Merayakan Natal tanpa Trauma Terorisme

Harakatuna

25/12/2025

5
Min Read
Trauma Natal

On This Post

Harakatuna.com – Hari ini, umat Kristiani tengah merayakan Hari Natal. Euforia di sejumlah daerah sangat megah, dengan ucapan selamat yang seliweran terutama melalui media sosial. Sebagian umat Islam ada yang secara sukarela menjaga gereja, memastikannya aman dari hal-hal yang tidak diinginkan. Mengapa itu terjadi? Sampai kapan umat Kristen harus menyambut hari raya mereka dengan bayang-bayang rasa takut? Hingga hari ini masih menjadi pertanyaan besar.

Natal di Indonesia tidak pernah sepenuhnya netral dari sejarah ketakutan. Natal merupakan penanda ingatan kolektif tentang aksi teror yang pernah menyasar ruang-ruang suci Kristen. Bom malam Natal tahun 2000, rangkaian serangan terhadap gereja di berbagai daerah, hingga berbagai ancaman menjelang akhir tahun, telah membentuk apa yang disebut sebagai ritualized fear, ketakutan yang muncul akibat memori sosial lintas generasi.

Namun, justru di titik itulah perdebatan keamanan Natal hari ini jadi relevan. Ancaman terorisme tidak sekadar hadir dalam bentuk ledakan di gereja. Masalahnya semakin kompleks. Statistik penindakan nasional menunjukkan bahwa kapabilitas operasional kelompok teror mengalami penurunan signifikan. Struktur organisasi teror banyak runtuh, jaringan keuangan mereka terputus, dan intensi kekerasan rendah. Namun apakah menurunnya ancaman fisik berarti hilangnya ancaman itu sendiri? Belum tentu.

Yang berubah adalah wujud ancaman. Ini yang perlu disadari bersama. Terorisme hari ini bergerak ke wilayah yang lebih subtil: kognisi, emosi, dan ruang digital. Boleh jadi Natal masih dipandang sebagai target serangan teror, namun yang lebih mengkhawatirkan adalah objek narasi, yaitu propaganda daring sebagai transformasi propaganda terorisme.

Di platform digital, Natal direpresentasikan sebagai simbol dominasi, agenda Barat, atau perayaan orang kafir. Narasi semacam itu tidak dimaksudkan untuk meledakkan gereja, tetapi untuk menormalisasi kebencian antarsesama, menyobek kebhinekaan, mengikis empati lintas iman, dan menciptakan polarisasi laten yang bahkan lebih tahan lama daripada aksi-aksi teror di masa lalu. Hal tersebut membuat sebagian orang ber-Natal dengan penuh trauma.

Ancaman semacam itu kerap luput dari perhatian publik. Negara terlihat berhasil mengamankan gereja dan melandaikan jumlah aksi teror. Namun pada saat yang sama, ruang digital menjadi medan baru terorisme, tempat trauma lama direproduksi dalam bentuk baru. Para Gen Z, yang tidak mengalami langsung bom Natal 2000, justru jadi sasaran utama melalui potongan video propaganda bahwa Natal merupakan ancaman identitas.

Trauma kolektif bekerja dengan cara sunyi: tidak selalu muncul sebagai ketakutan eksplisit, tetapi sebagai kewaspadaan berlebih, kecurigaan sosial, dan jarak emosional antarwarga. Ketika gereja dijaga aparat setiap Natal, pesan simboliknya ambigu antara menenangkan atau justru mengingatkan bahwa ruang ibadah Kristiani masih rentan. Jika dibiarkan tanpa narasi pemulihan, maka keamanan akan berhenti pada level proteksi, bukan penyembuhan.

Karena itu, tantangan terbesar Natal hari ini selain mencegah serangan ialah memutus siklus trauma. Keamanan yang hanya berbasis aparat berisiko memperkuat memori ketakutan umat Kristen itu sendiri. Sebaliknya, keamanan yang dipadukan dengan narasi inklusif justru mampu mengubah Natal dari simbol kerentanan aksi teror menjadi simbol ketahanan sosial dari aksi tersebut. Bukankah itu yang mestinya ditempuh?

Indonesia memiliki modal sosial yang jarang disorot dalam diskursus kontra-terorisme. Praktik berbagi ruang ibadah, solidaritas lintas iman saat hari besar keagamaan, serta keterlibatan masyarakat sipil dalam menjaga perayaan Natal adalah bentuk everyday resilience yang jauh lebih efektif daripada retorika keamanan semata. Ketika umat Kristen membuka gereja untuk shalat Id di suatu daerah, atau ketika umat Muslim menjaga perayaan Natal di suatu gereja, yang sedang dibangun bukan toleransi semata, namun juga imunitas sosial terhadap terorisme.

Melalui editorial ini, Harakatuna ingin menegaskan satu hal bahwa Natal tidak boleh terus-menerus diposisikan sebagai momen rawan, karena framing semacam itu justru menguntungkan para teroris. Mereka akan sesumbar karena berhasil menciptakan trauma akut. Jika Natal dipersepsikan sebagai momok keamanan dan setiap orang bisa merayakan Natal tanpa trauma, maka propaganda terorisme telah kalah sepenuhnya.

Kendati demikan, merayakan Natal tanpa trauma terorisme tidak berarti melupakan sejarah, melainkan menempatkan sejarah pada posisi yang tepat sebagai pelajaran hidup memacu kebersamaan. Negara tetap harus waspada, aparat tetap harus siaga, namun narasi publik harus bergerak ke arah pemulihan dan bukan justru merawat trauma. Keamanan sejati didapat ketika umat Kristen bisa merayakan keyakinan tanpa rasa curiga, tanpa bayang-bayang ketakutan lama, dan tanpa harus merasa menjadi target aksi teror seperti di masa lalu.

Natal tahun ini mesti menjadi momentum refleksi nasional bahwa keberhasilan kontra-terorisme tidak diukur dari berapa banyak pasukan dikerahkan setiap tahun. Kontra-terorisme layak dianggap berhasil jika masyarakat, terutama yang Kristen, mampu berdiri tenang, percaya satu sama lain, dan menolak diwarisi trauma yang tidak lagi relevan dengan realitas ancaman hari ini. Situasi sudah berubah, strategi perlu berubah. Persepsi masyarakat pun mesti berubah.

Ketika masyarakat bisa merayakan Hari Natal dengan tenang, tanpa dibayangi rasa takut, tanpa dibayangi trauma, dan dilandasi kepercayaan antarumat, maka di situlah Natal menemukan makna keamanannya yang paling substansial. Natal tidak selamanya harus menjadi hari yang membutuhkan penjagaan ketat dan kecurigaan antarsesama.

Jika Muslim bisa hijrah ke moderat, maka umat Kristen juga perlu menghapus rasa ketidakpercayaan mereka akan keamanannya sendiri. Pada saat yang sama, seiring waktu, pengamanan dari pemerintah tidak perlu dilakukan terang-terangan. Kewaspadaan tetap perlu dipertahankan, namun kecurigaan tidak.

Terorisme memang tidak akan pernah mati. Namun, sebagaimana para eks-teroris didorong untuk hijrah ke moderat, seluruh umat Kristen juga mesti percaya akan keamanan di momen Natal. Natal adalah momen kasih putih, bukan parade keamanan tahunan. Mari saling memperbaiki dan saling percaya. Dan, kepada umat Kristiani, selama merayakan Hari Natal.

Leave a Comment

Related Post