Moderasi Beragama sebagai Jalan Tengah Toleransi dan Harmoni

Tasya Khoirunnisa

09/07/2024

6
Min Read
moderasi beragama

On This Post

Harakatuna.com – Di era globalisasi dan pluralisme saat ini, konsep moderasi beragama menawarkan sebuah jalan tengah bagi umat beragama untuk membentengi keyakinan mereka sambil tetap terbuka pada dialog, pembaharuan, dan juga toleransi. Demikian ini sebab moderasi beragama, sebagai sebuah pendekatan, lebih mencari keseimbangan antara keimanan dan rasionalitas serta antara tradisi dan peradaban.

Titik tekan konsep ini ada pada keseimbangan, inklusivitas, dan toleransi dalam menjalani kehidupan beragama. Selain itu, pendekatan ini juga menegaskan betapa substansialnya unsur dialog, kompromi dan harmoni dalam kaitannya untuk menghadapi perbedaan yang ada. Gampangnya, moderasi beragama ini berada di tengah-tengah. Sifatnya tidak terlalu kaku tetapi juga tidak terlalu bebas. 

Genealogi Moderasi Beragama 

Perlu diketahui bahwa moderasi beragama bukanlah sebuah konsep baru. Konsep ini sering kali muncul sebagai respons terhadap ekstremisme, terorisme, sekularisme, dan juga radikalisme yang notabenenya mengancam dan merusak stabilitas sosial serta perdamaian. Maka, munculnya moderasi beragama ini sebagai upaya untuk mengatasi polarisasi yang terjadi.

Di berbagai belahan dunia, kebanyakan gerakan-gerakan tersebut memanfaatkan agama untuk melegalkan aksi intoleransi dan kekerasan yang mereka lakukan. Tentunya, hal ini berbeda dengan konsep moderasi beragama yang cenderung lebih menawarkan alternatif yang inklusif dan damai untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang rukun dan harmonis. Dalam Islam, konsep ini dikenal dengan istilah wasatiah yang berarti “jalan tengah”. Konsep wasatiah ini menjadi prinsip penting adalah kehidupan beragama. Hal ini juga sejalan dengan firman Allah Subḥānahu wa Ta’ālā dalam penggalan surah al-Baqarah ayat 143 berikut:

وَكَذٰلِكَ جَعَلْنٰكُمْ اُمَّةً وَّسَطًا لِّتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكُمْ شَهِيْدًا ۗ …الآية

Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Adapun makna dari umat pertengahan (ummatan wasaṭan) adalah umat pilihan, terbaik, adil, dan seimbang, baik dalam keyakinan, pikiran, sikap, maupun perilaku. Maka tidak heran jika prinsip ini menekankan pentingnya keseimbangan dan moderasi dalam beragama.  

Moderasi beragama dalam tradisi Islam, juga digambarkan dengan upaya-upaya penyeimbangan antara ajaran tradisional dengan nilai-nilai modern, seperti halnya demokrasi, kesetaraan gender, dan hak asasi manusia (HAM). Di Indonesia sendiri misalnya, moderasi beragama dipraktikkan oleh organisasi-organisasi keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah.

Dalam tradisi Kristen, moderasi beragama dihubungkan dengan ajaran-ajaran Yesus yang mengutamakan aspek cinta kasih, pengampunan, dan toleransi. Selain itu, mereka juga menegaskan pentingnya keterbukaan terhadap perubahan sosial dan dialog antar agama.

Dalam tradisi Hindu, konsep ahimsa (anti-kekerasan) dan sarva dharma samabhava (seluruh agama memiliki nilai yang sama) menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beragama. Sama halnya pula dalam tradisi Budha, bentuk moderasi beragama mereka tercerminkan dalam konsep Madhyamaka (jalan tengah) yang menjadi landasan utama mereka dalam menjalani kehidupan yang harmonis dan seimbang. 

Melihat pada konteks tersebut, moderasi beragama sebenarnya telah mengakar kuat dalam berbagai tradisi keagamaan. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka masih mendapatkan perlawanan dari berbagai pihak. Tetapi, di tengah tantangan yang ada, moderasi beragama sebagai sebuah pendekatan terus menampakkan relevansinya dalam upayanya menjembatani perbedaan dan menciptakan harmoni dalam masyarakat. Bahkan, sebagaimana yang diketahui bersama bahwa moderasi beragama telah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 No. 18/2020.

Dalam RPJMN tersebut, moderasi beragama dijabarkan ke dalam lima kegiatan prioritas. Pertama, penguatan cara pandang, sikap, dan praktik beragama jalan tengah. Kedua, penguatan harmoni dan kerukunan umat beragama. Ketiga, penguatan relasi agama dan budaya. Keempat, peningkatan kualitas pelayanan kehidupan beragama. Kelima, pengembangan ekonomi dan sumber daya keagamaan. Dengan lima poin tersebut, gagasan moderasi beragama diyakini dapat berpengaruh terhadap kehidupan keagamaan di Indonesia. 

