Netanyahu Tuduh Macron Dukung Terorisme Islam setelah Kritik Blokade Gaza

Ahmad Fairozi, M.Hum.

15/05/2025

2
Min Read
Netanyahu Tuduh Macron Dukung Terorisme Islam setelah Kritik Blokade Gaza

On This Post

Harakatuna.com. Yerusalem – Ketegangan diplomatik antara Israel dan Prancis meningkat tajam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron berpihak kepada kelompok teroris. Tuduhan itu muncul setelah Macron secara terbuka mengecam kebijakan Israel yang memblokir bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh kantor Perdana Menteri Israel pada Rabu (14/5/2025), Netanyahu menilai bahwa Macron telah menyuarakan narasi kelompok radikal dan melemahkan posisi Israel dalam perang melawan terorisme.

“Macron sekali lagi memilih untuk mendukung organisasi teroris Islam yang kejam dan menggemakan propaganda tercelanya, menuduh Israel melakukan pencemaran nama baik,” tulis pernyataan tersebut, sebagaimana dikutip oleh AFP dan Le Monde.

Netanyahu juga menuduh Macron gagal menunjukkan solidaritas terhadap demokrasi Barat yang tengah menghadapi ancaman terorisme. “Alih-alih mendukung kubu demokrasi Barat yang memerangi organisasi teroris Islam dan menyerukan pembebasan para sandera, Macron sekali lagi menuntut agar Israel menyerah dan memberi penghargaan kepada terorisme,” tambah pernyataan itu. “Israel tidak akan berhenti dan tidak akan menyerah.”

Pernyataan keras ini muncul sebagai tanggapan atas komentar Presiden Macron dalam wawancara televisi dengan TF1 yang disiarkan Selasa (13/5/2025). Dalam wawancara tersebut, Macron mengkritik keras blokade Israel terhadap bantuan kemanusiaan di Gaza, yang diberlakukan sejak 2 Maret.

“Apa yang dilakukan pemerintah Benjamin Netanyahu tidak dapat diterima. Tidak ada air, tidak ada obat-obatan, yang terluka tidak bisa keluar, dan dokter tidak bisa masuk. Apa yang terjadi sungguh memalukan,” tegas Macron.

Macron juga menekankan perlunya tekanan internasional, khususnya dari Amerika Serikat, untuk menghentikan kebijakan Israel yang dinilainya merugikan warga sipil.

“Kita membutuhkan Amerika Serikat. Presiden Trump memiliki pengaruh. Saya sudah berbicara keras dengan Perdana Menteri Netanyahu. Saya marah. Tetapi kenyataannya, mereka [Israel] tidak bergantung pada kita, mereka bergantung pada senjata Amerika,” ujarnya.

Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan berbagai lembaga kemanusiaan telah berulang kali memperingatkan mengenai krisis kemanusiaan yang memburuk di Gaza, dengan kelaparan dan kekurangan medis yang kian mengancam jutaan warga sipil.

Israel sendiri terus melanjutkan operasi militernya di seluruh wilayah Gaza sejak 18 Maret. Pemerintah menyatakan bahwa tindakan ini bertujuan menekan Hamas agar membebaskan para sandera serta menghancurkan infrastruktur militer kelompok tersebut.

“Perdana Menteri Netanyahu bertekad untuk mencapai semua tujuan perang Israel, termasuk pembebasan semua sandera kami, menghancurkan kemampuan militer dan pemerintahan Hamas, dan memastikan bahwa Gaza tidak akan pernah lagi menjadi ancaman bagi Israel,” demikian pernyataan dari kantor Perdana Menteri Israel.

Ketegangan ini menambah dinamika baru dalam hubungan Israel dengan sekutu-sekutu tradisionalnya di Eropa di tengah meningkatnya tekanan internasional untuk gencatan senjata dan bantuan kemanusiaan di Gaza.

Leave a Comment

Related Post