Harakatuna.com – Pernahkah kita bertanya, apa sebenarnya yang membuat Lailatul Qadar begitu istimewa dalam ajaran Islam? Mengapa malam ini disebut lebih baik dari seribu bulan, dan apa makna besar yang terkandung di dalamnya? Apakah kita sudah benar-benar memahami keutamaan serta hikmah yang Allah letakkan pada malam penuh kemuliaan ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut mengajak kita untuk mengenal lebih dalam hakikat Lailatul Qadar dan kedudukannya bagi umat Islam.
Lailatul Qadar sendiri tersusun dari dua kata, yaitu lailah yang berarti malam—waktu sejak terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar—dan al-qadr yang memiliki beberapa makna, seperti kemuliaan, keagungan, ketetapan, dan keputusan. Para ulama memiliki penjelasan berbeda terkait makna al-qadr pada malam ini.
Sebagian ulama memaknainya sebagai malam kemuliaan dan pengagungan, yaitu malam yang memiliki kedudukan sangat mulia di sisi Allah. Kemuliaan tersebut di antaranya karena pada malam itu Al-Qur’an diturunkan, para malaikat turun ke bumi, serta dilimpahkannya berbagai keberkahan, rahmat, dan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang menghidupkan malam tersebut dengan ibadah.
Hal ini termaktub dalam firman Allah dalam Q.S. Al-Qadr [97]: 1–5:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١ لَيْلَةُ الْقَدْرِۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ٣ تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ ٤ سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ٥
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatul Qadar. Tahukah kamu apakah Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.”
Dalam surah tersebut dijelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Lalu muncul pertanyaan, kapan sebenarnya Al-Qur’an diturunkan? Allah menjelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 185 bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan. Hal ini menunjukkan bahwa turunnya Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadar terjadi di bulan Ramadan. Dengan demikian, ayat dalam Surah Al-Baqarah tersebut menjadi penjelas (bayan) terhadap maksud Surah Al-Qadr mengenai waktu turunnya Al-Qur’an, sekaligus menegaskan bahwa Lailatul Qadar berada dalam bulan Ramadan.
Terkait waktu pastinya, Allah tidak menjelaskannya secara spesifik. Jumhur ulama berpendapat bahwa Lailatul Qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan. Pendapat ini didasarkan pada sejumlah hadis Nabi ﷺ, salah satunya riwayat dari Siti Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, Nabi ﷺ menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Namun demikian, terdapat riwayat dari Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Barang siapa yang beribadah sepanjang tahun, maka ia akan mendapatkan Lailatul Qadar.” Pernyataan ini seolah mengisyaratkan bahwa Lailatul Qadar dapat diraih sepanjang waktu.
Menanggapi hal tersebut, Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Semoga Allah merahmati Abu Abdurrahman (Ibnu Mas‘ud). Sesungguhnya ia mengetahui bahwa Lailatul Qadar berada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, tetapi ia ingin agar manusia tidak hanya bergantung pada malam tertentu saja.”
Para ulama memahami bahwa pernyataan Ibnu Mas‘ud bukan untuk menafikan pendapat tentang waktu Lailatul Qadar, melainkan sebagai pesan pendidikan spiritual yang mendalam. Ia ingin menanamkan kesadaran bahwa seorang hamba tidak seharusnya membatasi ibadah hanya pada waktu-waktu tertentu, tetapi senantiasa menjaga kedekatan dengan Allah sepanjang waktu.
Sebagai penutup, pernyataan Ibnu Mas‘ud dapat dipahami sebagai ajakan untuk melihat Lailatul Qadar tidak hanya dari sisi waktunya, tetapi juga dari sisi maknanya dalam kehidupan seorang muslim. Orang yang benar-benar meraih keberkahan Lailatul Qadar bukan hanya mereka yang beribadah pada satu malam tertentu, melainkan mereka yang menjadikan ibadah sebagai bagian dari kehidupannya sepanjang waktu.
Sebaliknya, keberkahan Lailatul Qadar akan tercermin dalam sikap hidup setelah Ramadan, yakni dengan terus menjaga ketaatan, memperbanyak amal saleh, serta memelihara kedekatan dengan Allah. Dengan demikian, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang dicari dalam hitungan waktu, melainkan nilai spiritual yang membentuk konsistensi ibadah seorang hamba sepanjang hidupnya.
Oleh: Nabil Azizy (Mahasantri Ma’had Aly Situbondo).









Leave a Comment