Landasan Utama Moderasi Beragama

Sikap moderasi atau dikenal dengan istilah wasatiah, memiliki beberapa prinsip yang menjadi pegangannya dalam menyelesaikan konflik-konflik berbasis agama, baik di ranah global maupun lokal. Prinsip-prinsip tersebut yaitu tawassuṭ (mengambil jalan tengah), tawazun (keseimbangan), tasāmuh (toleransi), i’tidāl (lurus dan tegas), musāwah (egaliter/sederajat), dan shūrā (musyawarah). Selain itu, moderasi beragama juga bermuara pada beberapa prinsip yang menjadi landasannya dalam praktik beragama. Prinsip-prinsip tersebut tercakup dalam beberapa poin, yakni:

  1. Moderasi beragama mengutamakan toleransi, keseimbangan dan inklusivitas. Hal ini karena moderasi beragama menentang segala bentuk kekerasan dan intoleransi yang disandarkan pada perbedaan agama. Sebaliknya, moderasi beragama lebih cenderung mendorong pada segala bentuk dialog dan kerja sama antarumat beragama sebagai upaya untuk membentuk keharmonisan sosial dan perdamaian.
  2. Moderasi beragama selain tetap menjunjung tradisi juga reseptif terhadap pembaruan. Para pengikutnya percaya bahwa ajaran agama seharusnya relevan dengan konteks zamannya. Maka dari itu, perlu adanya penafsiran ulang untuk menyelaraskan ajaran agama dengan perkembangan realitas sosial pada suatu zaman.
  3. Moderasi beragama mendorong partisipasi aktif dalam ranah sosial dan politik. Hal ini berawal dari anggapan bahwa agama pada dasarnya tidak hanya mengatur tentang hubungan antara individu makhluk dengan Tuhan saja, tetapi juga berkontribusi dalam membangun masyarakat yang adil dan sejahtera.
  4. Moderasi beragama sangat menekankan betapa urgennya dialog antar agama. Dengan harapan bahwa nantinya mereka akan dapat saling bekerja sama dan saling mengisi satu sama lain yang berpotensi untuk meminimalisir konflik yang terjadi jika berseteru.
  5. Moderasi beragama menjunjung tinggi penerapan nilai-nilai etis di dalam kehidupan sehari-hari. 

Tantangan dan Peluang Moderasi Beragama

Pada dasarnya, banyak sisi positif yang ditawarkan oleh konsep moderasi beragama. Hanya saja, untuk mencapai hal tersebut, tentunya ada banyak tantangan dan juga peluang yang mesti dihadapi. Namun, terlepas dari tantangan dan peluang yang ada, moderasi beragama tetap mengajarkan bahwa agama mampu menjadi kekuatan dan memainkan peran penting dalam menciptakan dunia yang damai dan harmonis di tengah-tengah arus globalisasi dan pluralisme. Dengan catatan, dalam pelaksanaannya, mesti dibarengi dengan sikap yang dialogis dan inklusif. 

Salah satu tantangan yang dihadapi untuk mencapai moderasi beragama adalah meningkatnya polarisasi di tengah masyarakat. Pada satu sisi, beberapa kelompok semakin ekstrem dalam menginterpretasikan ajaran agama mereka. Mereka sering kali menggunakan kekerasan dan intimidasi untuk melancarkan aksinya dalam menekan gerakan moderat. Sedangkan pada sisi yang lainnya, beberapa kelompok juga semakin sekuler dan skeptis terhadap peran agama dalam ranah publik.

Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah terkait dengan bagaimana cara untuk menjaga relevansi moderasi beragama di tengah perkembangan sosial dan teknologi yang serba instan ini. Hal ini perlu dipikirkan sebab tak dapat dipungkiri bahwa di era digital ini berbagai ide dan informasi dapat tersebar dengan cepat, termasuk di dalamnya yaitu ide-ide ekstremis.

Maka, berdasarkan hal tersebut, moderasi beragama perlu mencari cara untuk memanfaatkan teknologi dan media sosial secara efektif sebagai sarana dalam mepromosikan pesan-pesan yang damai dan inklusif. Mereka harus menjaga keseimbangan antara tradisi dan juga modernitas sambil tetap menyesuaikannya dengan perubahan zaman.  

Selain tantangan yang dihadapi, tentunya tetap ada peluang yang tampak di tengah-tengah problematika ini. Salah satu peluang terbesar dari moderasi beragama adalah memiliki potensi untuk menjembatani antar berbagai kelompok yang berbeda. Dengan sifatnya yang dialogis, moderasi beragama memiliki kemampuan untuk menciptakan dialog yang konstruktif, baik antar agama maupun antar kelompok.

Dengan hal tersebut, diharapkan penerapan moderasi beragama berperan secara signifikan dalam mengurangi ketegangan yang terjadi, mengurangi prasangka, membangun pemahaman yang lebih baik, dan mencari problem solving bersama atas segala permasalahan yang dihadapi. Bahkan, jika bisa, sekaligus menawarkan kerja sama dengan mereka. Selain itu, potensi lain dari moderasi agama adalah mendorong adanya transformasi sosial yang positif.

Referensi

Bagir, Zainal Abidin dkk. Politik Moderasi dan Kebebasan Beragama: Suatu Tinjauan Kritis. Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2022.

Hidayat, Rahmat dkk. Moderasi Beragama dan Kebangsaan. Bengkulu: Penerbit Buku Literasiologi, 2021.

Huriani, Yeni, dkk. Buku Saku Moderasi Beragama Untuk Perempuan Muslim. Bandung: Prodi S2 Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati, 2022. 

Kementerian Agama RI. Tanya Jawab Moderasi Beragama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, 2019.

Leave a Comment

Related Post