Pendekatan Lunak-Keras, Kunci Sukses Tangani Terorisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

10/07/2025

3
Min Read
Eks Napiter Dukung Penuh Polri Berantas Radikalisme: “Jangan Takut Laporkan Ancaman Teror” Ahmad Fairozi BNPT

Harakatuna.com. Jakarta — Pakar terorisme Solahudin menilai bahwa Indonesia saat ini tengah berada dalam fase terbaik dalam sejarah penanggulangan terorisme. Menurutnya, keberhasilan tersebut tak lepas dari strategi kolaboratif yang diterapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, yang menggabungkan pendekatan tegas (hard approach) dan pendekatan persuasif (soft approach).

“Saya merasa bahwa ini adalah era terbaik dalam penanggulangan terorisme Indonesia,” ujar Solahudin dalam keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (9/7). “Kenapa saya bilang ini era terbaik? Karena program soft approach menurut saya sangat berhasil.”

Solahudin mencontohkan keberhasilan pendekatan lunak ini dengan bubarnya organisasi terorisme Jemaah Islamiyah (JI), yang selama ini dikenal sebagai salah satu kelompok paling mematikan di kawasan Asia Tenggara.

“Jemaah Islamiyah sebagai organisasi terorisme paling mematikan membubarkan diri. Tapi apakah itu terjadi secara alami? Tidak. Pembubaran itu adalah hasil dari intervensi deradikalisasi yang dijalankan oleh Densus 88,” jelasnya.

Menurutnya, pembubaran ini menunjukkan bahwa strategi lunak yang dirancang untuk menyasar akar ideologi kekerasan memiliki dampak signifikan dalam menekan eksistensi kelompok teror.

Pendekatan Ganda: Rehabilitasi dan Penindakan

Meskipun soft approach menjadi andalan, Solahudin menegaskan bahwa strategi hard approach tetap dijalankan secara konsisten, terutama untuk penindakan terhadap jaringan teroris yang masih aktif.

“Penegakan hukum tetap penting. Tapi keberlanjutan keamanan nasional itu sangat didukung oleh program-program seperti pendampingan terhadap eks narapidana terorisme, rehabilitasi psikososial, dan reintegrasi sosial,” terangnya.

Solahudin memaparkan data bahwa dari sekitar 2.000 mantan narapidana terorisme yang telah menyelesaikan masa hukumannya, sekitar 69 persen di antaranya kini telah meninggalkan paham radikal dan bersikap kooperatif terhadap program pembinaan pemerintah. “Jadi kalau Anda tanya, apakah ada harapan? Harapan itu sangat besar,” tegasnya optimis.

Selain fokus pada mantan narapidana, BNPT juga memperluas pendekatan lunak ke kelompok masyarakat yang rentan terpapar paham radikal, khususnya perempuan. Hal ini dilakukan mengingat meningkatnya peran perempuan dalam jaringan teror, mulai dari simpatisan hingga pelaku aktif dan penyebar ideologi dalam lingkungan keluarga.

Melalui edukasi, pelatihan keterampilan, dan pendekatan berbasis komunitas, BNPT mendorong perempuan untuk berperan sebagai agen perdamaian di lingkungannya. “Pendekatan ini tidak hanya bersifat preventif, tapi juga memutus rantai regenerasi ideologi kekerasan dari dalam rumah,” ungkap Solahudin.

Ia menambahkan, riset menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam membentengi keluarga dari pengaruh ideologi ekstrem. Oleh karena itu, perlindungan terhadap kelompok ini menjadi salah satu pilar penting dalam strategi pencegahan jangka panjang.

Di akhir keterangannya, Solahudin menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara ketegasan dan empati dalam menghadapi ancaman terorisme. “Dengan perpaduan pendekatan keras dan lunak yang semakin matang, serta perluasan sasaran deradikalisasi terhadap kelompok rentan seperti perempuan, Indonesia menunjukkan bahwa penanggulangan terorisme tidak hanya soal keamanan, tetapi juga soal kemanusiaan dan ketahanan sosial,” pungkasnya.

Leave a Comment

Related Post