Menghindari Propaganda Jihad dan Mati Syahid yang Terdistorsi Radikalisme

Muhamad Andi Setiawan

21/08/2024

6
Min Read
Mati syahid

On This Post

Harakatuna.com – Aksi ledakan bom bunuh diri yang merenggut banyak nyawa, aksi membakar diri, baku tembak sampai mati, penggulingan pemerintahan, dan berbagai tindakan esktrem yang selama ini telah dilakukan para komplotan teroris memunculkan sebuah pertanyaan, kenapa mereka bangga sekali melakukan kejahatan kemanusiaan dengan bayaran nyawa mereka sendiri? Jawabannya karena mereka telah dijanjikan sebuah kebohongan manis dengan surga sebagai balasannya.

Jihad dan mati syahid menjadi alat propaganda paling favorit yang dimainkan untuk alat cuci otak oleh kelompok teroris semacam ISIS, Al Qaeda dan kelompok lainnya. Dalam agama Islam konsep “mati syahid” memang dianggap sebagai bentuk kematian yang mulia dan memiliki kedudukan yang tinggi.

Mati syahid merupakan kebanggaan tersendiri bagi umat Islam, karena yang meninggal dalam keadaan syahid maka Allah Swt. akan memberikan berbagai kenikmatan yang luar biasa dan surga adalah salah satunya, seperti yang diceritakan dalam sebuah hadis:

“Bagi orang yang mati syahid ada enam keistimewaan, yaitu diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya di dalam surga, dilindungi dari azab kubur dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memberikan syafaat bagi tujuh puluh orang kerabatnya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Kelompok ISIS dan sejenisnya serampangan mengartikan konsep jihad hanya dalam konteks yang sempit yaitu memerangi dan membunuh kelompok yang tidak sependapat dengan mereka saja.  Kelompok ini membangun retorika sesat dengan mengatakan siapa saja yang mendukung setiap agenda mereka maka itu sudah dihitung berjuang untuk agama dan dijanjikan akan mendapatkan kematian yang mulia yaitu mati syahid dengan imbalan surga.

William McCants, dalam bukunya “The ISIS Apocalypse: The History, Strategy, and Doomsday Vision of the Islamic State”, menguraikan bahwa kelompok-kelompok seperti ISIS menggunakan doktrin mati syahid untuk mengajarkan kekerasan dan pembunuhan tanpa pandang bulu. Dalam bukunya dia menunjukkan bagaimana ideologi ini dimanfaatkan untuk membenarkan serangan terhadap orang-orang tak berdosa dan menciptakan suasana kekacauan dan ketakutan.

Indoktrinasi Sesat

Ayat Al-Qur’an dan hadis bahkan tidak luput digunakan sebagai alat propaganda demi memunculkan keyakinan mutlak di alam bawah sadar para calon-calon militan teroris ini, dengan sebuah dalil mereka tidak akan ragu untuk menuruti segala perintah bahkan untuk membunuh. Misalnya saja penggunaan surah Al-Baqarah [2]: 154:  

Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”  

Ataupun hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi berikut ini:  

“Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, dia mati syahid; barang siapa terbunuh karena membela agamanya, dia mati syahid; barang siapa terbunuh karena membela darahnya, dia mati syahid; dan barang siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, dia mati syahid” (HR. Tirmizi).

Sungguh ironis sekali bukan, ayat suci yang sejatinya hadir untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia justru malah secara serampangan dipolitisasi untuk membenarkan tindakan radikalisme dan kejahatan.

Kepercayaan bahwa perjuangan mereka adalah untuk agama menjadikan rasa takut militan teroris menjadi hilang, perintah yang mengancam nyawa tidak lagi dipedulikan karena memang mereka sudah menganggap bahwa nyawanya akan ditukarkan dengan kenikmatan abadi.

Dengan memainkan isu sensitif yang sangat diinginkan oleh setiap umat Islam yaitu kematian yang mulia sebagai syuhada, kelompok-kelompok seperti ISIS dan Al-Qaeda sering menyebarluaskan gagasan tentang pasokan martir yang tak ada habisnya. Pemanfaatan isu ini mengisyaratkan bahwa barisan mereka terus-menerus dapat diperbarui oleh aliran rekrutan baru yang termotivasi oleh janji kemuliaan dan imbalan kekal.

Hasilnya mereka memperoleh keuntungan signifikan yang jelas mendukung kepentingan politis mereka saja. Pertama, kelompok teroris terus menggunakan narasi jihad dan mati syahid untuk merekrut anggota baru dengan mudah, menarik individu yang terpengaruh oleh janji-janji imbalan surga dan tujuan suci.

Selanjutnya, dengan memanfaatkan dua ajaran ini membantu kelompok teroris membentuk pasukan yang tidak hanya loyal tetapi juga siap untuk mengorbankan nyawa mereka demi tujuan kelompok. 

