan keseimbangan dalam menjalankan tugas atau pekerjaan.
Di kepolisian misalnya, menurut Amelberga Vita Astuti, seorang dosen dalam artikelnya yang berjudul “Tantangan dan Keunikan Polisi Wanita”, mengatakan bahwa polisi wanita (polwan) merupakan salah satu profesi yang unik, karena di dalamnya terkandung tantangan dan dua makna berlawanan dari segi sosial dan budaya.
Sebagai polwan mereka ditantang untuk menghadapi kekerasan yang bersifat maskulin, namun juga diharapkan tatap memiliki sisi feminim dalam bersikap, sehingga tanpa meninggalkan sikap yang tegas dan disiplin, polwan dengan jiwa feminisnya dapat memberikan sikap yang lembut dengan penuh kasih sayang kepada masyarakat.
Jika kita membaca sejarah perjuangan bangsa ini, tentunya juga tak terlepas dari kisah heroik para pahlawan perempuan yang menerjunkan dirinya di dunia militer. Keumalahayati berhasil menjadi laksamana perempuan yang memimpin armada laut para janda Aceh yang suaminya gugur di medan perang.
Demikian juga Cut Nyak Meutia, pahlawan perempuan dari Aceh pula yang turut mendedikasikan dirinya di medan pertempuran. Sebagai satu-satunya anak perempuan dari 5 bersaudara, Cut Meutia tetap dididik oleh kedua orang tua untuk tidak boleh menyerah pada penjajahan Belanda kala itu.
Berbekal ilmu agama dan ilmu pedang yang ia tekuni dari kecil, Cut Meutia tumbuh menjadi sosok pejuang yang membantu perjuangan suaminya dalam mengusir penjajah, bahkan terus melanjutkan perjuangannya di medan pertempuran setelah suaminya gugur. Cut Meutia dikenal sebagai ahli pengatur strategi pertempuran.
Salah satu taktik yang pernah ia gunakan adalah taktik serang dan mundur, serta menggunakan prajurit memata-matai gerak gerik pasukan lawan. Meskipun sempat dibujuk untuk menyerah namun Cut Meutia tetap memilih untuk berperang dari hutan ke hutan mengusir penjajah Belanda.
Di pedalaman rimba Pasai, Cut Meutia hidup berpindah-pindah bersama anaknya, Raja Sabi, yang masih berumur sebelas tahun, hingga akhirnya Cut Meutia gugur dan dimakamkan di kawasan hutan lindung Gunung Lipeh, Ujung Krueng Kereuto, Pirak Timur, Aceh Utara. Untuk mengenang jasa-jasanya, Cut Meutia diangkat menjadi pahlawan nasional, dan bahkan wajahnya diabadikan dalam uang kertas pecahan Rp 1.000 sejak tahun 2016.
Jiwa nasionalisme harus ada pada diri setiap bangsa, baik laki-laki maupun perempuan. Perwujudan nasionalisme dalam bentuk apapun menjadi hak siapapun, termasuk untuk para perempuan yang memiliki minat di bidang militer. Budaya patriarki yang masih ada dalam masyarakat tak seharusnya mengekang jiwa nasionalisme.
Pada dasarnya, menjadi perempuan bukanlah penghalang untuk menyerah dalam mewujudkan impian. Setiap orang baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin, anggota militer, atau bagian dari instansi apa pun, karena laki-laki dan perempuan memiliki peran untuk saling melengkapi antara yang satu dengan yang lainnya di mana pun itu.








Leave a Comment