Nabi Mengajarkan Wasatiah, Kaum Radikal Malah Ajarkan Terorisme: Waspada!

Ahmad Khairi

13/09/2024

5
Min Read
Wasatiah Nabi

On This Post

Harakatuna.com – Masih ingat buku Idārah al-Tawahhusy karya Abu Bakar Naji yang telah saya bahas secara serial beberapa tahun lalu? Buku tersebut berisi panduan strategis yang Al-Qaeda—dan kemudian diadopsi oleh ISIS—untuk menebar chaos atau kekacauan (savagery) di pelbagai wilayah untuk menciptakan instabilitas, yang kemudian dapat dieksploitasi untuk merebut kekuasaan. Spoiler-nya, itu buku yang super ekstrem.

Bagaimana tidak, dokumen tersebut merekomendasikan penggunaan kekerasan brutal, termasuk serangan terhadap warga sipil, penghancuran infrastruktur, dan pembunuhan yang membabi-buta. Tindakan seperti itu jelas bertentangan dengan prinsip Islam yang melarang agresi terhadap non-kombatan, anak-anak, perempuan, dan orang tua. Nabi Saw. tentu saja tidak mengajarkan kebrutalan dan terorisme. Justru, beliau mengajarkan moderasi.

Jadi terkadang saya heran, mengapa kelompok radikal masih banyak peminatnya sementara ajarannya jelas-jelas tidak sesuai ajaran Nabi? Nabi Saw. mengajarkan wasatiah, sementara kaum radikal malah mengajarkan terorisme. Di mana letak justifikasi klaim bahwa kekerasan dan teror sebagai bagian dari ajaran Islam? Doktrin takfīr, penculikan dan pemerkosaan sebagai taktik perang, pemboman, dan pembunuhan; dari mana itu semua?

Saya pikir seluruh umat harus sadar, kelompok-kelompok radikal-teror merusak citra Islam dan membawa malapetaka bagi umat Muslim di seluruh dunia. Mereka menggunakan narasi-narasi yang memelintir ajaran Nabi, membajak nas Al-Qur’an dan hadis, dan mengkafirkan siapa saja yang tak sejalan. Padahal, dalam sirah terekam jelas, Nabi Saw. berinteraksi penuh hormat dengan non-Muslim—hidup berdampingan dengan damai.

Sementara itu, kaum radikal terus meracuni pemikiran umat dengan kebencian; menciptakan polarisasi dan menggiring generasi muda ke jalan kekerasan dan kehancuran. Maka, di situlah umat tidak boleh lengah! Ini adalah panggilan untuk semua elemen masyarakat, dari pemerintah, ulama, akademisi, hingga masyarakat umum, untuk bersatu melawan kaum radikal. Umat Islam wajib waspada dengan ajaran terorisme!

Narasi-narasi yang menyimpang dari teladan wasatiah Nabi Saw. harus diberantas total. Gerakan bersama untuk mengedepankan ajaran Islam moderat, yang menekankan kasih sesama, keadilan, dan toleransi adalah niscaya. Upaya kontra-narasi harus diperkuat, dan pencerahan harus terus dilakukan terutama kepada generasi muda tengah jadi sasaran utama doktrin radikal-terorisme.

Sekali lagi, ini bukan saatnya lagi untuk diam atau sekadar menonton. Terorisme bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga ancaman ideologis yang bisa menyusup dan merusak dari dalam—menghancurkan Islam dengan mengaburkan sunah dan memecah-belah jemaah. Mari kita sebarkan ajaran Nabi ihwal kedamaian, persaudaraan, dan wasatiah sebagai pilar utama kehidupan negara-bangsa.

Wasatiah Nabi; Sebuah Teladan

Nabi Saw. adalah teladan paripurna ihwal wasatiah, atau moderasi, dalam segala aspek kehidupan. Wasatiah Nabi bukanlah konsep abstrak—apalagi proyek belaka—melainkan nilai yang mengejawantah dalam perilaku beliau sehari-hari. Nabi selalu berada di tengah antara dua titik ekstrem: tidak berlebihan dalam beribadah hingga mengabaikan dunia, dan tidak pula tenggelam dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat.

