Paus Fransiskus, Azan Magrib, dan Formalisme Keberagamaan Masyarakat

Ahmad Khairi

05/09/2024

5
Min Read
azan Magrib paus

On This Post

Harakatuna.com – Menkominfo jadi bulan-bulanan warganet lantaran dianggap mendiskreditkan Islam. Bagaimana bisa? Sebenarnya, masyarakat salah paham. Imbauan tersebut bukan dari Menkominfo. Imbauan itu disampaikan dalam surat yang ditandatangani Dirjen Bimas Katolik dan Dirjen Bimas Islam Kemenag, dan ditujukan ke Dirjen PPI Kemenkominfo pada Ahad (1/9) kemarin. Jadi, sudah jelas, bukan?

Dalam imbauan tersebut dikatakan,

“Kemenag menyarankan agar misa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus pada tanggal 5 September 2024 pada pukul 17.00 s/d 19.00 WIB disiarkan secara langsung dengan tidak terputus pada seluruh televisi nasional. Sehubungan dengan hal tersebut, mohon kiranya penyiaran azan Magrib dapat dilakukan dengan running text.”

Untuk diketahui, imbauan itu keluar setelah Panitia Kunjungan Bapa Suci Paus Fransiskus meminta agar Kemenag berkenan menjembatani komunikasi dengan organisasi keagamaan perihal penyiaran azan Magrib pada saat ibadah misa akbar di GBK. Bunyi imbauan jelas bukan memotong salat Magrib, namun untuk sekali itu saja menggantinya menjadi running text. Tetapi, mengapa itu memantik emosi sebagian Muslim?

Jawabannya adalah: formalisme beragama. Masyarakat Muslim Indonesia telah lama menjadi pemeluk agama mayoritas. Seiring waktu, keadaan tersebut menciptakan mindset formalistis, yang merasa seolah Islamlah agama yang paling wajib mendominasi di ruang publik. Mereka, kaum formalis itu, akan merasa terusik jika agama lain hendak meminta ruang kesetaraan, dan akan menganggapnya sebagai pendiskreditan Islam.

Penganut formalisme agama tidak berpikir, bahwa selama ini, boleh jadi umat Kristen juga terganggu dengan jeda azan Magrib. Mereka juga lupa, bahwa di negara ini, posisi Islam dengan agama-agama lainnya egaliter. Mental egois juga membuat kaum formalis lupa, bahwa imbauan running text azan Magrib itu hanya terjadi sekali saja karena ada Paus Fransiskus. Dan, selain itu, memangnya absennya azan Magrib itu merusak Islam?

Pentingkah Azan di TV?

Islam tidak akan rusak hanya karena TV tidak menayangkan azan. Catat itu! Islam akan rusak justru karena formalisme keberagamaan itu sendiri, yang mengerangkeng umat ke tataran perilaku-perilaku formalistis dan tidak substansial. Puluhan tahun azan lima waktu ditayangkan di TV, apakah moral umat Islam akan semakin baik? Tidak. Sekali lagi, tidak sama sekali. Azan itu, jujur saja, formalitas belaka.

Di Jakarta, kafe-kafe tetap ramai tanpa peduli azan bahkan tanpa peduli salat. Berapa banyak Muslim yang tergerak hatinya untuk salat hanya karena mendengar azan di TV? Atau, seberapa antusias mereka menunggu azan di TV setiap waktu? Jika jawabannya adalah tidak, maka mengapa para penganut formalisme merasa terusik dan intoleran dengan imbauan running text azan Magrib tersebut?

Penayangan azan setiap waktu di TV memang telah menjadi bagian dari siaran nasional. Namun, pentingkah tradisi tersebut untuk dipertahankan dalam konteks NKRI yang multikultural? Rasa-rasanya, penting untuk mempertimbangkan posisi azan di TV dalam kerangka pluralitas. Negara ini tidak hanya terdiri dari umat Islam, tetapi juga umat Hindu, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu.

Masing-masing pemeluk agama memiliki ruang yang setara untuk mengekspresikan keyakinan mereka. Sekalipun azan di TV tidak bisa dipandang sebagai upaya memaksakan nilai agama tertentu dan sekadar bentuk pengakuan terhadap identitas mayoritas, menghormati minoritas adalah sesuatu yang lebih krusial. Pancasila mengajarkan persatuan dalam perbedaan, menjamin kebebasan beragama bagi semua warga negara.

Pada intinya, menjaga tradisi azan di TV setiap waktu salat adalah baik dan penting, namun harus diposisikan dengan bijak dalam konteks NKRI yang majemuk. Tradisi tersebut dapat menjadi alat efektif untuk mengingatkan Muslim ihwal kewajibannya, namun wajib dilandasi prinsip moderasi, toleransi, dan penghargaan terhadap keragaman. Dalam konteks misa dengan Paus Fransiskus hari ini, azan running text jelas bukan masalah. Sama sekali tidak.

Masyarakat Indonesia mesti menyadari, tradisi azan di TV bukanlah simbol eksklusivitas atau dominasi agama tertentu, melainkan refleksi identitas nasional yang menghormati nilai-nilai keagamaan semua warga negara. Artinya, azan di TV mesti menjadi bagian penting dari upaya menjaga harmoni, kerukunan, dan persatuan di tengah kebhinekaan NKRI. Karena itu, formalisme keberagamaan harus ditentang dan dilawan.

Menyudahi Formalisme Agama

Polemik azan Magrib di tengah lawatan Paus Fransiskus di Indonesia—sekali lagi—bersumber dari mindset formalistis dalam keberagamaan Muslim tanah air. Landasannya kentara doktrin ideologis bahwa Islam wajib mendominasi sosial-keagamaan daripada agama-agama lainnya. Jelas, hal itu mesti disudahi dan dilawan, sebab formalisme agama hanya akan memperburuk citra Islam itu sendiri di mata dunia.

Dalam polemik azan Magrib hari ini, sikap moderat merupakan hal yang niscaya. Sebagaimana yang diutarakan oleh KH. Cholil Nafis dari MUI, “tidak masalah azan di TV diganti dengan running text demi menghormati saudara-saudara kita umat Katolik yang sedang misa. Itu pun azan elektronik, bukan suara langsung dari masjid. Azan di masjid tetap berkumandang sebagai ajakan salat yang sesungguhnya.”

Hal-ihwal perasaan terdiskreditkan itu tidak lain merupakan egoisme yang mesti diatasi. Tidak ada ruang, di negara ini, bagi masyarakat formalis yang ‘seenaknya berislam’ dan ‘merasa paling Islam sejagat raya’. Mempermasalahkan azan Magrib saat misa nanti merupakan mental penjajah yang tak boleh dibiarkan. Lagi pula, mereka yang mengkritik boleh jadi tidak pernah salat padahal ia inti dari azan itu sendiri.

Karena itulah, formalisme agama harus distop total. Misa akbar hari ini mesti menjadi simbol toleransi untuk memperbaiki citra Islam di hadapan seluruh umat beragama. Jangan sampai masyarakat terprovokasi formalisme keberagamaan yang seolah menawarkan pembelaan atas Islam namun justru merusak relasi Muslim dengan umat-umat lainnya. Jadi, sudahi formalisme beragama, silakan azan Magrib nanti menggunakan running text sebagai penghormatan kepada saudara setanah air yang sedang melakukan misa.

Wallahu A’lam bi as-Shawab…

Leave a Comment

Related Post