Harakatuna.com – Setelah setengah abad diperintah dinasti Assad, Suriah menghadapi kenyataan manis. Dinasti Assad ditumbangkan oleh kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS), pimpinan Abu Muhammed al-Jaulani. Hanya dalam 12 hari Bashar al-Assad jatuh di tangan HTS.
HTS berhasil menguasai kota-kota penting di Suriah, seperti Aleppo, Hama, dan Damaskus. Suriah menjadi milik milisi HTS. Bendera negara kebangsaan pun berganti. Bendera tiga bintang berkibar di Suriah dan di berbagai negara seperti di Jerman, Turki, dan Yunani. Bahkan akun media sosial kedutaan besar Suriah di sejumlah kedutaan besar Suriah seperti di Indonesia, Malaysia, dan Mesir, berganti ke bendera tiga bintang yang digunakan oleh aktivis HTS.
Bendera HTS berwarna hijau di bagian atas, putih di bagian tengah, dan hitam di bagian bawah bendera dengan tiga bintang merah di bagian tengah. Warna ini dipilih untuk mengingatkan pada kemerdekaan Suriah atas Prancis pada tahun 1932. HTS lebih menyukai bendera tersebut untuk mewakili kemerdekaan dari pemerintahan Assad.
Lalu bagaimana nasib negara dan warga Suriah sekarang? Pasca Assad digulingkan, milisi Suriah menunjuk mantan Perdana Menteri (PM) Mohammed Ghazi Al Jalali sebagai pemimpin sementara. Perdana Menteri Suriah ini mengatakan akan membantu melakukan upaya terbaik demi rakyat Suriah. Dia juga menginginkan pemilihan umum yang bebas untuk menentukan siapa pemimpin Suriah yang baru.
Saat ini, PM Al Jalali ditugaskan untuk mengawasi operasional kementerian dan lembaga negara hingga badan-badan tersebut sepenuhnya diserahkan ke pemerintahan baru atau pemerintahan selesai menjalani transisi. Dia juga ingin membawa pulang jutaan pengungsi Suriah yang terserak di berbagai negara untuk melindungi semua warga Suriah di tengah kemiskinan akut negara tersebut.
Di situasi kacau tersebut ada banyak negara yang membekukan semua permintaan suaka untuk warga Suriah. Negara-negara seperti Jerman, Prancis, Austria, Inggris, dia merasa kasihan terhadap warga Suriah karena belum menemukan kejelasan tentang nasib negara Suriah. Sementara Berlin dan negara anti Suriah mengisyaratkan akan segera mendeportasi pengungsi kembali ke Suriah. Karena inilah banyak orang menyebut negara ini sebagai negara populis dan tidak bertanggung jawab.
Atas tumbangnya dinasi Assad, para pengungsi telah memiliki harapan untuk kembali ke rumahnya di Suriah dengan membawa campuran kegembiraan dan kesedihan karena kesulitan di pengasingan yang tanpa kejelasan yang pasti.
Kini pun, kelompok pemberontak Hayat Tahrir al-Sham (HTS) dan Abu Muhammed al-Jaulani akan diberi kelonggaran atas sanksi-sanksi perang yang pernah dibuat. Bahkan dua senior Kongres AS, dari Partai Republik dan Partai Demokrat, menulis sebuah surat yang menyerukan agar Washington menangguhkan beberapa sanksi terhadap milisi Suriah tersebut. Dan HTS juga sudah mengirim surat kepada Washington untuk diberikan kelonggaran atas sanksi-sanksi yang dialami HTS.
Saat ini juga dunia sedang melihat secara seksama apakah para penguasa Washington akan mencabut penetapan HTS sebagai teroris dan memberikan keleluasaan terhadap warga Suriah untuk menentukan nasibnya sendiri. Tampaknya penguasa AS ini sedang berhati-hati dalam berkomunikasi dengan para kelompok HTS dalam rangka transisi membuat pemerintahan baru. Hal tersebut dilakukan menyangkut kepentingan keamanan regional dan global.
Sementara itu, Suriah saat ini mendapatkan dukungan dari warga sendiri dan dari berbagai negara. Bahkan Paus menyerukan kepada kelompok-kelompok agama yang beragam di negara Suriah untuk berjalan bersama dalam persahabatan dan saling menghormati demi kebaikan bangsa Suriah.
Di Indonesia sendiri berbagai kelompok ekstrem juga mendukung transisi negara Suriah. Misalnya seperti Jamaah Ansharu Syariah mengucapkan selamat atas kemenangan HTS setelah menguasai Suriah. Kelompok Aliansi Nasional Anti Syiah Indonesia Solo juga ikutan mengucapkan hal serupa.
Dengan demikian, editorial kali ini ingin mengajak warga Indonesia untuk mewaspadai dan jangan terprovokasi untuk melakukan berbagai hal yang memancing keributan antar warga berdasarkan isu-isu sensitif tentang Suriah. Sebab masih banyak di luar sana kelompok dan negara yang anti terhadap Suriah.
Pemerintahan baru sedang berusaha dibangun di Suriah. Kita perlu memberikan kesempatan dengan tidak mengganggunya dan memberi semangat agar Suriah menjadi negara yang makmur, damai dan berpihak kepada rakyat kecil. Semoga kota-kota yang telah dibom hingga hancur, petak-petak pedesaan yang ditinggalkan penduduknya, dan ekonomi yang hancur akibat sanksi internasional segara kembali pulih.









Leave a Comment