Perang Iran Melawan Zionisme: Ini Alasan Orang Wahabi ‘Kebakaran Jenggot’

Ahmad Khairi

16/03/2026

6
Min Read
Wahabi Iran

On This Post

Harakatuna.com – Perang Iran melawan AS-Israel sejak dua pekan lalu telah mengubah peta politik Timur Tengah secara drastis. Serangan udara terhadap negara-negara Teluk dan intersepsi terhadapnya terus terjadi begitu masif. Data militer menunjukkan ratusan proyektil telah ditembakkan sejak awal perang, dengan lebih dari 290 rudal dan 500 drone diarahkan ke Israel dalam beberapa hari pertama perang. Terkini, meski belum terkonfirmasi, PM Israel Benyamin Netanyahu dikabarkan tewas bersama sejumlah jenderalnya.

Di kawasan Teluk, negara Bahrain, Arab Saudi, Qatar, dan UAE melaporkan berbagai upaya pencegatan rudal dan drone yang melintasi wilayah udara mereka. Bahrain dilaporkan mencegat puluhan rudal dan drone Iran yang menargetkan fasilitas militer AS di wilayahnya. Bahkan beberapa proyektil juga memasuki wilayah udara Yordania, yang kemudian ikut melakukan operasi pencegatan bersama AS dan sekutunya. Mereka, negara-negara Arab, memilih menjadi pengecut yang munafik.

Yang jelas hari ini, perang Iran melawan Israel telah berubah jadi konflik regional dengan implikasi geopolitik yang kompleks. Sistem pertahanan buatan AS, seperti THAAD dan Iron Dome, dilaporkan memainkan peran penting dalam menahan sebagian besar serangan Iran. Perang Iran melawan Zionis dan para aliansinya memperlihatkan adanya arsitektur keamanan regional yang secara de facto menghubungkan Israel dengan beberapa negara Arab, yang mengaku Sunni padahal aslinya Wahabi.

Karena itu, ada pertanyaan yang penting diajukan secara ideologis: mengapa konflik Iran melawan Israel justru memicu kegelisahan orang-orang Wahabi, seolah mereka kebakaran jenggot? Secara historis, wacana politik di negara Arab dibangun di atas narasi anti-Zionisme. Namun, beberapa dekade terakhir, musuh utama elite Teluk bergeser dari Israel ke Iran. Pergeseran narasi itulah yang membuka ruang bagi perubahan aliansi yang tidak diterka: berkomplot dengan Zionis.

Fenomena tersebut semakin jelas setelah normalisasi hubungan sejumlah negara Arab dengan Israel melalui Abraham Accords pada 2020. Kesepakatan tersebut menunjukkan, kekhawatiran bersama terhadap Iran di kawasan telah mendorong sebagian negara Teluk untuk membangun kerja sama dengan Zionis Israel. Iran di-framing sebagai ancaman stabilitas regional, sebuah label yang pada masa lalu justru lebih sering diarahkan kepada Israel itu sendiri.

Perang yang kini memanas justru menunjukkan paradoks geopolitik Timur Tengah. Ketika Iran melancarkan serangan terhadap Israel dan fasilitas militer Barat, negara-negara Teluk yang sok Sunni justru semakin mesra dengan Israel. Maka di sini menarik untuk ditanyakan: jika Iran sedang berperang melawan Zionisme, mengapa orang Wahabi justru tampak kebakaran jenggot? Apa yang Wahabi sembunyikan, di luar permusuhan ideologis, hingga memilih pro musuh Islam?

Permusuhan Teologis dan Narasi Anti-Iran

Permusuhan orang-orang Wahabi atas Iran memiliki akar histori teologis yang panjang. Wahabisme yang berkembang di Arab sejak abad ke-18 oleh Bin Wahhab dibangun di atas proyek purifikasi agama yang manipulatif. Dalam ideologi Wahabi, praktik keagamaan yang dianggap menyimpang dari pemahaman tauhid yang “murni” akan dilabeli bid‘ah, syirik, kafir, dan pelakunya halal dibunuh. Dalam literatur Wahabi, Syiah dicap dengan istilah teologis tersebut: sesat dan kafir.

Karena itu, sejak awal kemunculannya, Wahabisme memandang pengikut Syiah sebagai ancaman teologis terhadap ortodoksi palsu yang mereka klaim. Ketegangan semakin tajam pasca-Revolusi Iran, yang menjadikan Syiah sebagai ideologi resmi negara. Revolusi Iran memperkenalkan model negara yang memadukan ideologi revolusioner, agama, dan perlawanan terhadap dominasi Barat. Sejak itu, rivalitas Iran dengan para pengecut elite Arab di Teluk berkembang jadi ‘perang dingin regional’. Wahabi menganggap Iran sebagai ancaman ideologis yang perlu dimusuhi.

Narasi tersebut kemudian diperkuat oleh berbagai konflik proksi di Timur Tengah. Perang di Suriah, konflik di Yaman, serta ketegangan di Lebanon direpresentasikan sebagai bukti bahwa Iran sedang membangun jaringan pengaruh regional melalui kelompok-kelompok sekutunya. Negara-negara Teluk memakai istilah ‘ekspansi Syiah’ atau ‘bulan sabit Iran’ sebagai retorika permusuhan melebihi kebencian mereka terhadap Zionis dan Barat. Di Indonesia pun, orang Wahabi jadi agen pro-Zionis.

