Minta Hentikan Perang Gaza, Ratusan Militer Israel Desak Tanda Tangani Petisi

Ahmad Fairozi, M.Hum.

16/04/2025

3
Min Read
Minta Hentikan Perang Gaza, Ratusan Militer Israel Desak Tanda Tangani Petisi Ahmad Fairozi BNPT

On This Post

Harakatuna.com. Tel Aviv – Gelombang penolakan terhadap perang yang terus berkecamuk di Jalur Gaza semakin meluas di internal militer Israel. Sebanyak 150 tentara aktif dari Brigade Golani, salah satu unit tempur elit Angkatan Darat Israel, menandatangani sebuah surat terbuka yang menyerukan segera diakhirinya operasi militer di Gaza dan mendesak pemerintah untuk fokus pada negosiasi pembebasan sandera yang masih ditahan oleh kelompok Hamas.

Surat terbuka tersebut merupakan bagian dari rangkaian petisi yang beredar luas sejak Kamis lalu. Hingga kini, setidaknya sepuluh petisi telah muncul, menyuarakan penolakan terhadap kelanjutan serangan Israel ke Gaza yang telah berlangsung sejak Oktober 2023.

“Negosiasi harus segera dimulai untuk menyelamatkan para sandera. Perang ini tidak membawa penyelesaian, justru memperburuk situasi kemanusiaan dan politik,” demikian kutipan dari surat yang ditandatangani oleh para tentara tersebut.

Petisi lain yang muncul lebih awal, ditandatangani oleh hampir 1.000 personel cadangan dan mantan anggota Angkatan Udara Israel. Dalam petisi itu, mereka menuding bahwa operasi militer di Gaza lebih didorong oleh kepentingan politik pribadi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dibandingkan tujuan keamanan negara.

“Perang ini bukan demi keselamatan negara, melainkan melayani agenda politik yang sempit,” tulis mereka.

Menanggapi aksi protes internal ini, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel, Letjen Eyal Zamir, serta pimpinan Angkatan Udara segera mengambil langkah tegas dengan memecat sejumlah personel cadangan yang aktif bertugas dan terlibat dalam petisi tersebut.

Perdana Menteri Netanyahu turut mendukung pemecatan itu. Dalam pernyataannya, ia menuding bahwa para penandatangan petisi adalah bagian dari kelompok kecil radikal yang dimobilisasi oleh organisasi asing untuk menjatuhkan pemerintahannya.

“Ini adalah upaya politik oleh sekelompok radikal yang didanai asing untuk menggulingkan pemerintahan yang sah,” kata Netanyahu.

Gelombang protes ini tak hanya datang dari kalangan militer aktif. Petisi serupa juga ditandatangani oleh sekitar 150 perwira Angkatan Laut yang telah pensiun, lebih dari 250 personel cadangan dan veteran Unit 8200 (unit intelijen elit Israel), serta 1.525 veteran Korps Lapis Baja. Bahkan mantan Perdana Menteri Ehud Barak termasuk di antara para penandatangan.

Lebih dari 500 pelaku industri teknologi tinggi, 2.000 dokter militer, serta lebih dari 6.000 akademisi dan pejabat pendidikan Israel juga menyuarakan desakan serupa untuk menghentikan perang dan memprioritaskan penyelamatan sandera.

Dukungan terhadap penghentian konflik juga datang dari kalangan intelijen. Ratusan veteran Mossad dan Shin Bet, dua badan mata-mata utama Israel, serta lebih dari 1.500 mantan anggota pasukan infanteri, pasukan terjun payung, dan pasukan khusus militer turut menandatangani berbagai petisi yang beredar.

Israel memulai operasi militer besar-besaran di Gaza sejak 7 Oktober 2023, menyusul serangan mendadak oleh kelompok Hamas sebagai respons terhadap perlakuan brutal terhadap warga Palestina. Dalam serangan tersebut, Hamas dilaporkan menyandera 251 warga Israel. Saat ini, 58 orang masih ditahan di Gaza, termasuk jenazah 34 orang yang telah dinyatakan tewas.

Meski telah berlangsung lebih dari satu tahun, operasi militer Israel belum berhasil mencapai tujuannya untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan semua sandera. Hingga kini, lebih dari 50.983 warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Leave a Comment

Related Post