Terakhir, kelompok teroris memanfaatkan propaganda tentang jihad dan mati syahid untuk menebarkan ketakutan di masyarakat, menciptakan suasana di mana orang-orang merasa terintimidasi dan enggan menentang atau melawan tindakan kekerasan mereka. Dengan cara ini, mereka berhasil mempertahankan kekuatan dan kontrol sambil menyebarluaskan pengaruh mereka.

Dengan memutarbalikkan makna asli dari jihad dan mati syahid, kelompok teroris mengaburkan prinsip-prinsip dasar agama dan mengeksploitasi keyakinan orang-orang untuk melayani kepentingan mereka sendiri, sementara ajaran Islam yang sebenarnya mengajarkan kebaikan dan harmoni.

Pentingnya Memperdalam Ilmu Agama

Banyak orang yang memimpikan meninggal dalam keadaan syahid, karena itu menjadi salah satu tanda-tanda meninggal dengan husnulkhatimah. Dalam sejumlah riwayat hadis dijelaskan salah satu cara mati yang khusnulkhatimah adalah mati syahid di medan perang. 

Namun untuk mewujudkan mimpi tersebut tentu tidak boleh sembarangan mengartikannya mentah-mentah, kita juga patut berhati-hati dengan narasi-narasi jihad sampai mati syahid yang seringkali dipropagandakan oleh kelompok-kelompok radikal. Karena pada dasarnya konsep jihad dan mati syahid yang diajarkan oleh Islam sangat berbanding terbalik dengan apa yang dipropagandakan para teroris.

Pada dasarnya, konsep jihad dan mati syahid yang diajarkan oleh Islam sangat berbeda dari apa yang dipromosikan oleh teroris. Islam mengajarkan bahwa jihad adalah perjuangan untuk kebaikan, keadilan, dan kedamaian, sementara mati syahid adalah bentuk pengorbanan dalam konteks yang sah dan adil. Kelompok-kelompok radikal, sebaliknya, memanipulasi dan memutarbalikkan makna asli ajaran ini untuk melayani agenda kekerasan mereka.

Seperti yang diungkapkan Syekh Abdullah bin Bayyah, bahwa “mati syahid dalam konteks Islam adalah sesuatu yang jauh dari tindakan terorisme. Syahid sebenarnya adalah kematian dalam perjuangan yang sah dan adil, seperti dalam peperangan yang dibenarkan oleh syariat. Penggunaan istilah ini untuk membenarkan kekerasan ekstrem atau terorisme adalah salah dan bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.”

Pada hakikatnya, hanya Allah Swt. yang memiliki wewenang untuk menentukan apakah seseorang mati sebagai syahid atau tidak. Sebagai manusia, kita tidak memiliki kemampuan untuk secara pasti menilai status syahid seseorang berdasarkan cara atau kondisi kematiannya. Penilaian mengenai syahid adalah hak prerogatif Tuhan, dan kita tidak dapat mengklaim atau memastikan status tersebut dengan kepastian mutlak. Namun, berdasarkan sejumlah ayat Al-Qur’an, hadis, dan pendapat ulama, kita bisa menilai bahwa tindakan pembunuhan dan kejahatan yang jelas bertentangan dengan ajaran Islam, apalagi tindakan bunuh diri, tidak dapat dianggap sebagai bagian dari ajaran agama yang benar.

Karena itu, kita harus lebih waspada terhadap propaganda kelompok teroris yang sering memolitisasi ajaran agama. Dengan cara ini, mereka tidak hanya membelokkan makna ajaran agama yang sebenarnya, tetapi juga menciptakan citra yang menyesatkan. Akibatnya, nilai-nilai agama yang sejatinya mengajarkan perdamaian dan keadilan menjadi kabur dan terdistorsi. Karena itu penting bagi kita untuk lebih memperdalam literasi ilmu agama kita agar tidak terjebak dalam narasi yang menyesatkan.

Memperdalam pemahaman tentang ajaran Islam yang sebenarnya melalui pendidikan yang sah dan terpercaya dapat membantu menghindari penafsiran yang salah, sehingga kita dapat lebih menganalisis lebih mendalam kebenaran setiap retorika keagamaan yang kita dapatkan dari berbagai sumber.

Pendidikan yang baik memungkinkan kita untuk membedakan antara ajaran yang otentik dan interpretasi yang menyesatkan, sehingga kita dapat memastikan bahwa pemahaman kita tentang agama tetap akurat dan bebas dari pengaruh ideologi ekstrem atau propaganda yang menyesatkan.

Kesimpulannya, isu jihad dan mati syahid yang dipropagandakan oleh kelompok teroris telah menyimpang jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. Kelompok teroris menggunakan konsep ini untuk merekrut anggota dan menyebarluaskan ketakutan dengan menjanjikan imbalan surga kepada para pelaku kekerasan. 

Padahal, ajaran Islam yang murni mengajarkan perdamaian dan kasih sayang, bukan kekerasan dan pembunuhan. Memahami dan mendalami ajaran agama yang benar melalui pendidikan yang sah adalah kunci untuk membedakan antara narasi keagamaan yang otentik dan propaganda ekstremis.

Leave a Comment

Related Post