Sikap moderat tersebut terekam jelas dalam semua aspek kehidupannya, baik aspek ritual maupun sosial. Misalnya, ketika berinteraksi dengan non-Muslim, seperti Yahudi dan Nasrani di Madinah, Nabi tidak pernah mereka masuk Islam. Sebaliknya, Nabi menjalin hubungan baik, berdialog dengan bijaksana, dan memperlakukan mereka dengan adil. Islam ala Nabi, sesuai yang Al-Qur’an tuntunkan, menghargai keragaman umat beragama.

Prinsip wasatiah juga tercermin dalam cara Nabi menegakkan hukum dan keadilan. Beliau selalu memastikan setiap keputusan diambil secara adil dan bijaksana, mempertimbangkan kemaslahatan umum, dan tidak pernah otoriter. Nabi selalu menunjukkan sikap lembut dan mengedepankan pengampunan, terutama ketika menghadapi orang-orang yang pernah memusuhinya. Apakah wasatiah ala Nabi Saw. itu mempertontonkan inferioritas?

Tentu saja tidak. Sikap wasatiah bukanlah tanda kelemahan, justru kekuatan moral yang menjadikan beliau sebagai pemimpin paling dihormati oleh kawan maupun lawan. Karena itu, mengikuti jejak Nabi Saw. dalam menerapkan wasatiah bukan keniscayaan sebagai Muslim belaka, tetapi juga krusial dalam konteks keberagaman di Indonesia. Wasatiah adalah fondasi kokoh untuk membangun kerukunan dan mencegah radikal-terorisme.

Dengan menjadikan wasatiah sebagai prinsip hidup meneladani Nabi Saw., umat Muslim akan menjadi ‘orang Islam’ yang seutuhnya. Sebab, demikianlah hakikat Islam—moderat dan bijaksana. Meneladani wasatiah Nabi juga merupakan langkah awal untuk menutup celah masuknya ideologi radikal-teror yang mengancam persatuan dan kesatuan. Maka, mari menerapkan wasatiah karena meneladani Nabi dan lawan segala wujud terorisme.

Sikat Habis Kaum Radikal!

Kaum radikal yang menyebarkan ideologi kekerasan dan terorisme adalah musuh bersama yang harus dilawan dengan tegas—tanpa kompromi. Mereka telah menyimpangkan ajaran Islam yang hakikatnya mengajarkan kedamaian, kasih sayang, dan keadilan. Radikalisme, dengan segala bentuk kekerasannya, merupakan ancaman nyata bagi agama dan negara, mengancam stabilitas dan pluralitas yang notabene ciri khas Indonesia.

Nahasnya, radikal-terorisme berkembang dengan cara memanfaatkan ketidaktahuan, kebencian, dan ketidakpuasan sosial. Mereka mencuci otak generasi bangsa dengan ideologi kebencian dan narasi yang salah fatal tentang jihad dan kesyahidan. Dalam kondisi seperti itu, saya pikir urgen untuk melawan mereka melalui kontra-narasi kolektif yang konsisten. Seluruh umat harus dibuat sadar bahwa Islam yang mereka ajarkan adalah palsu dan sangat bertentangan dengan Islam yang Nabi Saw. ajarkan.

Sebagaimana berulang kali dikatakan, menyikat habis radikalisme bukan hanya tugas pemerintah atau polisi, tetapi juga setiap warga negara yang peduli akan Indonesia. Semua elemen masyarakat, mulai dari lembaga pendidikan, tokoh agama, hingga ormas wajib menyuarakan bahwa radikal-terorisme adalah pengkhianatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan esensi Islam yang moderat (wasath).

Dari situlah saya selalu mengajak seluruh Muslim untuk mempersempit ruang gerak kaum radikal dan memastikan bahwa generasi muda di tanah air tidak terjebak paham ekstrem. Jangan beri ruang sedikit pun bagi radikalisme untuk tumbuh dan berkembang. Sikat habis kaum radikal yang merusak citra Islam dan merongrong keutuhan NKRI! Siapa lagi yang akan menyelamatkan Islam dan negara, kalau bukan saya dan Anda sekalian?

Waspada dan selalulah berpegang dengan ajaran Nabi Saw. yang asli, yaitu wasatiah. Jika ada narasi yang mengatakan wasatiah bukan ajaran Islam, maka narasi tersebut telah berdusta, menyalahi sejarah, menyalahi sunah, dan jelas berniat merusak umat dengan menjauhkannya dari hakikat Islam itu sendiri. Lawan semua narasi yang mencoba merongrong kebenaran Islam. Sikat habis kaum radikal dan segala propagandanya.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post