Harakatuna.com – Pergantian estafet kepengurusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dari Komisaris Jenderal Polisi (Komjen Pol) Rycko Amelza Dahniel kepada Inspektur Jenderal Polisi (Irjen Pol) Eddy Hartono (Rabu, 11 September 2024), diharapkan dapat membawa angin segar.
Sebab, hari ini adalah era AI. Era baru ini tidak cukup hanya sekadar mengkoordinasikan dan melaksanakan upaya penanggulangan terorisme di antara kelompok, tetapi juga harus tahu cara bermain dengan teknologi yang maha canggih ini.
Estafet BNPT Maksimal?
Pergantian estafet kepengurusan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), bukan sekadar pergantian orang, tetapi lebih dari itu juga pergantian tantangan. Di era kecerdasan buatan (AI) ini, BNPT harus siap berperang melawan musuh yang tak kasat mata. Dengan AI mereka bisa meremot berbagai bahaya yang mereka sukai dan tuju.
Kita pernah mendengar drone canggih milik militer negara seberang sana. Tapi kita juga mendengar drone berbahaya milik para kombatan teroris. Di kelompok militer dan teroris mereka sama-sama tahu bagaimana drone bisa diterbangkan dan cara membunuh orang. Lalu bagaimana dengan kita?
Dengan peralihan kepemimpinan Irjen Pol Eddy Hartono kita bisa siap dengan segala ancaman terorisme di era AI ini. Memerangi dan menanggulangi terorisme di era AI ini adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Jika BNPT dalam penguasaan teknologi dan informasi macet, maka siap-siaplah masyarakat Indonesia tenggelam dalam lautan derita.
Ingat, AI memberikan banyak keleluasaan bagi kelompok-kelompok teroris untuk menyebarkan propaganda, merekrut anggota baru, dan merencanakan aksi terorisme. Karena itu, BNPT harus lekas mengubah strategi dan taktik cara menanggulangi radikalisme dan terorisme.
Kita sama-sama tahu, dalam dekade terakhir, kelompok radikal dan teroris bertransformasi secara signifikan dalam metode dan strategi mereka melalui AI. Tragisnya, masyarakat kita belum tahu apa itu media sosial dan media nyata. Karena itulah mereka sangat rentan dari terpaan informasi dan pengetahuan yang sengaja disebarkan oleh kelompok radikal terorisme melalui AI. Inilah fakta tantangan yang harus dihadapi BNPT dan bangsa Indonesia secara bersama.
Sudah terlalu banyak bukti korban yang berjatuhan akibat kecanggihan AI. Kelompok radikal menjangkau audiens global dengan cepat. Akhirnya, mereka bergerak tanpa dipandu oleh kelompok dan amir. Mereka memilih aksi mandiri (lone wolf) dengan cara memanfaatkan AI.
Fitur AI yang Dimanfaatkan Teroris
Mengutip Abdul Malik di (Jalandamai, 2024), ada beberapa fitur AI yang bisa dimanfaatkan oleh kelompok radikal dalam menyebarkan propaganda mereka:
Pertama, Analisis Data Besar: AI mampu menganalisis jumlah besar data dari media sosial untuk mengidentifikasi individu yang menunjukkan minat pada konten radikal. Dengan algoritma pembelajaran mesin, AI dapat mengklasifikasikan dan menargetkan individu-individu ini dengan konten propaganda yang disesuaikan.
Kedua, Natural Language Processing (NLP): Teknologi NLP memungkinkan AI untuk memahami dan memproduksi teks dengan cara yang sangat mirip dengan manusia. Ini dapat digunakan untuk menciptakan narasi yang menarik dan persuasif, serta berinteraksi langsung dengan calon rekrutan melalui chatbots.
Ketiga, Deep Learning dan Deepfake: Melalui teknologi deep learning, AI dapat membuat video atau audio palsu yang sangat meyakinkan. Deepfake dapat digunakan untuk membuat tokoh-tokoh publik tampak mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak mereka lakukan, yang dapat digunakan untuk menyebarkan disinformasi.
Keempat, Automasi Sosial: Bot AI dapat digunakan untuk membanjiri media sosial dengan pesan-pesan propaganda, meningkatkan visibilitas dan jangkauan konten radikal. Dengan fitur ini, kelompok radikal akan semakin menjangkau lebih luas audiens dengan menargetkan generasi muda.
Dengan melihat realitas seperti ini yang diharapkan hanyalah para pemangku kebijakan yang mengerti tentang teknologi tingkat tinggi. Sebab hanya merekalah yang mampu melihat kecanggihan inovasi teknologi. Paling tidak BNPT bisa memanfaatkan IA sebagai langkah preventif kelompok radikal-teror. Lebih penting dari itu, BNPT bisa memberikan kenyamanan dan keamanan bagi masyarakat Indonesia.








Leave a Comment