Menghadang Radikalisme Senyap yang Ingin Menghancurkan Islam

Ahmad Mustaqim

26/01/2026

5
Min Read
Radikalisme

On This Post

Harakatuna.com – Di tengah lanskap keislaman Indonesia yang tampak tenang dan stabil, sesungguhnya sedang tumbuh sebuah radikalisme yang tidak berisik, tidak meledak, dan tidak selalu menakutkan secara kasatmata. Ia tidak hadir dalam bentuk bom atau senjata, melainkan melalui bahasa dakwah, gaya hidup religius, simbol-simbol kesalehan, dan narasi moral yang pelan-pelan menggerogoti nalar publik. Radikalisme ini bekerja senyap, justru karena ia menyamar sebagai kesucian. Dalam konteks inilah, istilah Islam geli dan Islam gila menjadi penting sebagai kategori kritis, bukan sebagai ejekan murahan.

Islam geli adalah ekspresi keberagamaan yang membuat orang merinding bukan karena kedalaman spiritualnya, melainkan karena kekeringan etikanya, dan menggelikan dalam setiap tutur katanya. Ia tampil dalam dakwah yang obsesif pada ancaman neraka namun absen empati, dalam semangat amar ma’ruf yang kehilangan rasa ma’ruf itu sendiri.

Islam jenis ini tampak saleh di permukaan rapi dalam simbol, fasih dalam dalil tetapi menjadi ganjil dan menggelikan ketika diuji dengan nilai keadilan, welas asih, dan kebijaksanaan sosial. Kesalehan dipersempit menjadi kepatuhan formal, sementara nurani justru dicurigai.

Sementara itu, Islam gila bukan berarti Islam yang kehilangan iman, melainkan Islam yang kehilangan akal sehat publik. Ia meledak dalam klaim kebenaran tunggal, paranoia terhadap perbedaan, dan kegemaran menghakimi mengafirkan, menyesatkan, atau setidaknya menyingkirkan yang lain dari lingkar keselamatan.

Inilah Islam yang berteriak paling keras soal tauhid, tetapi justru paling rapuh dalam menghormati kemanusiaan. Ia alergi pada kritik, curiga pada dialog, dan memandang perbedaan sebagai ancaman, bukan kenyataan sosial yang harus dikelola secara bermartabat.

Keduanya, Islam geli dan Islam gila bukanlah fenomena pinggiran. Justru di situlah keduanya menjadi inkubator radikalisme senyap. Radikalisme hari ini tidak selalu datang dengan wajah garang. Ia sering berwujud kesalehan performatif, hijrah simbolik, dan moralitas instan. Tidak ada ledakan, tetapi ada penyempitan makna Islam. Tidak ada darah, tetapi ada pembunuhan nalar kritis. Agama perlahan bergeser dari jalan pembebasan menjadi alat kontrol sosial.

Salah satu mekanisme paling berbahaya dari radikalisme senyap adalah normalisasi ujaran kebencian yang dibungkus dalil. Kebencian tidak lagi tampil sebagai emosi kasar yang harus dikendalikan, melainkan sebagai kewajiban iman yang harus dibanggakan. Ayat dan hadis dipotong dari konteks sejarahnya, dilepaskan dari tujuan etik dan maqasid-nya, lalu ditempelkan pada realitas sosial hari ini seolah-olah wahyu turun tanpa ruang dan waktu. Dalil berubah dari sumber hikmah menjadi stempel pembenar kekerasan simbolik.

Bahasa kebencian ini bekerja dengan licik. Ia tidak berkata “kami membenci”, melainkan “Allah membenci”. Ia tidak mengatakan “kami menolak”, tetapi “syariat menolak”. Dengan cara ini, kebencian dipindahkan dari ranah etika manusia ke wilayah klaim ilahi. Siapa pun yang mencoba mengkritiknya akan segera dituduh menentang agama. Pada titik ini, dalil bukan lagi sarana pencarian kebenaran, melainkan alat pembungkam nurani.

Normalisasi ini paling efektif ketika berlangsung di ruang-ruang yang dianggap suci seperti mimbar masjid, majelis taklim, hingga potongan video dakwah di media sosial. Ketika ujaran yang merendahkan kelompok lain diucapkan atas nama iman dan disambut anggukan jamaah tanpa kegelisahan moral, di situlah radikalisme senyap bekerja paling halus.

Ia tidak memaksa orang untuk membenci, cukup membiasakan kebencian agar terasa wajar. Empati kemudian dianggap kelemahan, toleransi dicurigai sebagai kompromi akidah, dan keadilan sosial dikalahkan oleh loyalitas identitas.

Secara teologis, kondisi ini menunjukkan krisis tauhid yang serius. Tauhid bukan sekadar pengakuan atas keesaan Tuhan, tetapi juga penolakan terhadap absolutisasi tafsir manusia. Ketika seseorang merasa paling berhak berbicara atas nama Tuhan, lalu menggunakan klaim itu untuk melukai martabat manusia lain, yang terjadi bukan pembelaan agama, melainkan pengkhianatan terhadap ruh wahyu itu sendiri.

Di titik inilah warisan pemikiran Nurcholish Madjid menemukan relevansinya kembali. Cak Nur berulang kali mengingatkan bahwa Islam bukan ideologi tertutup yang sibuk menjaga garis batas, melainkan jalan keterbukaan moral. Ketika Islam direduksi menjadi slogan dan simbol, ia kehilangan dimensi etiknya dan berubah menjadi identitas eksklusif yang miskin kemanusiaan.

Islam semacam ini mungkin terdengar lantang, tetapi sesungguhnya rapuh secara intelektual dan spiritual. Hal yang sama tercermin dalam praksis keislaman yang dicontohkan oleh Abdurrahman Wahid. Gus Dur memahami Islam bukan sebagai sistem ketertiban kaku, melainkan sebagai etika sosial yang hidup.

Islam yang sehat, baginya, adalah Islam yang mampu menertawakan dirinya sendiri, yang gelisah ketika melukai, dan yang menempatkan kemanusiaan sebagai medan pengabdian kepada Tuhan. Humor, bagi Gus Dur, bukan pelecehan agama, melainkan tanda kewarasan spiritual.

Sejarah Islam sendiri mengenal tradisi kegilaan yang justru menyembuhkan, kegilaan para sufi, wali, dan tokoh-tokoh nyentrik yang mengguncang kemapanan demi menyingkap kemunafikan religius. Kegilaan mereka merupakan keberanian melampaui formalitas demi kebenaran etik. Berbeda dengan Islam gila hari ini yang anti-humor, anti-kritik, dan anti-dialog. Padahal, Islam yang takut ditertawakan biasanya adalah Islam yang rapuh secara intelektual.

Islam tidak membutuhkan lebih banyak teriakan, tetapi lebih banyak kejernihan berpikir. Tidak membutuhkan lebih banyak simbol, tetapi lebih banyak keberanian etik. Islam geli dan Islam gila harus dibaca sebagai alarm kebudayaan, tanda bahwa ada yang keliru dalam cara kita memahami dan mempraktikkan agama.

Mencegah radikalisme senyap bukan hanya tugas negara atau aparat keamanan, melainkan tanggung jawab intelektual muslim, aktivis, dan kaum beriman yang masih waras. Islam yang tidak bisa dikritik akan berubah menjadi berhala. Islam yang kehilangan humor akan berubah menjadi teror. Dan Islam yang lupa pada manusia, cepat atau lambat, akan kehilangan Tuhannya sendiri.

Leave a Comment

Related Post