Pakar UI: Indonesia Berhasil Cegah Terorisme, Tapi Ancaman Masih Mengintai

Ahmad Fairozi, M.Hum.

05/06/2025

2
Min Read
Pakar UI: Indonesia Berhasil Cegah Terorisme, Tapi Ancaman Masih Mengintai

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Prof. Dr. Mirra Noor Milla, menilai Indonesia berhasil menekan aksi terorisme dalam dua tahun terakhir, dengan catatan nol serangan teroris. Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak berarti ancaman telah hilang sepenuhnya. “Ancaman terorisme masih ada, dan kita perlu memperkuat sistem deteksi dini untuk memitigasi potensi serangan sebelum terjadi,” ujar Prof. Mirra dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (5/6).

Menurutnya, tren terorisme ke depan justru akan semakin tersembunyi dan sulit terdeteksi, sehingga kewaspadaan nasional harus terus ditingkatkan.

Laporan terbaru dari The European Union Terrorism Situation and Trend Report (EU TE-SAT) 2024 mencatat bahwa meskipun tak terjadi serangan di Indonesia, pengalaman global menunjukkan bahwa upaya-upaya gagal maupun yang berhasil digagalkan tetap menjadi indikator penting. Uni Eropa sendiri mencatat 120 serangan teror sepanjang 2024, dengan serangan bermotif keagamaan sebagai yang paling berbahaya.

Sebagai contoh nyata potensi ancaman, Prof. Mirra menyinggung penangkapan seorang remaja berinisial MAS (18) oleh Densus 88 Anti Teror pada 24 Mei 2025 di Gowa, Sulawesi Selatan. MAS diduga merupakan anggota kelompok Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS. Selain itu, aktivitas penyebaran propaganda ISIS juga sempat ditemukan di Purworejo.

Prof. Mirra mengingatkan pentingnya menyeimbangkan rasa optimisme atas nihilnya serangan teror dengan kesadaran terhadap potensi bahaya laten. Ia menegaskan bahwa kelompok teroris terus beradaptasi dalam strategi dan struktur organisasi mereka. “Apa yang perlu kita lakukan adalah terus mengamati, mengobservasi, dan mengidentifikasi potensi risiko, termasuk lingkungan sosial yang memungkinkan terjadinya aksi terorisme,” tuturnya.

Mengacu pada hasil survei nasional Laboratorium Psikologi Politik tahun 2021, Mirra mengungkapkan bahwa daerah-daerah yang pernah mengalami konflik memiliki indeks potensi konflik tertinggi. Fakta ini, menurutnya, menjadi sinyal penting bagi pemerintah untuk memperkuat upaya mitigasi di wilayah tersebut. “Perlu pengamatan serius terhadap faktor-faktor yang berkembang di wilayah-wilayah bekas konflik itu, karena berisiko menjadi lahan subur bagi kekerasan ekstrem,” jelasnya.

Sebagai peneliti yang fokus pada isu terorisme, ekstremisme, dan radikalisasi, Prof. Mirra juga mengungkapkan bahwa fase ‘tenang’ dari kelompok teroris bukan berarti mereka menyerah, melainkan bisa jadi mereka sedang menerapkan strategi wait and see. “Ini adalah strategi rasional mereka untuk mempertahankan eksistensinya. Karena itu, penting bagi kita untuk tidak lengah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tantangan ke depan adalah membangun ketahanan sosial dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat — mulai dari keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pemerintah. “Sekarang adalah waktu yang tepat untuk fokus pada strategi pencegahan dan membangun daya tahan komunitas. Lingkungan yang inklusif akan mencegah individu rentan merasa terpinggirkan dan jatuh ke dalam radikalisasi,” pungkas Prof. Mirra.

Leave a Comment

Related Post