Menjadi Ibrahim di Tengah Republik

Ahmad Khairi

06/06/2025

4
Min Read
Ibrahim

On This Post

Harakatuna.com – Langit Ciputat masih digelayuti kabut tipis, saat saya melangkah menuju masjid kecil di sebuah kompleks perumahan. Jemaah mulai berdatangan, sebagian besar mengenakan baju koko putih, sarung anyar, dan senyum mengembang di wajah. Anak-anak berlarian di halaman, sementara para ibu sibuk mengatur saf di barisan belakang. Udara penuh dengan aroma tanah basah dan gema takbir:

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Tadi pagi, saya berdiri di mimbar, menyampaikan khutbah, sekaligus menyampaikan suara hati—baik untuk jemaah yang hadir, maupun untuk diri saya sendiri. Sebab, di balik semua hafalan ayat dan kutipan hadis, ada satu hal yang terus mengetuk benak saya: apa sebenarnya makna kurban bagi kita saat ini? Bagaimana kita berkurban di republik tercinta, Indonesia?

Kita tidak sedang berada di Arafah. Kita bukan bagian dari jutaan manusia yang mengenakan kain ihram putih, berjalan ke Mina, melempar jumrah, atau bermalam di Muzdalifah. Kita tidak sedang memikul beban fisik ibadah haji. Tapi pagi ini, kita tetap diseru panggilan yang sama: mengikhlaskan, melepaskan, dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Ibrahim dan Ismail dalam Diri

Tiap Iduladha, kita kembali mendengar kisah Ibrahim dan Ismail. Benarkah kisah itu hanya legenda untuk anak-anak madrasah ibtidaiyah? Bukankah sesungguhnya kita semua sedang menanggung Ismail masing-masing? Sesuatu yang kita sayangi, yang kita genggam erat, tapi yang mungkin harus kita lepaskan jika itu memang menghalangi jalan kita menuju Allah?

Bagi Ibrahim, pengorbanan itu nyata dan tragis. Anak kandungnya sendiri, yang ia cintai, yang ia nanti selama bertahun-tahun, diminta untuk disembelih. Namun kita tahu, dalam keimanan yang paripurna, perintah itu bukan sekadar tentang menyembelih, melainkan tentang menundukkan ego, menyabarkan cinta, dan menyempurnakan tawakal atas-Nya.

Pertanyaannya hari ini: sanggupkah kita menundukkan ego yang merasa selalu benar? Melepas ambisi pribadi yang diam-diam menyakiti orang lain? Atau menanggalkan kedengkian yang terus menyala dalam diam di tengah republik yang semakin tidak menentu?

Imam Ghazali pernah mengingatkan, setan tak selalu datang dengan wajah seram. Ia bisa menyamar menjadi suara rasional: “Untuk apa berkurban kalau tidak ikhlas?” Kalimat itu sering terasa sangat benar, tapi justru mematikan semangat amal. Sebab sejatinya, keikhlasan bukan syarat memulai ibadah, namun buah dari kebiasaan ibadah itu sendiri.

Itulah mengapa Allah tidak menilai daging atau darah hewan kurban. Allah menilai ketakwaan. Nilai yang tidak kasat mata, tapi bisa dirasakan dampaknya—dalam perilaku, dalam kejujuran, dalam kesediaan berbagi. Maka kurban tidak berhenti di tempat penyembelihan. Ia harus berlanjut dalam bentuk tadhhiyyah sosial: kepedulian pada sesama, keberanian melawan ketidakadilan, dan kesiapan memberi tanpa pamrih.

Berkurban untuk Republik

Di tengah kemeriahan kurban, saya tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya: sudahkah kita menkurbankan yang terbaik untuk republik ini? Di negeri yang penuh paradoks, kaya SDA tapi miskin SDM, mayoritas Muslim tapi masih sarat korupsi dan ketimpangan—kita butuh lebih dari sekadar penyembelihan hewan setiap 10 Zulhijah. Kita butuh kurban dalam bentuk yang lebih besar: kurban waktu, pikiran, integritas, bahkan kenyamanan pribadi—demi Indonesia yang lebih adil dan bermartabat.

Apalah arti menyembelih kambing setiap tahun, jika kita masih memelihara sifat rakus dalam bisnis, memupuk ego dalam politik, dan menutup mata pada derita sesama? Apalah arti darah kurban itu, jika setiap hari kita masih tega menyakiti sesama, membiarkan ketidakadilan tumbuh, dan tidak peduli pada masa depan negeri ini?

Kurban adalah tentang melepaskan. Dan Indonesia hari ini sedang menanti siapa yang berani melepaskan sebagian dari dirinya, untuk menjadi lebih berarti bagi yang lain.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamd

Semoga gema takbir tak berhenti di langit Ciputat, tapi menggetarkan hati kita semua. Di balik ritual kurban, tersembunyi sebuah pesan: jika kau benar mencintai Tuhan, maka buktikanlah dengan pengorbanan. Untuk-Nya, dan untuk sesama manusia.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Leave a Comment

Related Post