Menjembatani Gagasan Menuju Kemerdekaan

Firda Adinda Syukri

24/08/2025

5
Min Read
Kemerdekaan

On This Post

Judul Buku: Mentjapai Indonesia Merdeka, Penulis: Ir. Soekarno, Penerbit: Rowland Book Collections, Tahun Terbit: Reproduksi Teks Asli 1933. Cetak Ulang Modern, Tebal Buku: 80 Halaman, Peresensi: Firda Adinda Syukri.

Harakatuna.com – Tahun 2025 menandai 80 tahun sejak Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945. Delapan dekade adalah waktu yang cukup untuk meninjau kembali arah perjalanan bangsa dan menguji kokohnya fondasi yang dibangun. Dalam momen peringatan seperti ini, selain menyentuh kepekaan sejarah, membaca ulang Mentjapai Indonesia juga mengukur sejauh mana gagasan awal kemerdekaan terwujud dan bagian mana yang masih tertinggal.

Risalah yang ditulis Soekarno pada 1933 itu menegaskan bahwa kemerdekaan tidak dimaknai sebatas perubahan status politik, melainkan sebagai gerbang menuju cita-cita sosial dan ekonomi yang berkeadilan.

Maret 1933, Soekarno menulis Mentjapai Indonesia Merdeka di Pangalengan, setelah kembali dari perjalanan keliling Jawa Tengah untuk menggerakkan rakyat. Tekanan politik kala itu mempersempit ruang geraknya, sehingga ia memilih merumuskan risalah singkat yang mudah dibaca dan murah diterbitkan, sebagai panduan bagi anggota baru pergerakan memahami arah perjuangan.

Buku ini memuat sepuluh bagian. Pada awal pembahasan, Soekarno menjelaskan alasan Indonesia belum merdeka. Ia menilai imperialisme lama yang mengandalkan kekuatan senjata telah bergeser menjadi imperialisme modern yang bekerja melalui jalur ekonomi, pendidikan, dan politik. Kolonialisme mempertahankan kendali fisik sekaligus membentuk pola pikir rakyat agar tunduk. Soekarno menegaskan, kemerdekaan hanya mungkin terwujud jika rakyat memahami mekanisme pengekangan ini.

Bagian berikut risalah ini membangkitkan semangat kebangsaan. Soekarno menggambarkan Indonesia sebagai tanah yang mulia dan layak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa Timur lain yang mulai bangkit. Ia menolak pandangan bahwa kemerdekaan terlalu tinggi untuk dicapai. Bagi Soekarno, kemerdekaan adalah keniscayaan jika bangsa bersatu dan mampu mengorganisasi kekuatan politiknya.

Peran partai politik ia sorot sebagai wadah ujung tombak. Partai harus menjadi alat pengorganisasi rakyat, pusat pendidikan politik, dan wadah membentuk kekuatan yang terarah. Ia mengkritik partai yang terjebak menjadi forum elite atau ruang diskusi sempit, karena tanpa machtsvorming—kekuatan terorganisasi—kemerdekaan akan tetap jauh dari jangkauan.

Di tengah risalah, Soekarno memperkenalkan gagasan “jembatan emas”. Ia memandang kemerdekaan nasional sebagai jalan penghubung menuju cita-cita sosial dan ekonomi yang adil. Selama kemerdekaan belum tercapai, setiap program kesejahteraan akan bergantung pada kendali asing. Bagi Soekarno, kemerdekaan adalah prasyarat mutlak untuk membangun sistem politik dan ekonomi yang berpihak pada rakyat.

Kritiknya yang paling tajam ditujukan pada perpecahan gerakan. “Sana mau ke sana, sini mau ke sini,” tulisnya untuk menggambarkan ketiadaan kesepakatan arah. Ia mengingatkan bahwa strategi bisa berbeda, tetapi tujuan harus sama. Tanpa kesatuan arah, kekuatan terpecah dan perjuangan kehilangan tenaga.

Menjelang penutup, Soekarno menggambarkan kehidupan setelah kemerdekaan tercapai. Indonesia yang berdaulat berarti bebas menentukan arah politik, mengatur perekonomian untuk kepentingan rakyat, dan membangun kehidupan sosial sesuai kehendak bangsa. Baginya, kemerdekaan bukan garis akhir, melainkan titik awal pekerjaan besar membangun negara.

Kekuatan risalah ini terletak pada ketegasan arah dan kejernihan strategi. Soekarno mengaitkan dinamika politik internasional dengan situasi lokal melalui bahasa yang jelas. Kalimatnya singkat, tegas, dan mudah diingat. Ia berbicara langsung kepada rakyat, menumbuhkan kepercayaan diri kolektif, dan menekankan disiplin serta organisasi sebagai kunci perjuangan.

