Harakatuna.com. Beijing – Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai kelompok teroris ISIS masih menjadi ancaman serius global dengan terus merekrut pejuang teroris asing serta meningkatkan pemanfaatan teknologi baru dan teknologi yang sedang berkembang.
Pelaksana Tugas Wakil Sekretaris Jenderal Urusan Kontraterorisme PBB, Alexandre Zouev, menyampaikan hal tersebut dalam taklimatnya kepada Dewan Keamanan PBB. Ia mengungkapkan bahwa ISIS juga masih mampu menjaga aliran pendanaan melalui berbagai cara ilegal.
“ISIS mempertahankan akses terhadap sumber keuangan melalui penggalangan dana secara oportunistik, pemungutan pajak ilegal, serta praktik penculikan untuk meminta tebusan,” ujar Zouev.
Menurutnya, ISIS dan kelompok afiliasinya terus memperluas pengaruh di sejumlah kawasan Afrika, khususnya Afrika Barat dan wilayah Sahel. Perluasan ini dinilai memperparah instabilitas regional dan melemahkan kemampuan negara-negara setempat dalam menghadapi tantangan multidimensi.
“Upaya dan kapasitas nyata mereka untuk mengendalikan wilayah semakin memperburuk ketidakstabilan regional dan melemahkan kapasitas otoritas nasional dalam menangani tantangan keamanan, hak asasi manusia, dan pembangunan yang saling berkaitan,” katanya.
Di kawasan Timur Tengah, Zouev menegaskan bahwa ISIS masih aktif melakukan serangan di Irak dan Suriah. Kelompok tersebut dinilai terus berupaya menggoyang stabilitas serta pemerintahan yang sah di kedua negara.
Ia menambahkan, kondisi keamanan di Suriah masih sangat rapuh. ISIS disebut terus memanfaatkan kekosongan pemerintahan dan memperuncing ketegangan sektarian. Di sisi lain, situasi kemanusiaan di kamp-kamp pengungsian di wilayah timur laut Suriah juga dinilai memprihatinkan.
“Ribuan orang, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, masih menghadapi pelanggaran hak asasi manusia serta keterbatasan akses terhadap air bersih, pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan,” ujar Zouev.
Dalam taklimat tersebut, Zouev menekankan pentingnya negara-negara anggota PBB memperkuat kerja sama dengan PBB, khususnya dalam mendorong penggunaan teknologi baru secara bertanggung jawab untuk kepentingan kontraterorisme, sejalan dengan hukum internasional.
Ia juga menyoroti perlunya upaya serius dalam memberantas pendanaan terorisme, termasuk penyalahgunaan aset virtual, melalui pendekatan yang berbasis risiko dan proporsional. “Meningkatnya ancaman yang ditimbulkan oleh ISIS dan afiliasinya menegaskan pentingnya menjaga kerja sama global dalam upaya kontraterorisme,” katanya.
Zouev menegaskan PBB tetap berkomitmen untuk memberikan pengembangan kapasitas yang terarah serta bantuan teknis yang disesuaikan dengan kebutuhan negara-negara anggota dalam menghadapi ancaman terorisme.








Leave a Comment