Penulis: Hamsad Rangkuti, Judul Buku: Panggilan Rasul: Kumpulan Cerpen, Editor: Misni Parjiati, Penerbit: Diva Press, Kota Terbit: Yogyakarta, Tahun Terbit: 2017, Tebal Buku: 172 Halaman, ISBN: 978-602-407-041-0, Peresensi: Jagad Wijaksono.
Harakatuna.com – Panggilan Rasul terbit pertama kali pada tahun 2016. Penulisnya, Hamsad Rangkuti, merupakan salah satu cerpenis Indonesia yang cukup berpengaruh. Hamsad merupakan penulis berbakat, dia melahirkan cerita-cerita yang berasal dari kejadian-kejadian yang benar-benar dialaminya, kemudian dimodifikasi supaya hadir sesuatu yang berbeda.
Secara garis besar, kumpulan cerita dalam Panggilan Rasul bertutur tentang kehidupan manusia dengan latar religiositas. Dengan memikat, Hamsad Rangkuti menghadirkan detail-detail yang mampu membuat cerita-cerita dalam kumpulan ini menjadi sangat menarik.
Ia menyuguhkan penjelajahannya terhadap kehidupan masyarakat kelas menengah ke bawah yang kerap kali terlupakan. Kita juga disuguhkan dengan keunikan hubungan antarmanusia dan dengan berani Hamsad Rangkuti mengeksplorasi berbagai bentuk hubungan ini dalam latar religiositas.
Yang Rasio, Yang Magis
Panggilan Rasul menceritakan tentang seorang tuan tanah yang telah kehilangan kedua orang putranya saat sunat. Kedua anaknya mati akibat pendarahan, tak lama setelah khitan. Dalam cerita tersebut, Sang Tuan Tanah kini mengkhitan anak ketiganya. Lasudin, khawatir putra ketiganya mengalami nasib yang sama dengan almarhum kedua kakaknya. Sang Tuan Tanah memanggil dokter dari kota; di sisi lain, sehari sebelum dilakukan khitan, ia mengadakan pesta dan mengundang seluruh warga kampungnya.
Hal itu dilakukan karena menurut istrinya kematian kedua anaknya akibat doa-doa buruk dari warga yang tak suka kepada sang suami, karena suaminya kikir, tamak, dan lintah darat. Dalam cerita ini kita dapat melihat bagaimana cara pandang orang kota dan orang kampung dalam menanggapi setiap kejadian, di mana orang kampung mengaitkan hal-hal buruk dengan sesuatu yang gaib, dan orang kota melalui karakter Si Dokter melihat hal-hal tersebut melalui kacamata ilmu dan pengetahuan.
Bila kita menggeser sudut pandang kita sedikit saja untuk melihat cerpen ini, kita dapat menemukan kritik yang tajam yang coba disampaikan oleh penulis. Secara tidak langsung kita diperlihatkan antara yang rasio dan yang magis melalui cara pandang Sang Dokter dan Istri Tuan Tanah dalam memandang kematian dua kakak Lasudin.
Antara yang rasio dan yang magis ini menunjukkan ada gap antara cara pikir orang kota dan orang desa. Gap ini bisa dilatarbelakangi oleh berbagai macam faktor, mulai dari tingkat ekonomi, akses terhadap informasi, dan juga pendidikan yang tidak merata, sehingga menimbulkan cara berpikir yang modern dan yang kolot.
Religiositas tak dikemas dalam nada-nada nyaring keagamaan saja oleh Hamsad Rangkuti; religiositas di sini kadang muncul dalam bentuk iman yang ragam dan agama Islam khususnya menjadi latar dalam beberapa cerita. Seperti dalam Panggilan Rasul, kita lebih banyak ditunjukkan oleh kepercayaan atau iman bahwa perbuatan buruk akan berakhir dengan kejadian buruk, walaupun di sisi lain ada pandangan rasional atas keburukan yang dialami keluarga Tuan Tanah itu.
Religiositas Sebagai Latar Cerita
Pada Salam Lebaran, cerita pertama sebagai pembuka kumpulan cerita Panggilan Rasul ini, bahkan religiositas lebih nampak sebagai latar cerita saja. Di sini diceritakan Suherman yang menguji kesetiaan kekasihnya, Sri, di kampung dengan menyamar sebagai orang lain yang berusaha menggodanya.