Keterbatasannya ada pada sifatnya yang padat. Beberapa gagasan hanya disentuh sekilas, seperti konsep jembatan emas yang baru ia jelaskan lebih luas di tulisan lain. Bagi pembaca yang menginginkan uraian teoretis mendalam, buku ini mungkin terasa singkat. Namun konteks sejarah menjelaskan pilihan itu: risalah ini dibuat untuk dibaca cepat, dipahami banyak orang, dan disebarkan luas tanpa membebani biaya cetak.

Dibaca hari ini, Mentjapai Indonesia Merdeka tetap memegang relevansi. Pesan tentang kesadaran politik, kesatuan arah, dan pembentukan kekuatan rakyat terasa penting di tengah polarisasi. Risalah ini mengingatkan bahwa kemerdekaan tidak datang sebagai hadiah, melainkan harus diambil oleh rakyat yang sadar haknya.

Soekarno menegaskan bahwa perbedaan strategi tidak boleh mengaburkan tujuan akhir. Dalam suasana ketika kata “kemerdekaan” kerap menjadi slogan kosong, ia mengembalikan makna sejatinya: kedaulatan untuk menentukan nasib sendiri, menyusun kebijakan tanpa tekanan luar, dan memastikan kesejahteraan rakyat.

Ditulis di tengah represi, risalah ini lahir dari pikiran yang terarah pada langkah konkret. Soekarno menawarkan jalan yang dapat ditempuh: membangkitkan kesadaran rakyat, mengorganisir mereka melalui partai yang efektif, membentuk kekuatan politik yang solid, dan menyiapkan visi pascakemerdekaan. Ia tidak berhenti pada seruan, tetapi memberi panduan yang bisa diikuti.

Nilai buku ini ada pada kemampuannya memadatkan strategi perjuangan ke dalam format singkat. Dalam 68 halaman, Soekarno menempatkan kemerdekaan sebagai inti perjuangan, mengingatkan bahaya perpecahan, dan menekankan disiplin organisasi. Ia menulis untuk menggerakkan rakyat, bukan memanjangkan wacana akademik.

Bagi pembaca yang ingin memahami arah pikir Soekarno sebelum proklamasi, risalah ini adalah dokumen penting. Ia menunjukkan kemampuannya memadukan keberanian politik, pembacaan situasi global, dan pemahaman mendalam atas kondisi rakyat. Tujuan, strategi, dan tahapan perjuangan diuraikan dengan jelas, sehingga tetap relevan meski konteks zaman bergeser.

Memasuki 80 tahun kemerdekaan, semestinya kita mampu menghidupkan kembali gagasan yang diamanatkan dalam risalah itu. Jika boleh saya tafsirkan, amanat Soekarno dalam Mentjapai Indonesia Merdeka dapat dikelompokkan menjadi dua:

Untuk pejabat negara:

  1. Menempatkan kebijakan nasional sepenuhnya pada kepentingan rakyat, bukan tekanan atau kepentingan luar.
  2. Menjaga kesatuan arah di tingkat kepemimpinan agar energi bangsa tidak habis dalam konflik internal.
  3. Memperkuat organisasi politik dan institusi negara sebagai alat perjuangan, bukan sekadar wadah formal kekuasaan.
  4. Menghindari kompromi yang menggerus kedaulatan politik maupun ekonomi.
  5. Menjadikan kemerdekaan sebagai landasan membangun kesejahteraan, bukan sekadar simbol upacara.

Untuk rakyat:

  1. Memahami bahwa kemerdekaan lahir dari perjuangan kolektif yang harus terus dijaga.
  2. Terlibat aktif dalam organisasi politik atau sosial yang membawa kepentingan bersama.
  3. Menolak perpecahan yang merugikan, sekalipun pandangan berbeda.
  4. Mengawasi jalannya pemerintahan agar selaras dengan cita-cita kemerdekaan.
  5. Menyiapkan diri menghadapi tantangan global dengan persatuan dan kesadaran akan hak bangsa.

Dengan dua jalur pesan itu, risalah Soekarno memberi arah yang jelas: menghadapi tekanan global, persaingan ekonomi, dan ancaman perpecahan dengan kekuatan persatuan. Ia mengajak bangsa ini melampaui seremonial kemerdekaan, menuju kedewasaan politik dan kesejahteraan yang nyata bagi rakyatnya.

Selamat sejahtera, bangsaku. Semoga usiamu terus panjang, dengan daya juang yang tak pernah surut dan langkah yang semakin tegap menuju kedaulatan dan kesejahteraan.”

Leave a Comment

Related Post