Nasaruddin Umar Tekankan Pentingnya Moderasi Beragama Sejak Usia Dini

Harakatuna

23/03/2025

3
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Jakarta – Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menegaskan pentingnya penanaman nilai-nilai moderasi beragama sejak usia dini untuk membentuk karakter generasi masa depan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam kegiatan Pesantren Kilat (Sanlat) yang berlangsung pada 21 hingga 23 Maret 2025 di Masjid Istiqlal, Jakarta. Sanlat ini diselenggarakan oleh The Nusa Institut bekerja sama dengan Kementerian Agama Republik Indonesia, Badan Pengelola Masjid Istiqlal, Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar Office, dan Istiqlal Global Fund.

Dalam sambutannya, Nasaruddin Umar menekankan bahwa pendidikan nilai-nilai moderasi beragama harus dimulai sejak usia anak-anak. Menurutnya, ajaran Islam yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi semesta alam) mengajarkan tentang keseimbangan, keadilan, dan toleransi, yang merupakan nilai-nilai penting untuk ditanamkan pada generasi muda. Hal ini agar mereka tumbuh menjadi pribadi yang bijak dalam menyikapi perbedaan.

“Nilai-nilai moderat harus diajarkan sejak kecil. Jika anak-anak kita sudah terbiasa dengan sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan, maka bangsa ini akan kuat menghadapi berbagai tantangan zaman,” ujar Nasaruddin Umar di hadapan 39 peserta Sanlat yang berasal dari berbagai latar belakang pendidikan dan daerah.

Sanlat ini diikuti oleh peserta yang berusia antara 12 hingga 18 tahun. Para peserta tampak antusias mengikuti berbagai rangkaian kegiatan, yang mencakup materi keagamaan, diskusi sosial, dan literasi ekonomi.

Acara dibuka secara resmi oleh Dr. Saifuddin Zuhri, M.A., Direktur The Nusa Institut, yang menekankan tujuan dari kegiatan ini, yaitu untuk membentuk generasi ulama muda yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara mendalam, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa. “Kita ingin melahirkan pemimpin masa depan yang berakhlak mulia, cerdas, dan memiliki kesadaran sosial yang tinggi,” ujarnya.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah pemaparan yang diberikan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti. Dalam sesi yang bertajuk “Pengenalan Jenis-jenis Uang,” Destry menjelaskan sejarah dan perkembangan uang, jenis-jenis uang, serta peran uang digital dalam kehidupan modern.

Peserta Sanlat menunjukkan antusiasme yang tinggi dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada Destry mengenai keaslian uang, peredaran uang digital, hingga peran Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Suasana diskusi pun berlangsung interaktif dan penuh semangat.

“Santri dan generasi muda harus memahami literasi keuangan sejak dini. Pemahaman ini penting agar mereka bisa bijak mengelola keuangan dan terlibat aktif dalam pembangunan ekonomi yang inklusif,” ungkap Destry Damayanti.

Kegiatan Sanlat juga diisi dengan materi-materi keagamaan dari tokoh-tokoh agama nasional, termasuk pembelajaran mengenai akhlak, kepemimpinan, serta peran ulama dalam merawat persatuan bangsa. Para peserta dilibatkan dalam diskusi, simulasi peran sosial ulama, dan aktivitas ibadah bersama, yang memperkuat nilai spiritual dan kebangsaan.

Di penghujung acara, Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menutup kegiatan Sanlat dengan menyampaikan harapannya agar para peserta dapat menjadi pionir dalam mengedepankan moderasi beragama di lingkungan masing-masing. “Kalian adalah generasi penerus yang akan menjaga dan membimbing umat. Bawalah Islam yang damai dan toleran ke tengah masyarakat,” pesan Nasaruddin Umar kepada para peserta Sanlat.

Kegiatan ini tidak hanya bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai moderasi beragama dan keuangan, tetapi juga untuk mencetak pemimpin-pemimpin muda yang berintegritas dan memiliki komitmen terhadap pembangunan sosial dan ekonomi bangsa.

Leave a Comment

Related Post