Mitigasi Radikalisme Setelah Perang Iran-Israel

Harakatuna

18/04/2024

4
Min Read
Mitigasi Radikalisme Setelah Perang Iran-Israel

On This Post

Harakatuna.com – Terjadinya serang-menyerang antara Iran dan Israel saat ini sudah memberi dampak nyata terhadap dunia. Israel telah menyerang Konsulat Iran di Damaskus, sementara Iran membalas dengan meluncurkan gempuran udara pada Minggu (14/4) malam, yang mencakup 170 drone, 30 rudal jelajah, dan 110 rudal balistik.

Dalam catatan sejarah, serangan Iran ini merupakan kali pertama serangan ke Israel dari wilayah kedaulatan Iran – walau ada pula puluhan rudal dan drone yang diluncurkan dari Irak, Suriah, dan Yaman. Menurut pengamat, peristiwa ini adalah episode terkini dalam permusuhan lama antara Iran dan Israel.

Sebelumnya, peperangan kedua negara ini hanya berada dalam “perang bayangan”. Kedua negara ini sama-sama menciptakan perang di antara beberapa negara di Timur Tengah, meski mereka sama-sama mengaku tidak terlibat. Cara ini adalah strategi yang bertujuan untuk menguatkan ruang pengaman dan mencegah musuh-musuhnya suatu hari menyerang di wilayahnya sendiri.

Selain itu, perang bayangan yang terjadi antara Iran dan Israel tersebut guna melakukan aksi bersenjata yang menguntungkan kepentingannya. Dari banyak kasus, kedua negara ini saling menyerang tanpa mengakui keterlibatan masing-masing.

Paling mencolok, pada 1992, kelompok Jihad Islam yang terkait dengan Iran meledakkan Kedutaan Israel di Buenos Aires, menyebabkan 29 orang tewas. Peristiwa ini terjadi sesaat setelah pemimpin Hizbullah, Abbas al-Musawi, dibunuh.

Sementara, awal tahun 2000-an, pihak Israel telah membunuh beberapa intelektual nuklir dan fasilitas nuklir Iran, dengan cara bekerja sama dengan Amerika Serikat mengirim virus komputer Stuxnet terhadap program nuklir Iran. Israel selalu terobsesi menghentikan program nuklir Iran dan mencegah Ayatollah memiliki senjata atom.

Kemudian pada tahun 2011, konfrontasi Israel dan Iran kembali pecah saat terjadi perang Suriah. Pada tahun-tahun selanjutnya, kedua negara ini saling menyerang dalam “sunyi” dan saling menyalahkan. Misalnya, pada tahun 2021, Israel menyalahkan Iran atas serangan terhadap kapal-kapal Israel di Teluk Oman. Iran balik menuduh Israel menyerang kapal-kapalnya di Laut Merah.

Artinya, kedua negara tersebut telah terlibat dalam permusuhan berdarah selama bertahun-tahun, yang fluktuasi intensitasnya bergantung pada peristiwa geopolitik. Dari pemusuhan baik yang tersembunyi maupun terang-terangan, telah membuat ketidakstabilan di Timur Tengah dan dunia, termasuk di negara Indonesia.

Permusuhan antara dua “musuh bebuyutan” ini selain telah menimbulkan banyak korban jiwa, juga memperburuk keadaan dunia. Buktinya, konflik antara Iran dan Israel saat ini sudah memberi dampak nyata terhadap perekenomian dunia. Sekarang telah terjadi kenaikan harga minyak mentah dan anjloknya nilai tukar beberapa mata uang.

Pada Senin (15/4), dua hari setelah serangan balasan Iran ke Israel, harga minyak mentah Brent naik ke level US$90,29 per barel dari posisi 1 Januari 2024 sebesar US$77,4 per barel. Selain itu, harga minyak mentah jenis WTI juga naik ke level US$85,42 per barel, atau lebih tinggi dari posisi pada 1 Januari 2024 sebesar US$71,65/barel.

Untuk nilai tukar beberapa negara di kawasan Asia, baht Thailand dan won Korea terdepresiasi sebesar 0,24% (dtd), serta ringgit Malaysia terdepresiasi sebesar 0,24% (dtd) terhadap dolar AS. Adapun nilai tukar rupiah, ditutup di level Rp16.175 per dolar AS atau melemah 2,07% dari perdagangan sebelumnya. Para investor menjauhi mata uang berisiko dan memburu mata uang safe haven.

Selain pada ekonomi, terkait dengan dampaknya terhadap Indonesia, adalah meruncingnya permusuhan antara komunitas agama Kristen dan Muslim, meski permusuhan ini bukanlah tentang agama. Demikian yang terjadi, tetap berimbas kepada dua entitas agama tersebut, sebagaimana dampak perang antara Israel dan Palestina, yang menyulut permusuhan antara Muslim dan Kristen.

Di lain pihak, peperangan Israel ditambah berdarahnya Palestina, menumbuhkan semangat radikalisme yang telah layu. Di beberapa media, kelompok-kelompok radikal kegirangan atas serangan kedua negara tersebut. Seolah-olah, kelompok radikal-ekstrem ini menemukan momentum untuk keluar dari rongkongnya dan maju jihad bersama Iran untuk menumpas zionis. Apalagi, ditambah sesumbar Israel akan membalas serangan Iran, tambah semangatlah kelompok radikal ini.

Di tengah kondisi itu, peran Indonesia yang selalu berupaya menjadi jembatan berbagai blok, harus mencari strategi jitu agar perdamaian terus terjaga. Indonesia juga harus mencari berbagai langkah antisipasi dari krisis ekonomi akibat perang, tumbuh kembangnya kelompok radikal, dan kedamaian bagi negara sendiri: Indonesia.

Leave a Comment

Related Post