Harakatuna.com – Tidak semua dari kita mengenal betul siapa diri kita. Apa yang sebenarnya kita cari? Siapa sebenarnya diri kita ini? Hendak ke mana kita? Dari mana asal kita? Pertanyaan-pertanyaan tersebut memancing rasa penasaran kita untuk mencari dan menemukan identitas diri yang sebenarnya.
Sebab, tidak sedikit sebagian dari kita yang memang kesulitan untuk mengerti dan memahami betul identitas dan jati diri kita. Termasuk impian-impian kita sebagai manusia kadang terpengaruh oleh lingkungan. Tidak murni berasal dari kesadaran dalam diri. Sebagian dari kita masih berupaya untuk mengenali diri sendiri. Termasuk sifat, sikap, dan potensi dirinya. Termasuk juga visi-misi hidupnya. Dalam hal ini, sarana yang bisa dilakukan untuk mengenali diri yaitu dengan menulis.
Ya, aktivitas menulis, khususnya menulis bebas, akan membuat kita semakin tahu gejolak emosi dalam diri. Menulis secara bebas dan lepas tidak hanya membuat pikiran semakin tertata. Namun juga bisa membuat emosi jauh lebih stabil. Bahkan, kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu dengan melakukan refleksi diri dengan rutin menulis. Percayalah, menulis ini tidak hanya mengasah intelektualita kita.
Lebih dari itu, bisa menjadikan kita memandang beragam persoalan dengan memakai banyak sudut pandang. Tidak hanya memandang dengan kacamata hitam putih, tidak gampang menghakimi orang-orang yang berbeda pandangan dengan kita. Tidak gampang menyalahkan orang-orang yang memiliki pendapat yang berlainan dengan kita. Refleksi diri melalui tulisan akan menjadikan pikiran lebih jernih dalam memandang sesuatu. Lebih matang dalam bersikap. Tentu saja menulis dengan penuh kesadaran dan penghayatan.
Menulis secara istikamah membuat kita bisa mengenali dan mendeteksi lebih dini lintasan pikiran negatif kita. Luapan pikiran dan perasaan tersebut perlahan bisa kita pahami. Sehingga, dengan menulis akan menyadarkan dan mencerahkan diri kita. Bisa membuat kita jauh lebih waspada dan berhati-hati akan adanya pikiran negatif. Sehingga, saat itu juga bisa mengatur lagi pikiran agar kembali positif. Sebab, pikiran positif ini sangat mendukung dalam proses pencapaian cita-cita besar kita. Pikiran positif berkaitan dengan rasa optimistis kita dalam menghadapi segala sesuatu.
Saya meyakini sepenuhnya bahwa menulis adalah cara yang cukup ampuh untuk lebih mengenali diri sendiri. Setiap orang memiliki cara dan prosesnya masing-masing dalam mengenali dirinya sendiri. Belum tentu orang yang usianya sudah tua, dia bisa kenal dengan dirinya sendiri. Belum tentu juga orang yang usianya relatif muda belum mengenal dirinya. Kenal terhadap diri kita sendiri tidak ada sangkut-pautnya dengan usia.
Kedewasaan dalam berpikir dan kebijaksanaan dalam bersikap tidak berkorelasi dengan usia. Sebab, banyak di luar sana, orang-orang yang usianya tua, namun tingkah polahnya masih seperti anak. Pola pikir dan perangainya tidak selaras dengan usianya. Ada juga yang usianya masih muda tapi memiliki kematangan dalam bersikap. Memiliki pemikiran yang bijak. Tidak semuanya orang tua itu dewasa. Tua dan dewasa itu hal yang berbeda. Kedewasaan seseorang tercermin dalam ucapan, tindakan, dan kebiasaan hidupnya. Hal itu biasanya juga bermula ketika sudah mengenali dirinya sendiri.
Sekali lagi, setiap orang memiliki proses yang berbeda-beda dalam mengenali dirinya. Ada yang lewat pendidikan formal, ada yang melaluii pengalaman hidup, ada yang melaui perenungan mendalam, ada juga yang melalui keistikamahan dalam menulis, dan sebagainya. Lalu muncul pertanyaan dalam benak kita: Kenapa dengan menulis bisa mengenali diri sendiri?
Alasannya yaitu, karena dengan menulis, khususnya menulis di jurnal harian, kita bisa jujur dengan diri kita sendiri. Kita menjadi diri kita sendiri ketika menulis. Dengan menulis bebas dan lepas di buku harian, kita bebas sebebas-bebasnya untuk menunjukkan identitas dan jati diri kita sendiri. Tidak perlu pencitraan, tidak perlu menjadi orang lain. Sebab, yang tahu isi tulisan tersebut yaitu kita, malaikat, dan Tuhan tentunya.
Selain itu, tidak ada yang tahu. Bahkan, orang-orang terdekat kita pun tidak tahu. Sebab, catatan tersebut adalah murni catatan pribadi kita. Sangat personal sifatnya. Kecuali suatu saat kita bagikan ke orang lain, baik di media sosial atau dicetak menjadi buku misalnya. Itu lain cerita. Intinya, dengan menulis di catatan harian, kita bebas mengungkapkan pandangan hidup kita terkait banyak hal. Kita bebas untuk menuangkan imajinasi terkait masa lalu, masa kini, dan masa depan tentunya,.
Menulis catatan harian secara rutin membuat kita bisa menggali potensi diri yang mungkin selama ini masih terpendam. Lewat menulis di buku harian kita bisa menuangkan ide-ide progresif dan brilian terkait banyak hal. Melalui menulis di catatan harian, kita bisa melontarkan ragam pertanyaan-pertanyaan radikal dan kritis. Dengan menulis di catatan harian kita bisa meneropong dan menelusuri lebih dalam siapa sebenarnya diri kita ini.
Dengan menulis di catatan harian kita bisa mencoba mengenali watak dan kepribadian diri. Hal tersebut sebagai pengingat diri agar senantiasa berupaya melakukan perbaikan dan evaluasi. Tentunya agar menjadi pribadi yang berakhlak dan bermanfaat. Jadi, mari mulai mengenali diri dengan rajin menulis di catatan harian. Semakin kenal kita terhadap diri kita, maka akan semakin tergerak dan bersemangat untuk meraih cita-cita besar kita. Semakin terdorong untuk menjadi pribadi yang humanis dan religius.







Leave a Comment