Harakatuna.com – Sama seperti dalam proses membaca dan pembacaan, sebelum kemudian meningkat menjadi seorang penulis, atau produsen pengetahuan, generasi literasi juga disiapkan untuk bisa berkembang menjadi generasi yang bisa memahami dan menganalisis bahkan mengkritisi sesuatu yang disampaikan kepadanya.
Ia harus sudah dulu memahami apa yang ia baca, baru ia bisa mengonter, atau menulis ulang pemikirannya, agar ia menghasilkan karya alternatif, sebagai jawaban untuk memperkaya khasanah pengetahuan di negeri ini.
Menulis demi generasi literasi, di sini kita mengasumsikan bahwa tulisan-tulisan yang kita hasilkan itu memang akan dibaca oleh para generasi yang sudah sadar literasi ini, namun membaca saja ternyata tidak cukup.
Kegiatan membaca kemudian harus meningkat sebagai kegiatan pembacaan, yakni berani menafsirkan dan menghadirkan perspektif dan alternatif pikiran yang ada pada generasi tersebut. Sehingga kegiatan membaca ini, tidak cukup hanya berhenti pada kegiatan membaca saja, namun juga harus dibarengi dengan kegiatan menulis itu sendiri.
Tentu saja menulis ini tidaklah mudah. Meskipun Arswendo pernah mengatakan bahwa menulis itu gampang, jangan harap menulis akan jadi gampang tanpa adanya disiplin, kemauan keras untuk belajar, dan berbagi keresahan, perspektif, juga pengetahuan itu sendiri dengan tulisan.
Semangat berbagi ini tentu saja menjadi titik tolak, agar seseorang yang membaca tulisan kita misalnya, ia tergugah. Jadi tulisan atau karya sudah sepantasnya juga memberikan semacam spirit evokasi, yakni spirit untuk menggetarkan sekaligus menggugah rasa para pembacanya.
Seorang penulis, harus menyiapkan bahan-bahan bacaan dan pengetahuan kepada para generasi yang sudah sadar literasi ini. Sehingga mereka benar-benar bisa mengambil pelajaran dan pembelajaran dari karya-karya kita. Lalu yang diharapkan adalah generasi ini memiliki pandangannya sendiri dan bisa menuliskan pikiran dan keresahan mereka sendiri.
Dan tentu saja pola ini akan terus berputar ketika kesadaran literasi itu sudah mendarah daging menjadi suatu kebiasaan yang harus terus menerus dilakukan. Bahwa membaca dan menulis, atau mengkonsumsi pengetetahuan dan memproduksi pengetahuan itu sama pentingnya dengan makan, menjadi semacam kebutuhan pokok manusia.
Bagaimana pun juga peran-peran dari lembaga terkait tentu memiliki andil yang besar. Karena generasi literasi itu dibentuk melalui upaya-upaya yang dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan, dan memiliki durasi waktu yang lama. Tentu saja orang yang menulis dan orang yang tidak menulis itu akan terlihat jelas perbedaannya. Karena orang yang menulis itu ia bisa menstrukturkan pikiran dan pemikirannya terkait femonena atau sesuatu. Sedangkan orang yang tidak menulis, ia hanya berhenti pada proses mengkonsumsi pengetahuan tanpa pernah membaginya kepada orang lain.
Tentu saja di sini orang yang menulis hasil bacaannya akan sangat berbeda dengan orang yang tidak menulis. Dan menulis itu memang suatu kerja yang menuntut konsistensi dan disiplin tinggi. Sehingga ia juga harus memiliki pengetahuan yang mumpuni. Dan salah satu cara untuk mengisi tambang pengetahuannya, adalah dengan membaca.
Lagi-lagi membaca dan menulis ini adalah hubungan yang tak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, bahwa mereka ini sepaket, seperti koin, yang memiliki dua sisi yang berbeda, tapi saling terkait dan menjadi satu kesatuan. Mereka seperti simpul dan siklus.
Penulis pada dasarnya adalah seorang pembaca juga, seorang generasi literasi juga berasal dari generasi literasi sebelumnya. Ini adalah pola yang berulang. Semua sudah memiliki semacam garis benang merah, juga sebab akibat, sebagaimana takdir dan nasib seseorang, Sebelum menjadi penulis pasti mereka adalah pembaca, ini seperti siklus.
Mengapa bisa demikian? Karena ketika seseorang tengah menulis maka dia sudah memiliki tabungan bacaan yang banyak jumlahnya. Karena tanpa memiliki bahan bacaan yang banyak dan berkualitas, mustahil penulis ini akan menghasilkan tulisan atau karya yang bisa melahirkan generasi literasi selanjutnya.
Di tulisan saya sebelumnya, saya pernah menulis tentang analaogi sebuah teko, sebuah teko yang kosong dengan teko yang berisi penuh dengan air tentu saja berbeda bukan? Ketika kita haus teko mana yang kita pilih? Tentu saja teko yang berisi air.
Begitu juga seorang penulis. Seorang penulis itu ibarat teko, dan air adalah bahan bakar dia sebagai seorang penulis, air itu diibaratkan sebagai ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang penulis. Dan ketika teko itu dituang ke dalam cangkir-cangkir kecil maka teko itu sedang memberikan manfaat, membagikan air itu kepada orang-orang yang kehausan.
Dari analogi ini bisa kita simpulkan bahwa teko yang berisi air lalu dituangkan adalah seorang penulis yang sedang membagikan gagasannnya kepada khalayak ramai, kepada para pembaca, kepada generasi literasi itu sendiri. Dan seorang pembaca adalah orang-orang yang kehausan itu, orang-orang yang meminum air di cangkir itu, orang yang haus akan ilmu pengetahuan itu.
Maka dari sini kita sudah dapat memastikan bahwa seorang penulis sebenarnya adalah seorang pembaca juga. Sebab menurut hemat saya, seorang penulis adalah evolusi selanjutnya dari seseorang yang gemar membaca. Dan generasi literasi itu adalah generasi yang sudah sadar akan kemampuannya sebagai seorang pribadi, sekaligus sebagai kelompok sosial.
Ia sudah menyadari tentang dirinya dan lingkungannya, serta ia sudah bisa dan mampu mengkiritisi, menganalisis, dan memberikan pandangan serta pemecahan masalah terhadap lingkungannya, juga apa yang sedang ia hadapi dengan cara yang lebih dewasa dan bijaksana. Maka membaca dan menulis adalah kemampuan dasar yang seyogyanya mesti dimiliki oleh generasi literasi kita.







Leave a Comment