Judul Buku: Layla, Seribu Malam Tanpamu, Penulis: Candra Malik, Penerbit: Bentang, Kota Terbit: Yogyakarta, Tahun Terbit: 2017,Tebal Buku: x + 262 hlm, ISBN: 978-602-291-384-9, Peresensi: Abdul Azis Fatkhurrohman.
Harakatuna.com – Di tengah riuh bising kehidupan sosial zaman ini, Candra Malik melalui novel Layla seolah hendak menyentil. Sebuah kondisi kehidupan yang tidak menentu. Tidak terseret arus deras perubahan. Porsi seimbang dalam pengaturan diri seorang pemuda yang penuh dengan ambisi dan ketidakseimbangan pencarian jati diri. Namun, sosok Lail hadir sebagai perawakan yang proporsional dan kokoh.
Tokoh yang ditampilkan meniti jalan sunyi tasawuf. Sesosok pemuda tujuh belas tahun, yang jatuh dalam pencarian makna spiritualitas batin. Mahasiswa yang dituntun kata hati demi kepuasaan pengetahuan terhadap Ilahi. Tidak sama sekali menarik diri dari kehidupan sosialnya, namun juga tidak terbawa arus dengan kebiasaan sebayanya.
Sosok belia ini tentu gamang pada mulanya. Lail ‘dilamar’ seorang mursyid, guna didaku menjadi murid. Sebuah kehormatan besar dalam tradisi tasawuf. Pandangan seorang guru atau dalam hal ini mursyid, tampak menyasar ke sisi paling dalam manusia. Namun, justru keadaan tersebut yang memantik setumpuk pertanyaan bagi Lail.
Kesanggupan yang ia ragukan pada awal pertemuannya dengan Suradira, guru pertamanya. Setumpuk kebingungan dengan apa yang akan berjalan kemudian. Bagaimana langkahnya setelah itu, mengingat usia yang masih terlalu dini dalam pikirannya, untuk menempuh keilmuan yang tidak banyak dilalui bagi manusia seusianya. Pemuda dan tasawuf; dua kata yang tidak banyak ditemukan kecuali melalui jalur formal perkuliahan, yang hari ini menjamur di kampus-kampus keIslaman.
Pertemuannya dengan Suradira, membuka pintu gerbang dalam perjalanan menuju berbagai pertanyaan yang semakin menumpuk. Ia bergerak dari satu perjumpaan spiritual ke perjumpaan lain, dari Suradira ke guru lain, mimpi menjadi pengalaman, serta penemuan-penemuan yang terjawab atas seabrek pertanyaan yang dipupuk dan dituntun oleh bisikan batin.
Termasuk dengan Layla; tokoh yang didapuk sebagai judul novel ini, namun tidak tampak dominan dalam cerita. Meski begitu, di titik tersebutlah sebuah makna pencarian membuncah kepada pembaca yang, patut untuk direnungkan kembali atas makna pencarian ini.
Pencarian Tak Bertepi
Sisi kehidupan sosial Lail sebagai seorang pemuda tak dihilangkan oleh Candra Malik. Sebagai seorang mahasiswa, ia normal dengan berbagai kesibukan pada umumnya. Di titik inilah, Malik ingin menampilkan keseimbangan. Bahwa seorang pelaku tasawuf, tetap mampu berjalan beriringan, antara tugasnya sebagai makhluk sosial dan salik.
Bukan menyepi di sudut-sudut sunyi pegunungan atau hutan, berlaku pasrah tanpa mengusahakan. Bukan mengabaikan tugas dan tanggung jawab sebagai makhluk sosial. Namun, justru bagaimana ia tetap normal dan mampu menyelaraskan antara pemahaman hakikat seorang hamba di tengah itu semua.
Layaknya, pemuda pada umumnya, ia juga merasakan cinta pada sesama makhluk. Perjumpaan tak sengajanya dengan Layla pada suatu majelis tasawuf di tanah rantau-perkuliahannya, menumbuhkan bibit perasaan yang tak biasa.
Di titik inilah permulaan rasa tersebut bermula. Ia ingin membangun cinta, pelengkap syariat jika nanti telah sampai pada kesiapannya. Dan di titik ini pula, ia berseberang pandang dengan orang tuanya. Harapan di mana ia akan dijodohkan dengan saudara sambung semasa kecilnya; Kinasih.
Namun, rasa itu pun hanya tumbuh dan terawat di sisi Lail. Tidak dengan Laila. Ia hanya angin di penghujung musim, yang kebetulan lewat dan menumbuhkan benih di kebun hati milik Lail. Layla justru berjalan ke arah lain. Bukan untuk cinta yang sama, namun guna menemui bagian yang selama hidupnya tak kunjung terjawab. Pertanyaan tentang siapa dirinya dan dari mana asal-usul sejatinya.
Lail dan Layla, dua tokoh yang sama-sama dihadirkan dalam pencarian. Namun dengan jalan yang sama sekali berbeda. Ketika Lail dilamar menjadi seorang murid, Layla justru melanglang buana untuk mencari sesosok guru yang mapan secara batin-keilahian. Lail yang terlanjur berniat membangun cinta, pada pertemuan tak sengajanya dengan Layla, mengantarkan pada kenyataan yang tak bertepi.
Perjumpaan kedua hamba tersebut pada akhirnya, dipertemukan dalam sebuah situasi yang sungguh emosional. Dua sisi tersebut dihadirkan untuk perenungan, guna semakin memberikan penegasan pada sisi seorang pencinta. Bahwa, tiada yang berhak benar-benar dicintai kecuali sang Maha Pemilik Kasih. Jalan keduanya pun, seolah sampai namun tidak dihentikan dengan titik, melainkan perjalanan yang menyisakan tujuan untuk terus dilanjutkan; pencarian tak bertepi, sebagai seorang salik sejati.
Konsekuensi Seorang ‘Pencinta’
Jalan tasawuf yang banyak dipilih sebagai pelarian, menunjukkan hakikat yang kontras dalam cerita Candra Malik. Tasawuf tidak ditampilkan sebagai jalan yang steril, tenang nun pasti. Melainkan penuh ketegangan, kebingungan bahkan ketakutan. Lail tidak digambarkan sebagai sosok yang langsung tercerahkan, tetapi sebagai manusia yang terus-menerus ragu terhadap apa yang ia alami.
Di titik ini Candra Malik mengangkat dimensi penting yang sering terlewat dalam wacana spiritual populer: bahwa kedekatan dengan Tuhan justru kerap melahirkan rasa takut, bukan rasa aman. Ketakutan akan syirik, ketakutan akan salah jalan dan ketakutan akan diri sendiri. Bukan sebagaimana keagamaan hari ini yang jamak ditemui, ketika spiritualitas sering dikemas sebagai solusi instan yang menenangkan, padahal pengalaman batin yang jujur justru sering mengguncang.
Novel Layla mengingatkan bahwa iman tidak selalu identik dengan kepastian, dan bahwa kebingungan bukan tanda lemahnya keyakinan, melainkan bagian dari perjalanan rohani. Dalam dunia yang gemar membagi segalanya ke dalam kategori benar-salah secara kaku, novel ini membuka ruang abu-abu: ruang di mana manusia beriman tetap bisa gelisah, bertanya dan bahkan takut. Semakin seseorang mendekati wilayah keilahian, semakin ia dipaksa berhadapan dengan kejujurannya sendiri. Selamat membaca dan merenungkan!









Leave a Comment