Judul Buku: Bahagia Beragama Bersama Gus Baha, Penulis: Khoirul Anam, Penerbit: Quanta, Jakarta, Cetakan: Edisi Digital, 2023, Tebal: xv+144 halaman, ISBN: 978-623-00-3476-3, Peresensi: Sam Edy Yuswanto.
Harakatuna.com – Islam adalah agama yang mengajarkan kepada kita agar menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan. Tentu saja, kebahagiaan di sini tidak hanya ketika kita masih hidup di dunia saja, tetapi juga kebahagiaan yang lebih sejati yakni di akhirat kelak: kebahagiaan memasuki dan tinggal di dalam surga-Nya.
Sayang seribu sayang, fakta memaparkan, masih banyak orang yang menjalani kehidupan beragama secara kaku atau keras. Mereka bahkan dari kalangan dai atau penceramah yang mestinya menjadi panutan umat. Cara beragama dan dakwah mereka selain kaku juga begitu mudahnya menghakimi orang yang berseberangan pemahaman dengan mereka.
Oleh karena itulah, penting bagi umat Islam, terutama di era serba digital seperti saat ini, untuk mencari sosok-sosok pemuka agama yang benar-benar memiliki keluasan ilmu pengetahuan sekaligus memiliki akhlak terpuji yang dapat kita teladani kebiasaan-kebiasaan positifnya.
Menurut saya, salah satu pemuka agama yang patut dijadikan guru sekaligus panutan bagi umat Islam adalah Gus Baha. Dalam buku ini diungkap, bahwa Gus Baha adalah oase di tengah merebaknya penceramah agama—atau orang-orang yang berharap dianggap demikian—yang lebih sering menampilkan agama sebagai sesuatu yang kaku bahkan cenderung wagu.
Mereka kerap menampilkan wajah Tuhan sebagai sosok yang kejam dan penuh ancaman, padahal Tuhan adalah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Gus Baha, dengan penampilan dan model penyampaian yang sederhana, berusaha mengembalikan marwah agama yang sebenarnya, bahwa agama adalah sumber kebahagiaan.
Gus Baha selalu meyakini bahwa agama semestinya membawa kebahagiaan bagi para penganutnya. Hal ini dikarenakan kebahagiaan sesungguhnya termasuk salah satu perintah dalam agama Islam. Dengan adanya rasa bahagia dalam hati umat, diharapkan para penganut agama tidak akan mencari kebahagiaan lewat jalur-jalur yang salah, terutama jalur maksiat (hlm. 10).
Fenomena hijrah yang kini masih marak juga menjadi perhatian Gus Baha. Sebagaimana kita lihat, orang-orang, termasuk kaum selebritas, yang mengaku telah hijrah biasanya akan mengubah penampilannya. Misalnya artis perempuan yang semula gemar berbusana seksi, menjadi tertutup dengan mengenakan baju tertutup dan berjilbab. Yang laki-laki, tiba-tiba saja mengubah penampilan secara drastis, tak hanya pakaian saja, tetapi juga dari segi penampilan fisik. Misalnya, yang semula tidak punya jenggot, mendadak berjenggot lebat. Mengubah penampilan agar lebih tertutup sebenarnya sangat bagus. Namun juga harus diiringi dengan menimba ilmu agama dari ahlinya, menjaga perilaku, sikap, atau ucapan.
Perihal cara memaknai hijrah, dalam buku ini, Gus Baha punya komentar unik tentang perilaku sebagian orang yang menyebut sudah melakukan hijrah seperti dianjurkan agama, padahal yang mereka lakukan tak lebih dari sekadar berganti gaya berbusana. Yang semula tak mengenakan jilbab, kini menutup aurat. Semula berpenampilan biasa, kini memaksakan berjenggot dan menghitamkan jidat di bagian muka. Secara sederhana, hijrah adalah meninggalkan larangan Allah. Karenanya, hijrah tak hanya dilakukan dengan pakaian tertutup, hijab panjang, celana di atas mata kaki, jubah, dsb. Tentu tidak salah mengubah penampilan, tetapi pakaian tersebut bukanlah standar kesalehan. Sama sekali bukan.
Gus Baha malah mewanti-wanti agar tidak membatasi makna hijrah pada jenis pakaian yang dikenakan. Kalau kita menganggap mengenakan pakaian tertentu itu sunah, maka secara otomatis kita akan menganggap bahwa mengenakan pakaian yang lain tidak sunah, atau bahkan menyalahi aturan (hlm. 132).
Selain mengomentari fenomena hijrah yang begitu marak, dalam buku ini Gus Baha juga menjelaskan secara gamblang, sederhana, tentang makna jihad yang selama ini banyak disalahartikan oleh sebagian orang yang beragama secara kaku. “Jihad itu berjuang, jihad dimaknai perang sejak ada orang ekstremis. Adanya jihad tidak ada hubungannya dengan perang, jihad itu maknanya berjuang,” demikian penjelasan Gus Baha ketika membahas soal jihad.
Gus Baha menambahkan bahwa bersusah-payah juga merupakan jihad. Di salah satu kajian yang dipimpinnya, beliau menjelaskan bahwa jihad di zaman Nabi tentu tak sama dengan jihad di masa sekarang. Di zaman Nabi, beliau terkadang melakukan jihad dengan cara perang, tetapi catatan pentingnya adalah, perang yang dilakukan Nabi diperbolehkan karena musuhnya jelas, yakni Abu Jahal dan Abu Lahab (hlm. 106).
Sangat menarik membaca buku karya Khoirul Anam ini. Buku terbitan Quanta ini berisi kumpulan catatan pendek dari ceramah-ceramah Gus Baha yang beredar di berbagai platform media, mulai dari Youtube, unggahan di Facebook atau Instagram, hingga potongan-potongan video beliau di grup-grup WA. Buku ini dapat menjadi salah satu referensi penting bagi kaum muda untuk mendalami agama Islam dengan lebih sederhana, toleran, tidak kaku, dan tentu saja dengan diwarnai kegembiraan.








Leave a Comment