Mewaspadai Era Baru Indonesia dalam Belenggu Neo-Konservatisme Wahabi

Ahmad Khairi

13/06/2024

5
Min Read
Wahabi Indonesia

On This Post

Harakatuna.com – Dalam buku Salman’s Legacy: The Dilemmas of a New Era in Saudi Arabia, seorang ahli politik dan sejarah Timur Tengah yang fokus pada Arab Saudi, Madawi al-Rasheed, menyajikan pandangan kritis mengenai masa pemerintahan Raja Salman dan putranya, Mohammed bin Salman (MBS). Menurut al-Rasheed, Saudi sedang memasuki era baru yang reformis mencakup sosial-ekonomi-politik, juga agama; Wahabisme.

Al-Rasheed mengeksplorasi bagaimana doktrin Wahabisme telah memengaruhi kebijakan domestik dan internasional Saudi, serta bagaimana relasinya dengan transformasi di bawah pemerintahan Raja Salman dan MBS. Menurut al-Rasheed, keluarga Kerajaan Saudi telah menggunakan Wahabisme sebagai alat memperkuat kekuasaan mereka. Wahabi jadi piaraan rezim untuk masalah keagamaan, sosial, hingga politik.

Al-Rasheed juga menggarisbawahi, di satu sisi, bahwa Wahabisme telah menjadi katalisator terorisme global, dibuktikan dengan 12 teroris dalam peristiwa 9/11 yang ternyata penganut Wahabisme. Pada saat sama, doktrin jihad perang (qitāl) kelompok teror seperti ISIS diadopsi dari karya-karya Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri Wahabi. Artinya, Wahabisme jadi dalang radikalisme dan ekstremisme.

Di sisi lain, al-Rasheed juga menggarisbawahi bahwa kesamaan Wahabisme dengan kelompok jihadis relatif kompleks dan tidak bisa dilihat secara simplistis. Menurut al-Rasheed, diseminasi Wahabisme yang bermutasi menjadi jihadis di dunia Islam dewasa ini tak luput dari peran rezim Saudi sendiri dalam mengekspor ideologi tersebut untuk tujuan proxy war: mengimbangi dominasi Iran di dunia Islam, termasuk di Indonesia.

Sebagai konsekuensinya, Indonesia kini berada di situasi dilematis era baru yaitu semaraknya Wahabisme—lunturnya spirit keindonesiaan Islam dan meningkatnya konservatisme. Wahabi, sebagaimana dilihat dalam sepak terjang dakwah mereka di tanah air, benar-benar mengikis lokalitas keislaman, lalu kemudian menyeret masyarakat Indonesia menuju kemunduran, anti-multikultural, mindset eksklusif, serta perilaku ekstrem.

Saudi Menuju Moderasi, Indonesia Menuju Ekstremisme

Fakta bahwa Wahabisme sebagai anjing piaraan Arab Saudi selama lebih dari satu abad sudah menjadi rahasia umum. Namun, di bawah kepemimpinan MBS, ada upaya signifikan untuk mereduksi pengaruh ulama Wahabi konservatif dalam sosial-politik Saudi. MBS mengupayakan modernisasi dan reformasi sosial seperti kesetaraan gender dan hiburan bebas yang notabene kontradiktif dengan doktrin Wahabi itu sendiri.

Kendati begitu, MBS tetap menggunakan simbol keagamaan dan mendukung Wahabisme untuk menjaga legitimasi dan dukungan dari basis konservatif yang kuat di dalam negeri. Sebagai ganti dari transformasi Saudi menuju moderasi, rezim Ibnu Saud mengekspor Wahabisme ke berbagai negara melalui dukungan finansial tak terbatas. Alhasil, Wahabi terus eksis dan semakin besar di negara target ekspor tersebut—salah satunya Indonesia.

Ada dua keuntungan MBS dengan proyek wahabisasi global tersebut. Pertama, mengurangi tensi pemberontakan Wahabi pasca-kebijakan moderasi MBS. Kedua, menandingi Iran dalam perang proksi Timur Tengah selama bertahun-tahun. Yang kedua ini dampaknya dapat dilihat bahkan di Indonesia, dengan ramainya sentimen anti-Syiah yang dimotori penganut Wahabi. Dan imbas terburuk dari wahabisasi tersebut ialah meningkatnya konservatisme.

Konservatisme, penting dicatat, merupakan “era baru” di Indonesia. Demikian karena sejak awal 2000-an, melalui masifnya gerakan pembaruan Islam, iklim keberagamaan di Indonesia berada dalam situasi inklusif, moderat, toleran, dan anti-ekstremisme. Tetapi semua itu mulai luntur ketika wahabisasi global merangsek tanah air. Masyarakat jadi semakin eksklusif, radikal, intoleran, dan terjerembab dalam propaganda ekstremisme.

Artinya, antara Arab Saudi dengan Indonesia menuju arah yang berseberangan. Hari ini, Saudi sedang bertransformasi menjadi negara moderat, sementara Indonesia sebaliknya: sedang bertransformasi menjadi negara konservatif ekstrem. Ke depan, Saudi akan menjadi negara progresif yang liberal, tetapi Indonesia justru menjadi negara konservatif yang radikal. Saudi akan zero terorisme, tetapi Indonesia justru akan menjadi sarang teroris.

Ambil Sikap Sebelum Terlambat

Gelombang neo-konservatisme Wahabi, yang pada awalnya datang dari luar, kini mulai mencengkeram masyarakat Indonesia. Sementara Arab Saudi—sumber utama Wahabisme—sedang bertransformasi besar menuju moderasi, Indonesia tampaknya mengambil jalan yang berlawanan, bergerak ke arah konservatisme ekstrem. Saudi sedang melepaskan diri dari citra konservatisme, Indonesia justru sedang merajutnya. Ironi.

Contoh paling nyata dari tren tersebut ialah eskalasi serangan terhadap simbol-simbol pluralisme dan toleransi. Diskusi tentang hukum musik, misalnya, yang sebenarnya masalah remeh, memicu debat sengit dan memecah-belah. Kontroversi tentang salam lintas agama, yang mestinya jadi wujud kebhinekaan, malah jadi bahan bakar disintegrasi antarumat beragama. Indonesi hari ini mirip Arab Saudi di tahun 1900-an.

Jika tren tersebut terus berlanjut, Indonesia jelas akan menjadi negara chaos dan terbelakang. Belenggu neo-konservatisme Wahabi memperburuk ketegangan sosial dan memicu ekstremisme. Dan menariknya, ini bukan sekadar masalah ideologis saja, melainkan ancaman nyata bagi stabilitas dan masa depan Indonesia yang plural. Maka, Indonesia harus segera mengambil sikap sebelum terlambat.

Pemerintah, masyarakat sipil, dan tokoh agama harus bersatu memperkuat kembali nilai-nilai moderasi dan inklusivitas yang telah lama menjadi fondasi kehidupan beragama di negara ini. Edukasi moderasi, ketegasan hukum, dan dialog boleh jadi relevan untuk dilakukan. Namun demikian, yang terpenting adalah memberantas akar masalah, yakni Wahabisme, baik melalui soft approach maupun hard approach.

Mengapa sikap tegas perlu diambil sebelum terlambat? Sebab, masa depan Indonesia tergantung pada kemampuan untuk mempertahankan nilai-nilai yang telah membuat bangsa ini kuat dan bersatu selama ini. Jika era baru Indonesia yang bernuansa neo-konservatisme dibiarkan, maka jangan berharap kemajuan dan era keemasan akan tercipta. Negara ini tidak akan maju di tengah neo-konservatisme Wahabi. Maka, berantas!

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post