Harakatuna.com – Memahami diri ialah hal esensial dalam menjalani kehidupan ini. Namun, kadang ada kesan bahwa sebagian orang begitu tersedot perhatiannya untuk memahami orang lain, dan, pada saat yang sama kurang memahami dirinya sendiri. Ini menggelikan tetapi begitulah fenomena sosial menampilkan “wajah”-nya hari-hari ini.
Bukan berarti memahami orang lain itu keliru; bahkan amat keliru bila kita justru menuntut orang lain memahami kita. Tetapi, fokus saya lebih kepada jangan alpa untuk memahami diri masing-masing. Pemahaman terhadap diri bisa saja diperoleh dengan memerhatikan interaksi kita dengan orang lain dan mencermati sikap-sikap kita dalam aneka situasi yang, bisa dikatakan genting, mengharu biru, ataupun penuh kerlap-kerlip.
Namun, yang barangkali amat jarang disadari bahwa, menulis dapat menjadi jalan “elitis-esoteris” untuk memahami diri secara mendalam. Karena dengan menulis, kita sedang merajut benang-benang pikiran. Dari sana terpancar falsafah hidup, ideologi, dan corak berpikir.
Memang, tanpa aktivitas menulis, kita bisa juga memahaminya dalam tataran yang lebih terbatas. Karena tatkala hanya menghuni sistem mental, itu seperti kumpulan benang-benang yang kusut dan semrawut. Dengan menulis, maka kita ibarat menenunnya menjadi ide dan gagasan yang bernas—merapikan pikiran. Dan, tentu saja, dapat dibaca lagi di kemudian hari.
Tanpa menuliskannya, kita mudah lupa hal-hal penting yang pernah kita pikirkan. Hilang karena berbagai distraksi. Belum lagi momen atau kejadian yang menarik untuk dikenang. Pencerapan indra acap kali perlu dituliskan pula agar tidak lenyap begitu saja. Misalnya, tentang makna yang kita temukan dengan mengamati realitas kemasyarakatan di sekeliling kita.
Dengan menulis, maka hal-hal tersebut lebih empiris, mengejawantahkan apa yang berproses, bergelayut dan tersimpan dalam diri. Pada titik inilah, kita bisa mengindra yang tidak terindra.
Di samping itu, ‘menulis’ memiliki aspek keutamaan daripada ‘berucap’. Ucapan lisan itu lebih sering musnah, tak berjejak. Sedang saya berpendapat, ada bulir-bulir hikmah yang bisa kita petik, juga yang dapat kita pungut, bila kita mengerti jejak kepribadian kita. Perubahan yang terjadi dalam diri butuh dihayati sehinga dapat melakukan kritik diri. Untuk perbaikan diri.
Mungkin ada yang berpikir, ucapan atau pembicaraan yang penting dalam suatu pertemuan atau acara—yang juga merepresentasikan tentang diri—bisa saja direkam. Ya, ini betul. Tapi laku menulis secara otomatis merekam apa yang ditulis, yakni dalam bentuk tulisan. Bedanya, saya pikir, tulisan merekam suara pikiran dan hati dalam format yang jauh lebih sistematis.
Dalam tulisan itu istilah, frasa, kalimat, antarkalimat lebih tersusun, tertata, dan terstruktur. Karena itu, kita bisa “membaca” diri dengan lebih subtil dan sublim melalui tulisan.
Tulisan di sini, pada praktiknya, tidak hanya dalam bentuk esai, tetapi juga bisa berupa cerpen, puisi, rangkaian kalimat-kalimat pendek, dan lain sebagainya. Eksperimen semacamnya ini yang patut dilakukan untuk menjaring karakter diri. Jejaknya jelas dan lebih “teratur”; juga rapi.
Lebih lanjut, jikalau menulis itu eksperimen maka di mana laboratoriumnya? Nah, jawabannya terpulang pada diri kita masing-masing. Yang jelas, hasil eksperimennya ialah tulisan. Tulisan-tulisan yang tersiar juga akan memberi manfaat bagi pembaca. Itu karena dalam tulisan ada nilai dan pesan yang hendak dihantarkan.
Poin penting lain yang mesti digarisbawahi adalah, pemahaman penulis atas nilai-nilai (yang dimiliki penulis) dalam tulisannya jauh lebih dalam dan utuh dibanding pembaca. Pembaca, kalau katakanlah bisa menangkap secara komprehensif (meski probabilitasnya mendekati nol), tetap saja hanya tahu dan paham hasilnya. Malah boleh jadi hanya menangkap serpihan-serpihannya saja.
Sedangkan penulis sangat paham apa yang melatarbelakangi tulisan itu, bagaimana prosesnya, dan faset-faset dirinya yang ada pada tulisan itu. Termasuk upaya di balik hadirnya tulisan itu juga menunjukkan karakter diri sang penulis.
Dalam nuansa yang lebih cair, menulis bisa saja hanya berupa mendaftar impian-impian. Ini memang tampak sederhana, tetapi akibatnya jauh dari sederhana. Kalau Anda sudah pernah melakukan eksperimen yang ini, sila Anda bandingkan daftar impian tersebut dari waktu ke waktu. Ini mencerminkan diri Anda dan transformasi yang menyertainya.
Daftar impian bukan sekadar susunan kata-kata. Hal itu juga menjadi alarm bagi Anda untuk memperjuangkan apa yang belum dicapai. Pun bersyukur atas apa yang sudah diraih. Menjadi pengingat. Menjadi bahan bakar semangat.
Eksperimen lain yang layak dicoba ialah menulis surat untuk diri sendiri. Tentang apa? Apa saja yang penting dan perlu disampaikan kepada diri sendiri. Ingat, dalam bentuk tulisan, yakni surat. Dan, perhatikan bagaimana pengaruhnya!
Dengan memahami diri melalui tulisan-tulisan seperti yang dipaparkan di atas, juga tulisan yang semacamnya, maka kita bisa memahami diri dengan “mewah”. Mewah, maksudnya, soal cara memahaminya.
Harapannya, dengan memahami diri lebih baik maka kita bisa hidup dan berkehidupan dengan lebik baik pula. Jadi, menulislah!







Leave a Comment