Harakatuna.com – Saya percaya setiap insan manusia di muka bumi ini, beberapa sudah pernah merasakan putus cinta. Sudah memendam perasaan selama bertahun-tahun lamanya, selalu memberikan perhatian lebih kepada pasangan, dan memberikan hadiah spesial ketika hari ulang tahunnya. Namun ketika momen mengungkapkan perasaan kepada sang kekasih untuk jenjang yang lebih serius, tak jarang pula beberapa di antaranya justru ditolak.
Lalu bagaimana perasaan ketika cinta ditolak? Tentu rasanya sangat menyakitkan. Dunia serasa menjadi gelap dan senyuman kita pun menjadi hilang. Tak jarang pula orang yang putus cinta mengalami depresi, overthinking, hilang semangat hidup, dan parahnya ada pula yang sampai bunuh diri. Sungguh miris bukan? Tetapi itulah realita yang sering kita amati di masyarakat. Penolakan cinta dari pasangan membuat kita jadi hancur sehancurnya.
Masalah putus cinta harus diobati sesegera mungkin. Jika pengobatannya lama, rasa sakit ini akan menjadi penyakit yang dapat mengganggu jiwa dan fisik kita. Putus cinta dapat membuat kita sulit untuk fokus dalam bekerja, belajar, dan produktif untuk menghasilkan karya-karya besar untuk masyarakat. Adanya masalah ini, lalu apa obat yang manjur untuk mengobati putus cinta? Salah satu obatnya adalah menulis.
Ketika kita menulis saat cinta kandas, ada beberapa manfaat yang kita dapatkan dari kegiatan menulis itu. Salah satunya adalah menulis sebagai terapi emosional. Seorang psikolog Katharina Amelia Hirawan mengatakan bahwa menulis bisa menjadi terapi bagi orang-orang yang sedang mengalami gangguan psikologis. Gangguan psikologis tersebut berupa perasaan marah, kecewa, dan emosi negatif lainnya.
Selain itu, psikolog dari Universitas New South Wales, Karen Baikie, mengemukakan bahwa ketika kita menuliskan peristiwa-peristiwa yang penuh tekanan, emosi negatif dan hal-hal bersifat traumatis. Kegiatan menulis itu dapat membantu memberikan kesehatan pada fisik dan mental kita agar bisa menjadi lebih baik.
Jadi ketika mengalami putus cinta, kita sulit mengungkapkan perasaan emosi negatif ini ke orang lain. Maka, menuliskan perasaan ke dalam catatan harian bisa menjadi solusi ketika dihadapkan emosi-emosi negatif ketika putus cinta. Tentu tidak semua orang merasa nyaman menulis ketika sedang sedih. Namun bagi mereka yang mau mencoba, insyaallah dengan menulis dapat mampu meredakan emosi negatif yang timbul akibat cinta yang kandas.
Kemudian, menulis juga dapat menjadi pengalihan fokus kita agar bisa menjadi produktif menghasilkan karya-karya tulisan yang bermanfaat untuk masyarakat. Ketika seseorang mengalami putus cinta, tak jarang ia mengalami rasa kesedihan yang berlarut-larut lamanya.
Fokus pikiran terus berada di momen penolakan itu, dan terus terjebak pada kenangan masa lalu dengan sang kekasih. Bukankah fokus mengingat kenangan masa lalu dengan kekasih justru memperdalam luka? Jadi daripada anda tidak produktif dan terus fokus mengingat momen yang menyakitkan hati, bukanlah lebih baik kita alihkan fokus kita ke menulis?
Saya sendiri merasa kagum dengan mereka yang waktu hidupnya dimanfaatkan untuk menghasilkan karya-karya tulisan yang bermanfaat untuk masyarakat, sebagaimana Ibnu Sina. Menurut Abdul Halim, cendekiawan Muslim Indonesia, jumlah karya tulis Ibnu Sina mencapai 276 buah. Baik itu berupa surat-surat, buku, maupun ensiklopedia. Sungguh luar biasa banyak karya tulis Ibnu Sina bukan?
Dengan menulis, kita juga dapat mendokumentasikan pengetahuan yang kita miliki sehingga bisa memberikan informasi dan pemecahan masalah untuk masyarakat dalam pengembangan ilmu pengetahuan (Tarigan: 2013). Daripada berlarut-larut dalam kesedihan karena ditolak cintanya oleh pasangan, bukankah lebih baik kita fokus ke hal lain untuk menghasilkan sebuah tulisan yang mampu memberikan pemecahan masalah dan motivasi untuk masyarakat?
Kalau kita fokus berkarya, saya yakin ada sosok pasangan yang lebih baik nantinya datang sendiri kepada kita. Tidak hanya itu, ketika kita bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat untuk masyarakat, insyaallah tulisan kita nantinya bisa menjadi bekal pahala jariyah kita.
Cinta kandas akibat ditolak pasangan sudah seharusnya jangan sampai membuatmu berlarut dalam kesedihan. Harusnya anda sedih kepada diri anda sendiri. Sedih karena cinta membuat anda tidak bisa berkarya lewat tulisan. Sedih karena cinta membuat anda jauh dari Allah, sehingga anda tidak bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat untuk umat Islam.
Jadi kalau cinta memberikan bekas luka yang mendalam kepada diri kita. Apakah anda terus berada dalam luka tersebut? Membiarkan luka itu terus terbuka sehingga menjadi infeksi yang menghancurkan diri kita? Saya harap jangan sampai itu terjadi. Mari sembuhkan luka yang disebabkan oleh cinta yang kandas dengan menulis. Dengan menulis anda bisa menyampaikan keluh kesah dalam sebuah tulisan. Dengan begitu harapannya bisa meredam perasaan kecewa kita akibat penolakkan cinta itu.
Selain itu, menulis akan membuat kita fokus pada karya. Sebagaimana yang diungkapkan penulis novel “Ada Apa dengan Cinta” (AADC) 2, yaitu Nadia Silvirana Lubis. Beliau mengungkapkan”Kalau kalian merasakan sakit hati misalnya, jadikan itu sebagai ide tulisan kita. Pokoknya, kalian jangan putus asa, sakit hati boleh, tapi jadikan rasa sakit itu menjadi peluang untuk lebih produktif lagi”. Sehingga sakit hati jangan membuat kita hilang semangat, tetapi jadikan bahan bakar untuk menghasilkan karya tulisan yang bermanfaat untuk masyarakat.
Kalau Anda mengalami putus cinta, daripada berlarut-larut dalam kesedihan, bukankah lebih baik anda menulis? Semoga tulisan ini harapannya bisa menjadi obat meredam emosi negatif, sekaligus motivasi kita. Motivasi kita agar bisa menghasilkan tulisan-tulisan yang dapat memberikan inspirasi ke masyarakat. Amin ya Rabbal Alamin.







Leave a Comment