Harakatuna.com – Korelasi keterampilan menulis dengan kehidupan terbilang cukup intim. Pasalnya, sering kali seorang penulis akan mengungkapkan perasaan dan keadaannya melalui sebuah tulisan. Menulis menjadi sarana yang mudah untuk sekadar mencurahkan isi hati. Ungkapan hati yang tertulis mampu membawa kesan dan pesan tersendiri bagi para penulis. Tak ayal bila banyak tulisan yang mampu menyentuh sanubari. Hal tersebut tidak terlepas dari peran penulis dalam memanfaatkan emosi dalam proses menulisnya.
Tentunya dalam kehidupan tak terlepas dari sebuah masalah dan kejadian-kejadian yang tak mengenakkan. Seseorang kerap kali merasa sedih menahun dan kehilangan semangat dalam hidupnya. Tekanan hidup yang terjadi memunculkan trauma tersendiri bagi seseorang yang mengalaminya. Terlebih di era yang serba canggih dan teknologi yang semakin mutakhir membuat kita harus bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Seorang penulis akan mengambil kesempatan emas tersebut untuk mengemasnya menjadi tulisan yang apik. Misalnya seperti ini:
Kehidupan yang malang tak menjadi penghalang untuk terus berjuang. Akan tetapi, bolehkah sekali saja untuk sejenak melepas penat setelah lelah melanda. Bolehkah beberapa menit saja mengatupkan kedua tangan, untuk memastikan air mata tak jatuh di tempat yang salah? Mampukah diri menahan segala rasa yang berkecamuk tak tentu arah, adalah karena kita tidak berada di kiblat yang sama.
Menulis memiliki pengaruh yang signifikan bagi seseorang. Oleh karena itu, saat seseorang tak mampu menceritakan secara lisan kepada orang lain, maka menulis menjadi salah satu pilihannya.
Pernah suatu ketika kehilangan orang yang paling disayangi, lantas menjadi duka yang mendalam hingga sulit ditepis dalam ingatan. Akan tetapi, saya percaya bahwa Allah Swt., tidak akan memberikan ujian melebihi batas kemampuan seorang hamba. Oleh karena itu, saya mencoba untuk bangkit dan menatap masa depan yang masih belum terkontaminasi. Masa yang mungkin saja masih bisa dilewati, tetapi yakin bahwa setelah pasang akan ada surut. Dengan demikian, untuk mengurangi kesedihan, kekecewaan, dan perasaan negatif lainnya, saya pun memutuskan untuk menulis.
Terapi menulis terbilang cukup bisa mengobati. Menulis adalah mengungkapkan rasa melalui aksara. Adapun dengan menulis, seseorang bisa jujur dengan dirinya sendiri. Dapat mengekspresikan perasaan yang ada di dalam hati dan pikirannya, sehingga akan berbuah kelegaan, dan juga mengungkapkan ide maupun gagasan yang masih terekam di dalam otak kita. Apakah kamu mau mencoba untuk menulis?
Di bawah ini cara mengungkapkan rasa melalui aksara yang saya lakukan ketika mengalami kehilangan, antara lain:
1. Free writing
Free writing atau menulis bebas adalah bagian yang paling menyenangkan. Kita bebas menuliskan apa saja yang dialami. Apa saja hal yang terjadi. Tidak peduli kalimatnya berhubungan atau tidak. Tidak peduli diksi yang dipakai. Tidak memperhatikan apakah tulisan itu akan nyaman dibaca atau tidak. Pada intinya, menulis sebebas-bebasnya tanpa ada tuntutan PUEBI, KBBI, EYD, dan sebagainya.
Menulis bebas dapat diartikan juga sebagai menulis yang dikonsumsi untuk diri sendiri, belum digunakan untuk komersial atau akan dibukukan. Karena fokusnya adalah menyampaikan isi hati dan pikiran dalam bentuk tulisan.
2. Menulis ekspresif
Menulis ekspresif dapat diartikan sebagai menulis yang melibatkan perasaan mendalam dan penuh emosi. Emosi bukan hanya dimaknai dengan marah saja, ya. Emosi itu memiliki ragam bentuknya. Beberapa di antaranya emosi bahagia, marah, sedih, dan lain-lain. Adapun dalam menulis ekspresif, kita menuangkan segala kegelisahan, perasaan apa saja yang muncul, dan ekspresikan semuanya dalam bentuk tulisan. Marahlah melalui tulisan, bersedihlah dengan tulisan, ungkapkan semuanya hingga kita merasa lega.
3. Menulis sembari membayangkan kejadian
Saat saya kehilangan calon buah hati, tak banyak suara yang dikeluarkan. Hanya jemari yang menemani setiap dentum kesedihan. Saat menuliskan betapa dukanya harus mengikhlaskan calon buah hati, saat itu pula bayangan memegang daging cinta yang terlihat selaput pertumbuhannya saja. Membayangkan keagungan Tuhan yang begitu hebatnya menciptakan manusia, tetapi semua sudah takdir-Nya. Sehingga, saat menulis sembari membayangkan, akan ada serpihan-serpihan luka yang menyelimuti rasa, lalu berbuah menjadi tulisan nyata nan indah dicerna.
4. Menulis dengan memaksimalkan pancaindra
Tanpa disadari, pancaindra akan bekerja dengan sendirinya seiring ingatan-ingatan kita tentang sebuah tragedi atau pun trauma. Misalnya, melihat kain yang tergantung, mendengarkan musik, meraba benda yang sering dipakai, mendengar tangisan, atau mencium bau masakan yang selama ini dihindari. Dengan demikian, pancaindra kita akan merespon dengan sendirinya dan jemari pun mudah merangkai kata.
5. Menulis di waktu sunyi atau sendiri
Saya lebih suka dengan kesendirian. Menyendiri untuk menulis. Suasana yang sepi, mungkin hanya ditemani kicau burung atau deburan air sudah cukup. Saat sendiri itulah waktu yang begitu intim untuk berdialog dengan diri yang lain.
6. Fokus pada perasaan di sini dan saat ini
Akui saja bahwa saat ini sedang tidak baik-baik saja, tidak perlu memungkiri keadaan, tidak usah menahan kesedihan. Terima perasaan di sini dan saat ini, lalu mulailah menuliskan perasaan-perasaan itu perlahan. Fokus pada diri sendiri dan pada apa yang dialami.
7. Tidak menahan air mata
Menangis bukan pertanda seseorang itu lemah. Rasulullah saja ketika ditinggal oleh orang yang dicintainya beliau pun menangis. Menangis bisa menandakan bahwa kita amat menyayangi seseorang tersebut. Bukan berarti tidak ikhlas. Oleh akrena itu, tak perlu menahan air mata untuk terlihat kuat, biarkan buliran itu menetes dengan sendirinya.
Demikianlah cara-cara yang saya lakukan untuk membuat keadaan lebih baik lagi. Saya percaya bahwa Tuhan tidak akan terus-menerus memberikan kesedihan, kemuraman. Setelahnya, akan ada bahagia yang menanti. Biarkanlah menulis sebagai jalanmu mempertahankan diri dan menyembuhkan hati. Selamat mencoba, semoga berhasil.







Leave a Comment