Harakatuna.com. Gaza – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara terbuka mengakui bahwa pemerintahannya telah mempersenjatai kelompok milisi lokal di Jalur Gaza. Dalam pernyataan yang disampaikan melalui sebuah video pendek di media sosial pada Juni lalu, Netanyahu membenarkan dukungan terhadap kelompok bersenjata yang disebut sebagai “Pasukan Populer”, yang diklaim bertujuan melawan pejuang Hamas.
“Apa yang salah dengan ini?” kata Netanyahu dalam video tersebut. “Ini hanya menyelamatkan nyawa tentara Israel.” Pernyataan ini disampaikan di tengah sorotan dunia internasional, terutama setelah Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menetapkan Netanyahu sebagai tersangka kejahatan perang.
Namun, Netanyahu tidak memberikan penjelasan rinci mengenai peran atau aktivitas Pasukan Populer tersebut di Gaza. Meski begitu, para pengamat menilai bahwa kelompok ini digunakan sebagai alat untuk melancarkan agenda pembersihan etnis di wilayah yang terkepung itu.
Sosok Abu Shabab dan Dugaan Keterkaitannya dengan Israel
Pasukan Populer dipimpin oleh Yasser Abu Shabab, seorang pria berusia 31 tahun dari suku Badui Tarabin di Gaza. Sebelum dikenal luas, Abu Shabab merupakan narapidana yang ditahan sejak 2015 atas tuduhan kejahatan narkotika, dan kabarnya melarikan diri dari penjara pada sekitar 7 Oktober 2023.
Menurut sejumlah analis, peredaran narkoba di Gaza banyak dikendalikan oleh jaringan penyelundupan melalui Sinai, Mesir, yang terafiliasi dengan kelompok ekstremis seperti ISIS. Hubungan ini memicu dugaan bahwa Abu Shabab juga memiliki keterkaitan dengan kelompok tersebut. Namun, dugaan afiliasi itu tampaknya tidak menjadi masalah bagi Israel. “Israel justru memanfaatkan figur seperti Abu Shabab untuk melaksanakan strategi kontrol dan dominasi di Gaza,” ujar analis Timur Tengah dari Al Jazeera, sebagaimana dikutip Republika, Rabu (13/8/2025).
Muhammad Shehada, peneliti tamu di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri, menyebut Abu Shabab sebagai sosok yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang mumpuni namun sangat aktif di media sosial. “Ia bahkan menulis opini di Wall Street Journal yang menyatakan bahwa warga Gaza telah muak dengan Hamas,” ungkap Shehada. “Padahal, dia tidak memiliki hubungan dengan masyarakat Gaza selama lebih dari satu dekade. Dia hanyalah sosok boneka.”
Menariknya, suku Tarabin tempat Abu Shabab berasal secara terbuka menolak peranannya di Gaza. Dalam pernyataan publik yang jarang terjadi, suku tersebut menyatakan bahwa mereka mengingkari dan tidak mendukung kerja sama Abu Shabab dengan Israel.
Dituding Menjarah Bantuan Kemanusiaan di Bawah Perlindungan Israel
Abu Shabab mulai dikenal luas setelah invasi darat Israel ke Rafah, Gaza Selatan, pada akhir Mei 2024. Sejak saat itu, kelompoknya disebut-sebut sebagai pelaku utama dalam penjarahan bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. “Gengnya mulai aktif sebulan setelah invasi dan menjadi kelompok dominan yang secara sistematis menjarah makanan dan bantuan, dengan perlindungan dari militer Israel,” kata Shehada.
Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa sekitar 90 persen truk bantuan yang memasuki Gaza telah dijarah. Awalnya, Israel menyalahkan Hamas atas peristiwa tersebut. Namun, kelompok kemanusiaan internasional membantah klaim itu karena tidak ditemukan bukti keterlibatan Hamas.
Sebaliknya, sebuah memo internal PBB yang diperoleh Washington Post secara langsung menyebut Abu Shabab sebagai “pemangku kepentingan paling berpengaruh di balik penjarahan bantuan secara sistematis dan masif” di Gaza.








Leave a Comment