Letak religiositas dalam cerita ini hanya sebuah latar; kejadian tersebut terjadi menjelang lebaran. Walaupun lagi-lagi kita bisa menggali nilai lain jika kita menggeser sudut pandang kita. Bila kita geser sedikit, setidak-tidaknya kita dapat melihat upaya Hamsad Rangkuti meromantisasi hari raya melalui tokoh Suherman dan Sri.
Lalu bila kita geser lagi sudut pandang kita sedikit, kita dapat menemukan nilai-nilai atau value yang coba Hamsad Rangkuti sisipkan dalam cerita ini. Kita dapat melihat bagaimana sikap amanah yang ditunjukkan, atau kesetiaan yang ditunjukkan oleh Sri sebagai salah satu cerminan dari nilai yang dijunjung dalam agama.
Selanjutnya ada juga Santan Durian yang menghadirkan detail-detail sebagai salah satu kekuatan dalam cerita Hamsad Rangkuti,
“Mula-mula ketan diambil dari piring suguhan, dipindahkan seingin kita ke piring kecil yang dasarnya lebih dalam. Santan durian dituangkan ke atas ketan berikut beberapa butir biji durian beserta dagingnya. Kami lebih suka memakannya dengan cara bersuap, dan duduk di atas tikar pandan di lantai. Kaki kiri kami tekuk sehingga tempurung lutut sama tinggi dengan dagu. Piring kami angkat di tangan kiri yang sikunya kami topangkan di atas lutut. Ujung jari-jemari tangan kanan memisahkan sedikit ketan dari tumpukannya. Pisahkan daging durian dari bijinya yang sudah basah santan itu. Satukan dalam sejumput, sebanyak yang dipungut ujung jari, lalu disuap. Sebagai penutup, bila ada santan tersisa di piring, langsung kami tuangkan ke mulut.”
Hamsad Rangkuti begitu piawai dalam mendeskripsikan suatu kejadian melalui detail-detail seperti di atas yang pada akhirnya mampu menjadi fondasi atau kekuatan dalam ceritanya.
Kritik Terhadap Zaman
Yang tak kalah penting dalam kumpulan cerita ini adalah pesan moral dan kritik atas zaman yang coba diketengahkan oleh Hamsad Rangkuti, seperti dalam cerita Ayahku Guru Mengaji. Dalam Ayahku Guru Mengaji kita disuguhkan oleh realitas bagaimana kegiatan keagamaan, mengaji misalnya, mulai tergerus oleh teknologi.
Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi digambarkan sebagai penyebab dari menjauhnya orang-orang dari agama. Ketidaksiapan dan ketidakmampuan masyarakat kampung dalam menanggapi kemajuan dengan bijaksana membuat mereka lupa, televisi telah menelan mereka, dan menjauhkan mereka dari kegiatan keagamaan.
Dalam cerita ini tokoh Ayah yang perlahan-lahan kehilangan murid mengajinya hingga benar-benar tak ada lagi yang datang mengaji, bertahan untuk tidak menjadi penjual doa seperti yang ditawarkan oleh istrinya. Namun, keadaan semakin lama semakin mendesak dan mendorong tokoh Ayah yang telah banting setir dari guru mengaji menjadi penjual doa di makam.
Di akhir cerita Sang Ayah yang sudah rutin menjual doa di pemakaman umum diminta oleh seorang kaya untuk mengajari keluarganya mengaji. Akhir cerita menjadi tonggak kritik Hamsad Rangkuti terhadap zaman. Melalui cerita ini kita dapat melihat jelas bagaimana kegelisahan penulis terhadap perkembangan zaman yang bagai dua sisi mata pisau. Kemajuan teknologi dan kemajuan zaman tidak hanya memberi dampak positif tetapi di sisi lain juga menjauhkan kita dari nilai-nilai religiositas, bahkan moral.
Menjelajahi cerita-cerita dalam buku kumpulan cerita Panggilan Rasul akan membawa kita melihat bagaimana daki-daki kehidupan dan segala lekuk-liku kehidupan itu lahir dan dihadapi oleh manusia. Lebih jauh, melalui cerita-ceritanya Hamsad Rangkuti mengajak kita untuk menginsyafi bahwa kehidupan ini selalu bersanding dengan nilai-nilai religiositas dan moral. Menjadi sederhana dan bijaksana adalah jendela bagi kita untuk menerima hidup yang terkadang terasa begitu bajingan.








Leave a Comment