Pemerintah Dorong Pendidikan Karakter dan Toleransi melalui Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Ahmad Fairozi, M.Hum.

30/04/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta — Dalam upaya memperkuat karakter generasi muda dan membangun Indonesia yang damai dan inklusif, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mendorong penanaman nilai-nilai toleransi sejak dini melalui berbagai program pendidikan karakter. Salah satunya adalah peluncuran Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang dirancang untuk menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari anak-anak Indonesia.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan anak-anak yang unggul dalam bidang akademik, tetapi juga mencetak generasi yang memiliki karakter kuat dan toleran terhadap perbedaan. “Kami di kementerian berusaha agar generasi muda kita ini tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademis, tetapi juga memiliki karakter kuat, yang menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan kebersamaan,” ujar Abdul Mu’ti dalam diskusi daring yang dipantau dari Jakarta, Selasa (29/4/2025).

Ia menekankan bahwa karakter yang dimaksud mencakup kemampuan untuk hidup berdampingan secara damai dalam masyarakat yang beragam, tanpa diskriminasi atau prasangka. “Mereka harus tumbuh dengan semangat untuk bersama-sama membangun bangsa, dalam kehidupan sosial yang saling menghargai satu sama lain, terlepas dari perbedaan agama, budaya, atau latar belakang sosial,” tambahnya.

Sebagai bagian dari implementasi nilai-nilai tersebut, Kemendikdasmen memperkenalkan Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, yang mencakup: bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur lebih awal. Program ini bertujuan membentuk kebiasaan hidup positif yang mendukung pembentukan karakter sosial sejak usia dini.

Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa melalui gerakan ini, anak-anak akan terbiasa hidup dalam lingkungan yang mendorong interaksi sosial yang sehat dan inklusif, serta memahami pentingnya hidup bersama dalam harmoni. “Kita harus membangun lingkungan sosial yang memungkinkan anak-anak berinteraksi secara konstruktif dan menjadi bagian dari masyarakat yang inklusif,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa toleransi adalah fondasi utama kekuatan bangsa Indonesia. Keberagaman bukan penghalang, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama. “Indonesia menjadi bangsa yang kuat karena mampu menerima dan merayakan perbedaan. Toleransi bukan hanya nilai, tetapi kekuatan yang memperkokoh persatuan kita,” tutup Abdul Mu’ti.

Leave a Comment

Related Post