Akibatnya, fokus permusuhan mengalami pergeseran signifikan. Sejak awal abad ke-21, retorika anti-Iran mendominasi di berbagai forum politik. Media, lembaga keagamaan, dan jaringan propaganda politik di sejumlah negara Teluk menggambarkan Iran sebagai aktor destabilizing konflik sektarian di kawasan. Perlawanan Iran terhadap Israel pun sering dilihat sebagai kepura-puraan yang tak perlu dicampuri. Ustaz-ustaz Wahabi yang munafik, seperti Khalid Basalamah, menebar narasi itu.

Ketika Iran jadi satu-satunya kekuatan paling vokal menentang Zionis AS-Israel, orang Wahabi justru memandang konflik tersebut dengan kecurigaan yang hipokrit. Bagi mereka, kesuksesan Iran menggalang dukungan terhadap agenda anti-Zionisme berpotensi memperkuat legitimasi politik Teheran di dunia Muslim. Karena itu, permusuhan ideologis terhadap Iran melampaui solidaritas terhadap perjuangan melawan Zionis Israel. Narasi anti-Iran pun disebar Wahabi secara masif.

Narasi Sunni vs Syiah menggema di mana-mana, melunturkan persatuan umat, dan Wahabi jadi kelompok paling tidak tahu malu untuk menebar kebencian. Semua ustaz Wahabi kompak, sama-sama munafik, sama-sama pro-Barat dan Israel, daripada bersolidaritas dengan sesama Muslim di Iran. Lahirlah kemudian fenomena paradoksal. Permusuhan ideologis terhadap Iran justru membuka ruang konfigurasi aliansi Wahabi dengan para Zionis; sama-sama jadi budak Zionisme.

Aliansi Wahabi dengan Zionisme

Padahal, jika ditelisik, negara-negara Teluk selama puluhan tahun mengusung retorika anti-Zionisme, namun hari ini malah satu kolam dengan Zionis Israel. Perubahan tersebut boleh jadi telah melalui proses panjang akibat meningkatnya persepsi ancaman terhadap Iran. Iran diposisikan sebagai ancaman strategis utama bagi stabilitas kawasan, terutama oleh negara-negara yang berada dalam orbit politik Arab Saudi dan ideologi resmi mereka: Wahabi.

Sejak Abraham Accords, dan utamanya beberapa tahun terakhir, relasi Israel dan sejumlah negara Teluk berkembang signifikan, terutama dalam bidang intelijen, teknologi militer, dan pertahanan udara. Israel dikenal memiliki jaringan radar dan sistem intersepsi yang mampu menghadapi ancaman rudal balistik dan drone. Bagi negara-negara Teluk yang merasa rentan, itu sangat berharga. Karena itu, normalisasi dengan Israel dipandang langkah pragmatis untuk pertahanan regional.

Perkembangan terbaru selama konflik Iran-Israel pada 2026 semakin memperlihatkan realitas baru tersebut. Ketika Iran melancarkan gelombang serangan rudal dan drone ke berbagai target di kawasan, sistem pertahanan udara yang terkoordinasi antara AS, Israel, dan beberapa negara Arab dilaporkan aktif mencegat proyektil yang melintas di wilayah udara Teluk. Meski persekongkolan tak diumumkan secara terbuka, koordinasi militer semacam itu adalah bukti yang tak terbantahkan.

Ironi geopolitik pun semakin jelas terlihat. Di satu sisi, retorika orang Wahabi masih sangat keras dalam mengkritik Iran dan memperingatkan bahaya ekspansi Syiah. Namun di sisi lain, strategi menghadapi ancaman Iran justru membawa negara-negara asal mereka semakin mesra dengan Israel, simbol utama penjajahan dunia Arab. Negara-negara Sunni Arab tampak dibajak Wahabi dan direorientasikan untuk pro-Zionis; mempertontotan kemunafikan mereka yang memalukan.

Itulah konfigurasi aliansi terbaru antara Wahabisme dengan Zionisme. Dan parahnya, propaganda anti-Iran telah membuat umat terpecah, tidak bersatu, untuk memerangi ancaman yang sebenarnya, yakni Barat dan para Zionis. Perang Iran melawan Zionisme malah disikapi orang-orang Wahabi bak ‘kebakaran jenggot’. Karenanya, hari ini, sangat jelas, bahwa Wahabi adalah proksi Barat dan Zionisme untuk mencegah persatuan umat dan menghancurkan kekuatan Islam dari dalam.

Maka, dalam situasi gonjang-ganjing geopolitik seperti saat ini, tidak ada ideologi yang lebih perlu diperangi daripada Wahabisme. Dalam satu titik darurat untuk menjaga persatuan umat, orang-orang Wahabi wajib dilawan. Dan sebagaimana mereka menghalalkan darah sesama Muslim, seluruh orang Wahabi di Indonesia, bukan berlebihan, juga halal darahnya. Mereka yang kebakaran jenggot saat Muslim lain sibuk memerangi musuh Islam adalah bagian dari musuh itu sendiri!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post