Perempuan Banyak Berbicara: Potensi Perempuan Melawan Radikalisme

Muhammad Farhan

20/10/2024

5
Min Read
Perempuan Radikalisme

On This Post

Harakatuna.com – Pernahkah anda melihat kaum ibu-ibu jika berkumpul di rumah tetangga? Jika pernah apakah anda melihat dan mendengar percakapan mereka secara langsung? Bisanya apa yang dibahas oleh kaum perempuan ini? Ya biasanya gosip, yang tak jarang pembahasannya sangatlah panjang. Gak usahlah ibu-ibu, teman perempuan kita saja kalau sudah kumpul pasti hebohnya minta ampun dan kalau sudah cerita pasti sangatlah panjang. Berbeda halnya dengan kaum pria. Mereka cenderung bicara secukupnya saja. 

Fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa kaum perempuan itu lebih banyak bicara daripada kaum pria. Hal ini dibenarkan oleh penelitian yang dilakukan oleh University of Maryland School of Medicine. Dalam hasil risetnya mereka menemukan fakta bahwa perempuan tiga kali lebih banyak bicara dibanding pria, yaitu sebanyak 20.000 kata per hari. Lebih lanjut dalam penelitian tersebut mereka menjelaskan bahwa ada faktor biologis yang mempengaruhi bicara wanita dan pria yaitu pada FOXP2. 

FOXP2, ini adalah nama protein yang ada di dalam otak manusia. Dengan mengetahui jumlah FOXP2 kita dapat mengetahui seberapa banyak seseorang berbicara. Sebuah penelitian yang dilakukan University of Maryland School of Medicine menemukan fakta bahwa perempuan memiliki FOXP2 lebih banyak dibanding pria. Penelitian ini meliputi studi dari otak pria dan otak wanita berusia 4-5 tahun. Secara hasil ditemukan bahwa otak seorang gadis memiliki 30 persen lebih banyak protein FOXP2 dari seorang anak laki-laki seusianya. 

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kaum perempuan memiliki potensi yang sangat luar biasa dalam berbicara. Potensi ini seharusnya dapat digunakan perempuan secara baik dan benar sehingga bisa memberikan kemaslahatan dan kebermanfaatan bagi masyarakat dan terutama perempuan. 

Namun sayangnya, potensi ini sering sekali diabaikan oleh kaum perempuan. Banyak kaum wanita menggunakan potensi tersebut untuk menyebarkan gosip, fitnah, dan sebagainya yang justru membuat konflik hingga perpecahan di masyarakat. Potensi ini juga akan berbahaya jika kaum perempuan menggunakannya untuk menyebarkan paham radikalisme. Seperti yang dilakukan oleh Samantha Lewthwaite, yang dikenal sebagai “Janda Putih”. 

Samantha Lewthwaite adalah seorang wanita Inggris yang terlibat dalam aktivitas ekstremis setelah suaminya yang merupakan seorang anggota al-Shabaab terbunuh. Al-Shabaab adalah kelompok militan Islam yang bermarkas di Somalia dan memiliki hubungan dengan al-Qaeda. Sebagai seorang perempuan, Lewthwaite menggunakan keterampilannya dalam berbicara dan menulis untuk menyebarkan ideologi radikal dan merekrut anggota baru untuk kelompok al-Shabaab. Dia terlibat dalam berbagai aktivitas terorisme dan propaganda ekstremis. 

Kasus Samantha Lewthwaite ini menjadi sebuah bukti bahwa potensi banyak bicara kaum perempuan bisa menjadi potensi yang berbahaya jika digunakan untuk menyebarkan pemikiran radikalisme. Apalagi seperti yang kita ketahui bersama radikalisme sering kali menyebar melalui propaganda verbal atau komunikasi lisan. 

Namun, disisi lain, potensi ini juga bisa menjadi senjata ampuh dalam melawan radikalisme. Maka dari itu, sudah seharusnya kaum perempuan menggunakan potensi ini untuk menyebarkan manfaat dan kebaikan dengan menjadikan potensi ini sebagai upaya melawan radikalisme. Lalu bagaimana potensi banyak bicara kaum perempuan ini digunakan untuk melawan radikalisme? 

Pertama, perempuan dapat memanfaatkan potensi kemampuan bicara mereka untuk mengedukasi masyarakat tentang bahaya radikalisme. Dengan berbicara di forum-forum komunitas, seminar, atau media sosial. Kaum perempuan bisa menyebarkan informasi yang objektif mengenai bahaya ideologi ekstremis, dampaknya, dan cara mengidentifikasi tanda-tanda radikalisasi. Misalnya, ikut aktif menjadi pembicara pada kegiatan seminar yang tujuannya agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya toleransi dan keberagaman, serta bagaimana menjaga diri dari pengaruh radikalisme.

Kedua, potensi berbicara yang dimiliki perempuan dapat digunakan untuk membuka ruang dialog yang konstruktif dan inklusif. Kaum perempuan bisa melakukan diskusi terbuka tentang isu-isu sosial, politik, dan pemahaman Islam moderat. Dengan membangun ruang untuk berdiskusi, perempuan dapat ikut andil membantu mengurangi polarisasi dan mengurangi kemungkinan radikalisme yang terjadi di masyarakat. 

Ketiga, perempuan dapat menggunakan potensi bicara mereka untuk mempromosikan nilai-nilai Islam kebangsaan dengan berbagi cerita pengalamannya. Dengan berbagi pengalaman pribadi, kisah inspiratif, kaum perempuan dapat memotivasi orang lain untuk terlibat dalam kegiatan yang konstruktif dan menjauhi ideologi radikal. 

Lalu yang terakhir, perempuan sebagai anggota keluarga dan pengasuh anak memiliki peran penting dalam pendidikan anak-anak mereka. Dengan menggunakan potensi banyak berbicaranya, perempuan dapat mengajarkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan cinta damai kepada anak-anak mereka. Pendidikan dini tentang pentingnya keberagaman dan pemahaman yang mendalam tentang isu-isu sosial dapat mencegah radikalisasi di masa depan.

Dengan kemampuan berbicara yang dimiliki, perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan dalam melawan radikalisme. Ketika perempuan menggunakan suara mereka untuk menyebarkan kebaikan, mengedukasi tentang bahaya ekstremisme, dan mempromosikan nilai-nilai kebangsaan, mereka bukan hanya melindungi keluarga dan komunitas mereka, tetapi juga memperkuat fondasi perdamaian dalam masyarakat. Setiap kata yang diucapkan dengan bijak dapat menjadi benteng melawan ideologi yang merusak.

Maka, jadikanlah potensi ini sebagai senjata untuk menyebarkan cinta, toleransi, dan persatuan, sehingga kita semua bisa hidup dalam masyarakat yang harmonis dan damai. Mari kita bersama-sama, mulai dari diri sendiri untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang, di mana radikalisme tidak lagi memiliki tempat di tanah air kita. 

Semoga dari tulisan ini, bisa menjadi motivasi bagi perempuan untuk menggunakan potensi berbicaranya untuk melawan kegiatan radikalisme, sehingga masyarakat Indonesia bisa menjadi negara yang aman, damai, dan tidak ada aktivitas radikalisme. Amin ya rabbal alamin

Leave a Comment

Related Post