Mujahid Desak Pakistan Usir atau Serahkan Pemimpin ISIS-K ke Afghanistan

Ahmad Fairozi, M.Hum.

13/10/2025

2
Min Read

On This Post

Harakatuna.com. Kabul – Juru Bicara Pemerintah Islam Afghanistan (IEA), Zabihullah Mujahid, mendesak Pakistan agar mengusir atau menyerahkan sejumlah pemimpin ISIS-Khorasan (ISIS-K) yang diduga bersembunyi di wilayahnya. Seruan ini disampaikan Mujahid menyusul meningkatnya ketegangan di sepanjang garis Durand akibat serangan udara dan bentrokan lintas batas.

Dalam pernyataannya, Mujahid menuding ada faksi di tubuh militer Pakistan yang sengaja menyebarkan propaganda negatif terhadap pemerintah Afghanistan. Ia menyebut faksi tersebut merasa tidak nyaman dengan capaian keamanan dan stabilitas yang mulai pulih di Afghanistan.

“Sayangnya, sebuah kelompok dalam militer Pakistan menolak menerima kenyataan stabilitas Afghanistan. Mereka menyebarkan propaganda, mengabaikan keberadaan markas ISIS-K di Pakistan, dan berulang kali menggagalkan upaya rasional untuk menyelesaikan tantangan keamanan,” kata Mujahid, dikutip Pajhwok Afghan News, Minggu (12/10/2025).

Mujahid juga menegaskan bahwa IEA telah menguasai sepenuhnya wilayah perbatasan resmi maupun garis Durand. Ia menuding justru militer Pakistan yang kerap memicu konflik melalui pelanggaran udara dan serangan di wilayah perbatasan.

Lebih lanjut, ia menyebut beberapa pemimpin senior ISIS-K seperti Shahab al-Muhajir, Abdul Hakim Touhidi, Sultan Aziz Azzam, dan Salahuddin Rajab diduga bersembunyi di Pakistan.

“Jika Pakistan serius ingin menunjukkan komitmennya terhadap keamanan regional, mereka harus mengusir atau menyerahkan para pemimpin ISIS-K ini kepada Afghanistan,” tegas Mujahid.

Menurut Mujahid, serangan udara Pakistan di wilayah Marghi Bazaar, Provinsi Paktika, baru-baru ini merupakan pelanggaran terhadap ruang udara Afghanistan. Menyusul insiden itu, pasukan IEA diklaim melancarkan serangan balasan ke sejumlah pos militer Pakistan di garis Durand.

Dalam laporannya, pihak Afghanistan menyebut berhasil merebut 20 pos, menewaskan sedikitnya 58 tentara Pakistan, serta menyita berbagai senjata dan perlengkapan.

“Tindakan provokatif seperti pelanggaran udara dan agresi militer hanya akan menimbulkan konsekuensi negatif yang sangat serius,” ujar Mujahid memperingatkan.

Ia menambahkan bahwa pertempuran sempat dihentikan atas permintaan Qatar dan Arab Saudi. Namun, bentrokan kembali pecah setelahnya meskipun kedua negara berupaya menengahi ketegangan.

Dengan pernyataan keras ini, IEA menegaskan kembali posisinya untuk tidak mentoleransi kehadiran ISIS-K dan menuntut Pakistan bertanggung jawab penuh dalam mendukung keamanan regional.

Leave a Comment

Related Post