Harakatuna.com. Aceh Besar – Sub Koordinator Penelitian dan Evaluasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI), Teuku Fauzansyah mengatakan, masyarakat Aceh perlu meningkatkan kapasitas literasi, utamanya literasi digital. Salah satu cara yang mudah ditempuh adalah memiliki nalar kritis, meragukan setiap informasi sampai dengan terkonfirmasi melalui sumber yang terpercaya.
“Hal ini penting dalam mereduksi penyebaran paham radikal terorisme. Perlu disadari adanya transformasi kelompok teror,” ujar Teuku Fauzansyah pada acara Kenali Diri dan Lingkungan Sendiri (Kenduri) Desa Damai yang digelar BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh di Gampong Suka Tani, Permukiman Jalin, Kota Jantho, Aceh Besar, Kamis, 30 Mei 2024.
Menurut Fauzan, dahulu penyebaran paham radikal terorisme menggunakan cara-cara konvensional. Saat ini upaya tersebut dilakukan melalui saluran digital, khususnya media sosial, seperti WhatsApp, Telegram, Youtube, dan lainnya.
“Intinya jangan langsung mudah percaya dengan segala informasi, karena di antara tsunami informasi itu bisa jadi ada hoax, konon hoax diproduksi oleh orang pintar tapi jahat, tapi kemudian disebarkan oleh orang baik tapi naif,” kata Fauzan mengingatkan.
Lebih lanjut Fauzan menjelaskan bagaimana strategi itu dipakai oleh kelompok radikal terorisme untuk membentuk opini dan dukungan publik. Menurutnya, semburan kebohongan itu biasanya memiliki ciri pesan berantai, sistematis, dan masif.
“Konon lagi semburan kebohongan itu apabila dilakukan terus-menerus bisa jadi akan dianggap sebagai kebenaran, mesti diwaspadai dengan literasi,” ujar Fauzan.
Kata Fauzan, anak tangga terorisme berawal dari intoleransi dan radikalisme. Terorisme tidak muncul tiba-tiba tanpa didahului proses radikalisasi.
Menurutnya, belum tentu intoleran dan radikalisme itu pasti akan jadi terorisme. Akan tetapi bila dibalik, terorisme dipastikan berawal dari intoleransi dan radikalisme.
“Pencegahan terbaik sedari hulu, jangan sampai seseorang menjadi radikal, lebih baik lagi jangan sampai orang menjadi intoleran,” pungkas Fauzan.
Kegiatan program Kenali dan Peduli Lingkungan Sendiri (Kenduri) selain menghadirkan Teuku Fauzansyah, kegiatan ini juga dihadiri oleh praktisi film dan akademisi Dyah Kusumawati, dan Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Aceh Besar Sofian.
Hadir pula Bendahara FKPT Aceh Dedy Adrian, Kabid Hukum, Media Massa & Humas Wiratmadinata, mantan narapidana terorisme Surya dan Aulia, serta 100 peserta dari berbagai elemen masyarakat dan perangkat Gampong.








Leave a Comment