Pendidikan Agama Moderat Kunci Kebangkitan Nasionalisme di Era Digital

Ahmad Fairozi, M.Hum.

24/05/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Pendidikan agama yang moderat dinilai menjadi kunci penting dalam menumbuhkan semangat nasionalisme di tengah tantangan era digital. Hal ini disampaikan oleh Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. Bambang Qomaruzzaman.

Dalam keterangannya yang diterima di Jakarta pada Sabtu (24/5), Bambang menegaskan bahwa pendidikan agama yang moderat mampu melindungi generasi muda dari ancaman radikalisme, intoleransi, dan ideologi transnasional yang berpotensi merusak semangat kebangsaan.

“Pendidikan agama moderat bukan berarti mengubah ajaran agama itu sendiri, tetapi mengubah cara beragama agar lebih terbuka dan dapat diterima semua kalangan di ruang publik,” ujar Bambang.

Menurut Bambang, cara beragama yang moderat mengedepankan penghargaan terhadap perbedaan dan menjadikannya sebagai fondasi hidup bersama dalam masyarakat yang plural. Ia menambahkan bahwa moderasi beragama juga menjadi jembatan dalam memperkuat solidaritas antarumat beragama.

“Beragama secara moderat berarti menerima keberagaman sebagai modal hidup bersama, bukan sebagai ancaman,” jelasnya.

Namun demikian, Bambang menyoroti bahwa pendidikan agama saat ini cenderung kehilangan konteks sosial. Ia menyayangkan pendekatan pendidikan yang terlalu fokus pada aspek tekstual dan spiritual, tanpa mengaitkannya dengan realitas kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Ketika pendidikan agama hanya mengajarkan nilai-nilai spiritual tanpa membahas isu-isu sosial yang nyata, ajaran tersebut menjadi tidak relevan dan terasa kosong,” ungkap Guru Besar Ilmu Kebijakan Pendidikan ini.

Untuk itu, ia mendorong para pendidik dan tokoh agama agar mampu mengemas materi agama yang relevan dan kontekstual, agar generasi muda bisa memahami nilai-nilai agama sekaligus nasionalisme secara utuh.

“Beragama itu bukan hanya untuk mati, tetapi juga untuk hidup lebih baik dalam kehidupan sosial masyarakatnya,” tegas Bambang.

Bambang, yang juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama Jawa Barat, menilai bahwa eksklusivisme dalam beragama seringkali lahir dari sikap saling curiga. Karenanya, ia menekankan pentingnya hidup bersama dalam perbedaan sebagai langkah konkret untuk menumbuhkan sikap toleran. Lebih lanjut, ia menilai bahwa semangat nasionalisme akan tumbuh jika generasi muda memiliki pemahaman keagamaan yang inklusif dan moderat.

Menurutnya, kebangkitan nasional bukan hanya sekadar momen sejarah, tetapi juga panggilan untuk membangun solidaritas menghadapi tantangan masa kini. “Dulu, semangat kebangkitan nasional muncul karena ada kesadaran kolektif melawan kolonialisme. Hari ini, tantangan kita justru lebih kompleks, seperti intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Sayangnya, belum ada kesadaran bersama untuk menghadapinya,” ujarnya.

Di tengah tantangan global saat ini, pendidikan agama yang moderat, menurut Bambang, menjadi instrumen penting dalam menciptakan “kebangkitan nasional kedua” yang ditandai dengan semangat hidup bersama dan menjaga persatuan bangsa.

“Inilah peran penting pendidikan agama moderat—mendorong kesadaran hidup berdampingan dengan semua golongan demi kebangkitan nasional yang baru,” pungkas Bambang.

Leave a Comment

Related Post