Harakatuna.com – Saat kecil, aku sering menghabiskan waktu berjam-jam di kamar. Waktu itu, aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menyusun balok-balok lego yang berserakan. Aku waktu kecil suka bermain lego. Kadang dari lego itu aku membangun rumah, kadang mobil-mobilan, dan kadang aku sendiri juga tidak tahu apa yang sedang aku bentuk. Waktu itu aku tidak peduli apakah susunannya bagus atau tidak. Bagiku yang penting bisa senang. Bagiku yang penting bisa membuat sesuatu dari potongan-potongan kecil yang awalnya berserakan.
Kini saya sadari, apa yang saya lakukan saat kecil itu tidak jauh berbeda dengan apa yang saya lakukan sekarang ini yaitu menulis. Ya, menulis itu ternyata sama seperti menyusun kepingan lego.
Ketika seseorang menulis, ia seperti memulai dari tempat kosong. Layaknya lantai kosong tempat bermain lego. Di sana belum ada apa pun. Namun, di dalam kepala kita terdapat ide-ide kecil yang bertebaran. Ada potongan kalimat, ada bayangan suasana, ada gambaran tokoh, ada perasaan yang ingin diceritakan. Semuanya belum tersusun. Seperti potongan lego, mereka butuh waktu untuk dirangkai menjadi sesuatu yang utuh.
Menulis tidak bisa langsung menghasilkan tulisan bagus. Bahkan penulis hebat pun sering menghapus, merevisi, mengganti satu kata dengan kata lain. Persis seperti saat aku bermain lego dulu. Aku harus membangun, membongkar lalu menyusun ulang. Kadang susunannya sudah hampir jadi, tapi kemudian aku sadar ada bagian yang miring. Aku bongkar sebagian dan susun ulang. Dalam menulis pun sama. Sudah menulis beberapa paragraf, namun pas dibaca kembali terasa ada yang tidak pas. Aku tentunya harus mengulang lagi. Entah diulang lagi dari tengah, bahkan kadang dari awal tulisan.
Hal yang membuat menulis terasa menyenangkan sama seperti bermain lego adalah kebebasannya. Kalau menyusun lego kita bebas membentuk apa pun. Sedangkan dalam menulis kita bisa menciptakan dunia baru, tokoh-tokoh yang belum pernah ada, atau menuliskan pengalaman pribadi yang bermakna. Kita bisa bermain-main dengan gaya, memilih alur, mengatur suasana. Semua ada di tangan kita. Dan seperti lego, tak ada satu pun susunan yang benar-benar salah, selama kita punya tujuan dan arah.
Namun tentu, menulis bukan berarti tanpa tantangan. Sama seperti menyusun lego, kadang kita bingung harus mulai dari mana. Waktu menyusun lego, aku sering berpikir keras untuk menentukan balok mana yang cocok untuk bagian tertentu. Aku pernah frustrasi karena warna yang tidak serasi atau karena bentuk yang tidak sesuai. Menulis juga sama dengan menyusun kepingan lego. Ada kalanya aku bingung mencari kata yang tepat. Sudah menulis dua paragraf, tapi terasa hambar. Terpaksa aku hapus dan tulis ulang. Begitu terus sampai akhirnya terasa pas.
Aku juga ingat, waktu kecil. Aku tidak pernah takut salah saat menyusun lego. Kalau bentuknya jelek, tinggal dibongkar dan susun ulang. Harusnya menulis juga begitu. Jangan takut salah. Jangan takut tulisan kita tidak bagus. Sebab semua penulis hebat pun pasti pernah membuat tulisan yang tidak bagus. Hal yang penting itu adalah kita harus mau mencoba dan terus belajar.
Dalam proses menulis, kita juga belajar banyak hal. Kita belajar berpikir jernih. Kita belajar menyampaikan sesuatu dengan runtut. Kita belajar memilih kata yang pas, bukan hanya indah, tapi juga tepat. Sama seperti dalam lego, kita tidak bisa asal susun. Harus ada logikanya. Kalau mau membangun jembatan, baloknya harus seimbang. Kalau mau membuat menara, pondasinya harus kuat.
Menulis dan menyusun lego sama-sama mengajarkan kesabaran. Terkadang kita butuh waktu lama hanya untuk membuat rumah dari lego. Sama halnya dengan menulis. Kadang kita menulis satu halaman bisa duduk berjam-jam. Kita juga banyak menghabiskan waktu untuk menghapus, menulis ulang, memperbaiki satu kata, lalu membaca ulang. Tapi dari situ, kita belajar bahwa menjadi penulis yang baik memang butuh proses. Kesempurnaan tidak datang dari sekali coba, tapi dari keberanian untuk terus mencoba.
Hal yang menarik dari kesamaan menyusun lego dan menulis adalah setiap orang punya gaya menyusun lego maupun menulisnya sendiri. Tidak ada dua anak yang menyusun lego dengan bentuk yang sama, tidak ada dua orang yang menulis dengan cara yang persis sama. Ada yang suka menulis dengan gaya santai, ada yang lebih serius. Ada yang suka cerita fiksi, ada yang lebih suka menulis pengalaman nyata. Semuanya sah. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Hal yang paling penting adalah tulisannya jujur dan punya makna ketika dibaca.
Sekarang aku mungkin tidak lagi bermain lego sesering dulu. Tapi aku tetap menyusun sesuatu. Bukan dari balok plastik, tapi menyusun kata-kata dari tulisan. Menulis itu rasanya tetap sama menyenangkan seperti bermain lego. Ketika tulisan selesai, aku merasa seperti anak kecil yang berhasil membangun sesuatu yang dapat dibanggakan. Rasanya hangat. Rasanya puas.
Jadi jika kamu merasa bingung saat mulai menulis, bayangkan saja sedang bermain lego. Tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dari satu kalimat. Lalu sambungkan dengan kalimat lainnya. Kalau salah, tidak apa-apa. Bongkar dan susun ulang. Nikmati prosesnya. Sebab dari susunan kata yang sederhana, kamu bisa membangun cerita, membangun makna, dan membangun pemahaman pembaca yang membaca tulisan kamu.
Menulis itu seperti menyusun lego. Kita mulai dari kosong, lalu perlahan-lahan menyusun bagian demi bagian. Kita bisa gagal, kita bisa salah, tapi kita bisa memperbaiki dan menyusun ulang. Kita belajar sabar, belajar berpikir, dan belajar merasa. Lalu pada akhirnya, kita menciptakan sesuatu yang bukan hanya indah, tapi juga bermakna.
Jadi jika kamu ingin mulai menulis, maka jangan takut. Ambil satu potongan ide kecil, tulis satu kalimat, lalu lanjutkan. Perlahan tapi pasti. Sama seperti bermain lego. Hal yang paling penting mulai dulu, nikmati prosesnya, dan lihat bagaimana dari potongan-potongan kecil itu kamu bisa membangun sesuatu yang luar biasa.







Leave a Comment