Menulis (dengan) Tanpa Guru

Moh Rofqil Bazikh

28/09/2024

4
Min Read
menulis

On This Post

Harakatuna.com – Jika Anda meyakini tulisan ini adalah panduan menjadi penulis tanpa seorang guru, maka salah besar. Mungkin juga kecewa karena tulisan ini tidak sedang dalam posisi menafikan guru. Bagaimana pun guru tidak akan pernah pernah bisa dinafikan keberadaannya. Saking spesialnya guru ini, bahkan Imam Ali rela menjadi budak orang yang mengajarinya satu huruf. Bayangkan satu huruf, saudara-saudara! Bagaimana kalau dua, tiga, empat, dan seterusnya? Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. 

Kita tidak menutup-nutupi dalam persoalan tulisan butuh guru. Perdebatannya mungkin berkisaran pada kriteria guru itu. Siapakah guru dalam dalam dunia tulisan? Apakah ia yang senantiasa memberi arahan? Di poin ini saya pasti berbeda dengan Anda, percayalah. Posisi saya tidak sedang menafikan kebutuhan seorang penulis terhadap guru. Saya hanya mencoba memperluas guru dalam horizon penulis. Jangan bayangkan istilah guru di sini eksklusif milik mereka yang memberi arahan langsung. Tidak sesempit dan sesederhana itu.

Memang benar, awalnya orang yang mengarahkan perihal tulisan yang kita sebut guru. Kenyataan tersebut berubah tatkala tulisan mencari peruntungannya. Maksudnya, ia kemudian dikirim ke media—entah itu cetak atau daring. Persis pada saat itulah guru penulis bertambah. Anda pasti bertanya-tanya, bagaimana bisa itu terjadi. Begini, kita telah melempar tulisan ke meja perjudian redaktur. Kalau bernasib baik, tulisan kita layak, maka dimuat. Jika tidak, maka dari sana Anda bisa belajar, dari penolakan-penolakan itu. Saya terbiasa mengevaluasi tulisan-tulisan saya yang banyak ditolak mentah-mentah. 

Bukankah dengan begitu penolakan menjadi cambuk buat Anda belajar? Penolakan itu justru mencambuk Anda agar bereksperimen lagi. Tetapi, ini hanya berlaku bagi penulis dengan mental yang tidak keropos. Sementara, redaktur menjadi agen tunggal di balik penolakan, di satu sisi penulis berguru kepadanya. Lebih-lebih kepada media yang gawangnya dijaga oleh si redaktur itu. Anda boleh menyanggah dengan mengatakan dimuat media atau tidak bukan ukuran kualitas tulisan.

Memang, bukan itu yang saya maksud. Tidak pernah terlintas untuk mengatakan setiap tulisan yang tayang adalah jaminan mutu. Poinnya jelas, saya hanya memposisikan penolakan redaktur sebagai guru. Secara khusus, sebagai pecut agar mengevaluasi tulisan yang tidak menarik dan tertolak itu. Sampai di sini jelas, cara mengajari ala seorang redaktur hanya satu: penolakan. Jarang sekali redaktur basa-basi dengan penulisnya, sekadar menanyakan titik-koma. Apalagi untuk menguji kesalahan berpikir dan argumentasi yang tak logis. Nyaris mustahil.

Tetapi, dengan cara seperti itu penulis malah mandiri. Setidaknya mandiri mengoreksi tulisan-tulisannya. Lagi-lagi, ini hanya berlaku bagi calon penulis yang tekun. Seorang yang tidak pernah jemu-jemu untuk membongkar pasang susunan kalimat dan paragraf. Itu adalah skenario keguruan ketika tulisan tertolak. Lain cerita ketika tulisan disetujui hingga naik tayang. Kemungkinan guru kita dalam dunia tulisan akan bertambah. Sungguh. Kemungkinan pembaca tulisan kita dapat menjadi korektor tulisan kita selanjutnya.

Pada posisi yang seperti itu, tulisan kita bukan sesuatu yang paripurna. Ketika sudah lolos dari perangkap redaktur, tulisan kita berada di nasib selanjutnya. Kita sebagai penulis akan bertemu dengan guru baru yang mungkin lebih ganas. Mungkin juga jauh lebih melempem. Di sidang pembaca ini, tulisan ini lagi-lagi berada di meja perjudian.

Kalau mujur ia akan dibaca banyak orang dan bahkan diperbincangkan. Anda pasti akan menyanggah dengan menyatakan untuk sampai pada taraf tulisan diperbincangkan adalah hal sukar. Saya sudah katakan ‘kalau mujur’, setidaknya tulisan akan menemui nasib dan gurunya yang baru. Kendati di akhir tidak jarang nasibnya sangat tragis. 

Sampai pada titik ini saya hanya menegaskan posisi guru dalam tulisan. Ia tidak secara khusus milik orang yang senantiasa memberi arahan. Pembaca yang kritis, redaktur yang kerap menolak tulisan, mereka juga guru penulis. Penulis yang tidak pongah akan mengakui sumbangsih penolakan redaktur dan catatan pembaca. Dua guru ini yang kerap dilupakan oleh penulis, barangkali oleh saya juga. 

Sebagaimana saya katakan di awal, jika berharap tulisan ini menafikan guru, maka keliru. Guru itu adalah hal yang niscaya, pastinya dengan ragam variannya. Dan guru paling paripurna mungkin adalah pengalaman kita. Ingat ungkapan experience is the best teacher. Ya, pengalaman berhadapan dengan penolakan redaktur, lalu merombak tulisan. Mungkin juga pengalaman bertemu dengan pembaca yang cerewet. Semua itu guru, meski kita tidak harus menggugu atau meniru.

Leave a Comment

Related Post