Keniscayaan Mitigasi Terorisme Pasca-Pembubaran Jama’ah Islamiyah

Harakatuna

11/07/2024

4
Min Read
Mitigasi dan Pasca

On This Post

Harakatuna.com – Pembubaran Jama’ah Islamiyah (JI) oleh 16 tokoh seniornya diperkirakan tidak akan diikuti oleh seluruh anggotanya. Menurut peneliti, sebagian besar anggota JI kemungkinan akan mengikuti, tetapi sebagian kecil lainnya tidak akan patuh dan kemudian meresponsnya dengan menebar amaliah: aksi teror.

Ketidakpatuhan disebabkan pembubaran JI yang terkesan terlalu elitis dan tidak membawa kepentingan anggota JI di akar rumput. Karena itulah, anggota JI yang militan akan membuat kelompok sempalan baru atau bergabung dengan kelompok lain yang satu visi-misi.

Kemudian kelompok-kelompok yang tidak patuh alias pembangkang dan militan ini, akan terus menunjukkan eksistensi mereka dengan melancarkan strategi baru yang mereka punya. Apa pun itu namanya. Selain bergabung dengan kelompok militan yang lain, sebagian anggota yang tidak patuh itu juga kemungkinan akan tetap menunjukkan eksistensi mereka dengan melancarkan kekerasan.

Yang jelas kelompok pembangkang JI ini akan berbeda jalan dengan senior Jama’ah Islamiyah, seperti Abu Rusdan, Para Wijayanto, Abu Mahmuda, Bambang Sukirno, Abu Fatih, Ustaz Zarkasih, Ustaz Sholahuddin, Ustaz Bahrudin Soleh, Ustaz Sartono Gunadi, Ustaz Abu Dujana, Ustaz Fadri Fathurrahman, Teuku Azhar, Ustaz Imtihan, Ustaz Hamad, Ustaz Mustaqim, dan Ustaz Fahim.

Di mata kelompok pembangkang JI, seniornya itu hanyalah menjalankan kepentingan pribadi. Mereka, 16 tokoh senior Jama’ah Islamiyah itu, dianggap sedang mengalami penyakit jihad, tidak jujur dan tidak amanah. Karena alasan inilah sudah jelas bahwa JI pembangkang akan berbeda jalan dengan para seniornya.

Oleh sebab itu, pembubaran jaringan militan Jama’ah Islamiyah tidak boleh dinilai sebagai kemunduran apalagi disebut kapasitas anggotanya menjadi hilang. Masih tersisa jauh lebih banyak lagi angggota JI yang berbeda pandangan dengan para atasannya. Karena itulah masyarakat Indonesia dan tentu saja pemerintah harus lebih waspada lagi dengan cara tempur mereka yang baru.

Yang dikhawatirkan adalah sempalan JI ini melebur ke dalam berbagai organisasi keagamaan di Indonesia. Ingat, anggota JI terlampau cerdas untuk sekadar berbaur dan menyusup ke segala kegiatan ormas. Mereka tahu betul cara masuk ke lubang-lubang ormas, pemerintah, partai dengan cara cantik, praktis dan super cepat. Karena inilah mereka perlu diwaspadai.

Anggota JI pembangkang ini jelas tidak mau tahu dasar alasan mengapa organisasi tercintanya dibubarkan. Mereka tidak mau tahu misalnya dengan aset JI, dan cara untuk melindunginya kendati harus membubarkan diri dan meninggalkan statusnya sebagai organisasi rahasia dan bekerja secara terbuka. Bagi mereka, aset yang kini ada, itu adalah hasil kerja keras dari semua anggota JI yang diperoleh dengan cara jihad ala JI dari sekian lama.

Sejak berdirinya pada tahun 1993, JI tidak pernah gentar dicap sebagai teroris internasional di Asia Tenggara. Bahkan negara-negara seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina mencap JI sebagai organisasi teroris paling brutal di Asia Tenggara.

Bagi aktivis militan JI, yang terpenting tetap setia dalam menjalankan misi suci JI. Menurut mereka, JI didirikan dengan tujuan menegakkan negara Islam. Karena itu perjuangan itu harus terus dilakukan dengan tuntas. Baik dalam medan perjuangan melalui dakwah, pendidikan, jihad, dan bisnis haram, seperti narkoba dan eksploitasi perkebunan sawit.

Karena itu, jangan tanya lagi bagaimana dampak yang akan berlangsung pasca-pembubaran dan pengkhianatan anggota JI. Mereka bisa jadi membentuk gerakan baru dengan nama berbeda. Seperti kata Visiting Fellow at S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore, Noor Huda Ismail, pembubaran ini sebagai upaya untuk menyembunyikan strategi JI sesungguhnya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.

Bagi 65 senior JI, mereka melakukan strategi dengan cara taqiyya atau perpura-pura. Sementara aktivis JI yang militan tetap memakai strategi JI versi lama, yakni jihad fi sabilillah. Jika demikian, maka tak ayal bahwa JI hari ini makin solid, berbahaya dan mempermudah menjalankan aksinya. Bahkan mereka jelas dalam waktu dekat dapat memengaruhi kebijakan dan opini publik tanpa menimbulkan kecurigaan.

Karena itulah, pemerintah, masyarakat dan terutama Densus 88 Antiteror Polri tetap waspada dan menambah mitigasi pasca-pembubaran JI ini. Kita tidak sekadar berharap program deradikalisasi berlanjut sampai pada akar rumput simpatisan jaringan militan JI. Tapi kita berharap JI benar-benar harus dibabat habis dari Indonesia. Sekali lagi, mitigasi terorisme pasca-pembubaran JI wajib segera dilakukan!

Leave a Comment

Related Post