Penulis Terkenal itu Dulunya Adalah Seorang Pemula Juga

Juli Prasetya

29/11/2025

4
Min Read
Penulis Terkenal

On This Post

Harakatuna.com – Seperti juga karya seni pada umumnya, karya tulis atau karya sastra juga pada mulanya ditulis dengan semangat medikoer dan pemula juga. Tidak ada karya yang baru pertama kali dibuat oleh penulis pemula kemudian langsung bagus, langsung menjadi masterpiece, kecuali sedikit, seperti William Forrester yang menulis satu novel pertama dan terakhirnya yang memukau dan dia bisa hidup sejahtera dan mati dengan tenang dari sana. Tapi kebanyakan tulisan penulis pemula itu jelek. Tapi tak mengapa karena itulah yang disebut sebagai proses.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa semua itu membutuhkan proses, entah itu penulis, pelukis, pematung, atau penyanyi, mereka berproses dari tahap satu naik ke tahap lain. Dari satu tangga bawah, naik satu tangga perlahan menuju ke puncak. Begitulah penulis terkenal itu dulunya juga merupakan seorang pemula juga, pemula yang berbakat.

Dan memang itu sudah seharusnya dan sudah sewajarnya tahapan itu pasti akan dijalani dan dilalui oleh para penulis buruk, medioker, penulis-penulis pemula yang ketengan dengan karya-karya yang lebih ketengan lagi, semenjana. Tapi sekali lagi itulah yang disebut sebagai proses. Dan itu harus dialami oleh semua penulis pemula untuk kemudian waktu akan mematangkan mereka menuju proses menjadi seorang penulis dengan karya yang lebih baik, bagus dan lebih lumayan.

Tapi pertanyaannya adalah apakah waktu benar-benar lambat laun akan meningkatkan proses peningkatan kualitas penulis dan tulisannya? Hal ini pernah disinggung oleh A.S. Laksana dalam status Facebook-nya. Ia mengatakan bahwa ternyata ada seorang penulis yang selama 30 tahun menulis masih sama buruknya dengan 30 tahun yang lalu saat pertama kali ia menulis.

Ia menganggap bahwa penulis itu tidak melangkah ke mana-mana, karya-karyanya tetap menjadi karya semenjana. Dan kemudian si penulis tua itu perlahan digerogoti umur, lalu perlahan tulisannya sudah tidak sevital dulu, dan pikirannya di dalam karyanya akan dimakan oleh usia dan kepikunan. Begitulah akhir penulis yang menulis selama 30 tahun tapi karyanya masih jelek seperti 30 tahun yang lalu.

Ironis memang jika melihat kasus ini, namun kita sebagai seorang penulis, lebih-lebih penulis pemula, memang harus belajar untuk meningkatkan kapasitas diri maupun kapasitas karya dalam tiap prosesnya. Karena bagaimana pun juga penulis memang memiliki langkah-langkahnya sendiri, tiap penulis memiliki waktu dan prosesnya sendiri-sendiri, dan ini memang tidak bisa dibandingkan dan tidak bisa disamakan antara penulis satu dengan penulis yang lain.

Setiap penulis memiliki nasib—meminjam puisi Chairil Anwar, nasib adalah kesunyian masing-masing—sendiri-sendiri. Jadi memang ada penulis yang menulis dengan proses yang begitu cepat dan langsung bagus, tapi ada juga yang berproses lama, dan tetap menghasilkan tulisan yang buruk. Dan memang kita tidak tahu nasib penulis dan karyanya.

Kita hanya bisa menduga-duganya, bahwa karya itu kadang tidak menemukan pembaca yang semestinya, atau memang karya itu tidak berjodoh dengan pembaca mana pun. Atau memang karya itu hanya benar-benar buruk saja. Tapi saya percaya karya seburuk apa pun pasti suatu saat akan bertemu dengan para pembacanya.

Dalam budaya menulis kita dewasa ini, tugas penulis tidak hanya bertugas untuk menulis, dan menghasilkan tulisan yang baik dan bagus, tapi juga ikut serta dalam memasarkan dan mempromosikan anak ruhaninya itu kepada khalayak pembaca. Di era kiwari tugas seorang penulis juga nyambi dodolan, jadi sales, marketing, dan promosi karya-karyanya.

Maka penulis dituntut untuk bisa membuat video, pintar public speaking, jago mengedit, dan tetek bengek (content creator) lainnya. Lalu setelah membuat video promosi itu mereka memasarkan dan membantu menjual karyanya. Memang sekarang, tugas penulis ternyata tidak hanya menulis, tapi juga harus bersedia memperkenalkan, mempromosikan, dan menjual karya-karyanya kepada khalayak pembaca, khalayak publik.

Dan tentu saja sebagaimana bidang lain yang baru pertama kita pelajari, kita semua adalah pemula yang buruk, kita semua adalah seorang pemula di hadapan profesi baru, terhadap sesuatu hal yang baru, yang sebelumnya belum pernah kita kenal dan belum pernah kita lakukan selama hidup kita.   

Jadi jangan malu ketika dianggap menjadi seorang pemula, karena setiap orang ketika melakukan sesuatu yang baru adalah juga pemula, tak terkecuali seorang penulis. Jadi jangan malu dan minder ketika menjadi seorang penulis pemula yang memiliki karya yang jelek dan buruk, asalkan ada usaha dan keinginan untuk belajar memperbaiki kesalahan dan tulisan jelek atau buruk yang telah dihasilkan. Dengan kata lain, jangan berhenti dan menyerah untuk terus belajar dan berproses, dalam dunia kepenulisan atau seni yang lain, ini disebut sebagai proses kreatif.

Proses kreatif setiap orang pasti berbeda-beda. Namun tentu saja setiap proses harus ada sesuatu yang dituju, harus ada visi dan tujuan yang jelas, dan tidak serta merta memaklumi kesalahan dan mediokritas, tapi setiap waktu dan setiap prosesnya harus menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Menjadi seorang profesional dan ahli di bidangnya, adalah visi dan tujuan itu.

Dan itu juga berlaku di dalam dunia penulis, di dalam dunia kepengarangan. Dan jangan malu dianggap sebagai seorang pemula, karena para penulis terkenal itu awalnya dulu juga adalah seorang pemula, seorang pemula yang buruk bahkan. Tapi mereka terus belajar dan berproses agar terus menjadi lebih baik, dan lebih baik lagi.

Leave a Comment

Related Post