Harakatuna.com – Tinggal menghitung hari, masyarakat Indonesia akan memasuki Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Tentu, masyarakat Indonesia akan dihadapkan dengan pilihan-pilihan yang membingungkan, kira-kira siapa yang layak untuk dipilih menjadi pemimpin dan tidak. Ketika sudah memilih, masyarakat dihadapkan dengan masalah yang lebih rumit lagi, yaitu menghadapi perbedaan pilihan dengan orang terdekat, entah keluarga, atau teman dekat.
Perbedaan memilih calon pemimpin adalah sesuatu yang wajar dan lumrah. Tapi, yang bikin rumit adalah menyikapi perbedaan ini. Jika bijak menyikapi perbedaan, maka perbedaan itu akan menjadi rahmat, atau seni berpolitik yang menghadirkan keindahan. Sebaliknya, jika tidak bijak, maka perbedaan dianggap sebagai perlawanan, sehingga di situ tercipta kerenggangan.
Timbulnya kerenggangan adalah awal dari terjadinya perpecahan. Biasanya akan terjadi perselisihan bahkan percekcokan sana-sini. Disebut orang yang berbeda adalah musuh dan lawan yang harus dijatuhkan dan dikalahkan. Bahkan, kalah pun tetap dianggap musuh, entah mungkin sampai Kiamat tiba. Sungguh sangat miris sekali kehadiran isu politik yang tidak disikapi dengan bijak.
Maka, bersikap bijak pada perbedaan pilihan dalam politik harus ditanamkan dalam benak masing-masing bangsa. Agar mereka paham bahwa hidup pasti dihadapkan dengan perbedaan pandangan dan keyakinan. Itu hal yang lumrah. Bukankah terciptanya manusia bermulai dari bertemunya perbedaan unsur penciptaan, yaitu sperma laki-laki dan ovum perempuan? Bayangkan jika perbedaan itu tidak bertemu, pasti tidak bakal lahir manusia.
Bijak dalam menyikapi perbedaan pilihan hendaknya dibarengi dengan nilai-nilai ukhuwah atau persaudaraan. Seluruh manusia harus disadarkan bahwa semua manusia tanpa terkecuali, apalagi hanya yang berbeda dalam urusan politik, adalah saudara. Sebagai saudara, saya teringat pesan Prof. Quraish Shihab bahwa: “Saudara itu adalah Anda dalam sosok yang lain. Jadi, jika saudaramu salah, maka Anda jangan marah, karena Anda juga bisa salah.”
Pesan ini menguatkan antar sesama manusia dalam memegang persaudaraan di tengah perbedaan. Konsep ukhuwah menjadi sesuatu yang menarik untuk menyatukan perbedaan. Sebab, dengan ukhuwah manusia tahu bahwa rasa senang dan sakit yang menimpa saudara kita, kita harus sama-sama merasakan. Jangan sampai di sana ada kebahagiaan di atas kesedihan orang lain.
Islam menekankan pentingnya menegakkan persatuan. Bahkan, ini menjadi perintah wajib yang disebutkan lebih awal sebelum disampaikannya larangan terjadi perpecahan. Karena, Islam mengajarkan kehati-hatian bahwa jangan menunggu menyesal dulu baru sadar, tapi sadar sebelum menyesal. Ini adalah sikap yang dimiliki orang yang bijak. Bukankah orang yang bijak selalu belajar dari kesalahan orang lain, bukan diri sendiri yang harus melakukan kesalahan baru menyadari.
Tentang persatuan disinggung pada Sila 3, yang berbunyi: “Persatuan Indonesia.” Sila ini mengingatkan kembali bahwa seluruh masyarakat Indonesia adalah saudara setanah air. Tidak boleh mencela satu sama lain. Mereka juga tidak boleh merendahkan yang lain. Bangunlah persatuan di tengah perbedaan agar rahmat itu benar-benar terasa manisnya.
Selain itu, belajar menghargai perbedaan. Menghargai itu adalah bentuk penghormatan terhadap keputusan orang lain. Dengan sikap menghormati ini toleransi dengan sendirinya akan terbangun. Mereka akan merasa tidak setuju jika keputusan atau sikap orang lain diganggu. Karena, masing-masing orang memiliki hak dan kewajiban. Hak mereka menyampaikan pendapat, kewajiban kita menghormatinya.
Sebagai penutup, berhati-hati dalam menghasilkan perbedaan pilihan dalam politik. Tidak boleh perbedaan ini menjadi sebab timbulnya perpecahan. Dengan perbedaan, kita semakin tambah bersatu, bukan berpecah belah.[] Shallallahu ala Muhammad.








Leave a Comment