Pemcam Mandau Bersama Densus 88 Perkuat Sinergi Cegah Radikalisme dan Terorisme

Ahmad Fairozi, M.Hum.

29/11/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Mandau — Pemerintah Kecamatan Mandau menjalin kerja sama dengan Densus 88 Antiteror Polri untuk memperkuat langkah pencegahan radikalisme dan terorisme, terutama di kalangan generasi muda. Kolaborasi ini digagas setelah aparat antiteror menemukan adanya peningkatan kasus anak–anak yang terpapar paham radikal melalui aktivitas daring, termasuk media sosial dan gim online.

Dalam kegiatan sosialisasi yang digelar di Mandau, perwakilan Densus 88 menjelaskan bahwa pola perekrutan jaringan terorisme kini semakin banyak memanfaatkan ruang digital. Mereka mengungkap bahwa proses penarikan anggota sering kali dimulai melalui interaksi tanpa tatap muka, memakai media sosial, ruang obrolan gim, hingga grup-grup privat. Anak-anak usia 10 hingga 18 tahun disebut sebagai kelompok yang paling rentan terpengaruh karena aktif di dunia maya dan kerap kurang pengawasan.

Pihak Densus 88 menegaskan bahwa para perekrut umumnya memakai pendekatan bertahap: dimulai dengan komunikasi ringan, lalu mengarahkan calon korban pada materi-materi ideologis melalui ruang percakapan yang lebih tertutup. Mereka menyampaikan bahwa fenomena ini terus berkembang dan memerlukan kewaspadaan semua pihak, terutama orang tua dan institusi pendidikan.

Camat Mandau menyatakan bahwa pihaknya siap bersinergi dengan aparat antiteror. Ia menyampaikan bahwa pemerintah kecamatan akan berperan dalam edukasi masyarakat, penguatan literasi digital, dan peningkatan pengawasan terhadap aktivitas daring anak-anak. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah dan aparat keamanan sangat penting agar upaya pencegahan tidak hanya terjadi setelah ada kasus, melainkan sejak dini melalui penyadaran publik.

Selain itu, Camat menilai bahwa radikalisme bukan hanya isu penegakan hukum, tetapi juga tantangan sosial yang perlu ditangani melalui pendekatan komunitas. Karena itu, pihak kecamatan akan mendorong kerja sama dengan sekolah, tokoh masyarakat, serta organisasi pemuda untuk memastikan pesan pencegahan dapat menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

Di tingkat nasional, Densus 88 sebelumnya melaporkan bahwa ratusan anak telah terpapar paham radikal melalui internet selama beberapa tahun terakhir. Lonjakan ini dinilai sebagai dampak dari meningkatnya aktivitas digital tanpa pengawasan serta rendahnya literasi digital di sebagian keluarga.

Kerja sama Mandau–Densus 88 diharapkan dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam memperkuat langkah pencegahan di wilayah masing-masing. Pemerintah kecamatan menegaskan komitmennya untuk menjaga ruang digital anak muda tetap aman dan membentengi masyarakat dari ancaman ideologi ekstrem.

Leave a Comment

Related Post