Harakatuna.com – Menulis tidak selalu didahului dengan ide yang cemerlang. Bila pikiran sudah penuh, tetapi kata tak mau keluar, bagaimana akan mengeksekusi menjadi sebuah kalimat? Terkadang menulis itu dimulai dari duduk lama, menatap kertas atau layar kosong, lalu memahami kalau hari ini sunyi. Maksud dari sunyi ini bukanlah estetika atau suatu hal yang romantis, melainkan merupakan suatu kenyataan kerja.
Menulis tidak seperti berbicara. Ia tidak memerlukan ide dan respons instan. Juga tidak ada tepuk tangan di sela-sela berlangsungnya proses. Karena butuh rentang waktu yang panjang, maka sepantasnya seorang penulis harus mampu berlatih konsisten agar hasil tulisan berkualitas baik. Inilah sebabnya mengapa banyak orang yang menyerah secara diam-diam, sementara mereka masih di tahap proses menulis.
Belum sampai pada tahap editing, stagnan di halaman kelima, rasanya ingin angkat tangan. Tidak ingin melanjutkan, melepaskan ikhtiar di tengah jalan menuju harapan. Sehingga begitu penting bagi seorang penulis untuk senantiasa rajin membaca serta mengamati hal-hal baru di dunia luar agar semakin memperluas wawasan.
Menulis dapat dilakukan di tempat mana pun dan kapan pun. Singkatnya, tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Berbeda dengan pekerjaan lain yang biasanya dilakukan di kantor, kelas, pabrik, atau di keramaian. Justru seorang penulis memerlukan suasana yang sunyi untuk bisa berkonsentrasi merangkai setiap kata yang akan ditorehkan menjadi suatu paragraf.
Sunyi yang Sering Disalahartikan
Makna sunyi sering kali disalahartikan. Ada yang berpendapat bahwa sunyi itu berkaitan dengan tidak produktif atau tidak berbakat. Ada pula yang mengartikan jika seseorang yang berada dalam kesunyian, berarti ia sedang buntu. Faktanya, penulis membutuhkan momen-momen yang sunyi agar dapat fokus menumpahkan gagasan yang terpendam. Di saat itulah sunyi bukan berarti diam, melainkan pikiran sedang bekerja.
Agar kata-kata dapat menjadi sebuah tulisan, maka diperlukan kebiasaan supaya seseorang dapat mencurahkan ide-idenya bagaikan air yang mengalir. Pada saat aktivitas menulis berlangsung, tentu penulis pernah merasakan waktu berjam-jam yang tidak menghasilkan apa-apa. Sudah berlama-lama mengetik dua hingga tiga paragraf, tetapi akhirnya dihapus lantaran dilanda keraguan yang mengetuk tanpa suara.
Ragu apakah paragraf yang ditulis sudah sesuai dengan topik artikel atau malah melebar ke mana-mana. Ini persoalan wajar yang menimpa penulis kebanyakan, terutama bagi penulis pemula. Dimulai dari mencari topik, riset sumber referensi, membaca, memahami hingga menganalisis menjadi sebuah kalimat utuh, inilah kerja yang sebenarnya.
Dunia yang Terlalu Berisik untuk Menulis
Di era digital yang kita jalani, hari demi hari bergerak terlalu cepat, sementara kerja membutuhkan diam dan waktu yang tidak sebentar. Layar gadget selalu aktif, notifikasi berdering silih berganti, dan perhatian ditarik ke Youtube, TikTok, atau media sosial lain yang menjadikan kegiatan menulis gampang terdistraksi.
Menulis, aktivitas yang menuntut jeda dan kehadiran pikiran yang fresh, kerap kali kalah sebelum sempat dimulai. Ketika ada suatu peristiwa terjadi, kita diminta segera bereaksi, berbagi, dan tampak ikut serta. Sedangkan pada saat menulis justru diperlukan waktu untuk tidak terlihat sama sekali. Dalam kebisingan semacam ini, sunyi terasa asing, bahkan tampak seram. Realitanya, tanpa sunyi, kata dan frasa jarang benar-benar matang.
Di masa FOMO ini, ada beberapa di antara penulis yang menghendaki agar tulisannya menjadi viral. Ada pula yang ingin sekadar berbagi keilmuan. Penulis yang menginginkan hasil karyanya viral, mungkin ia bermimpi untuk menjadi penulis ternama. Namun, layak untuk diingat bahwa tuntutan biar cepat viral memerlukan proses jangka panjang.
Penulis harus senantiasa mengasah skill literasinya dengan membaca dan berlatih menuangkan isi kepala, bisa di handphone, laptop, ataupun di notebook. Meskipun hanya dua sampai lima kalimat dalam sehari, lambat laun rutinitas itu akan melahirkan satu atau dua paragraf, yang kemudian akhirnya menjadi sebuah teks lengkap.
Sunyi yang Layak Dihormati
Di sini ada yang harus digarisbawahi, yaitu bertahan di dalam sunyi bukan berarti memaksakan diri untuk terus menulis, akan tetapi bersedia tinggal lebih lama bersama pikiran sendiri. Ada momen manakala kata-kata tidak bisa datang, yang tersisa hanya keraguan semata.
Dari situlah menulis menguji kesabaran dan mental, apakah kita akan beranjak meninggalķan kata, lalu mencari selingan, atau tetap merenung memberi waktu. Menulis tidak butuh kecepatan, tetapi kesetiaan untuk kembali lagi dan lagi. Menulis merupakan pekerjaan yang fleksibel, pada umumnya dilakukan secara individu.
Apabila menulis terasa sepi, kamu tidaklah salah arah. Memang sebenarnya kamu sedang bekerja. Di sinilah kehadiran sunyi pantas dihormati. Tidak semua pekerjaan perlu disaksikan, diketahui maupun terlihat produktif. Menulis cukup dijalankan, dalam sunyi, dan bertahan.
Sunyi mengajarkan kepada kita untuk berdamai dengan kesepian sebagai bagian dari kesempatan bertumbuh serta berkreativitas, bukan untuk dihindari keberadaannya. Menulis bisa dibilang pekerjaan sunyi. Tanpa perlu pengakuan atau label juara, cukup dengan konsistensi kecil, maka satu buah tulisan akan melahirkan kemaslahatan yang berguna bagi orang lain di masa kini maupun nanti.
Apa pun yang terjadi, tetaplah menebarkan informasi atau segala sesuatu yang positif, tidak begitu peduli apakah ada yang minat membacanya ataukah tidak. Di sepanjang hayat, karyamu akan tertancap di memori orang-orang yang membacanya. Selagi tulisan tersebut terus mengantarkan manfaat hingga kamu meninggalkan semesta.









Leave a Comment