Harakatuna.com – Teknologi digital telah menjadi ruang hidup baru yang membentuk cara berpikir, berperilaku, dan memahami dunia. Di tengah gelombang digitalisasi yang kian deras, kecerdasan buatan (AI) hadir sebagai inovasi yang mampu mengolah data dalam jumlah masif dan merespons dinamika dengan kecepatan luar biasa.
Tetapi, masih cukup banyak kalangan yang belum bisa mengoptimalkan ruang digital, khususnya AI. Mereka masih terjebak dalam algoritma konsumtif, tren, hingga FOMO. Rata-rata kaum muda, Gen Z, bahkan masyarakat Muslim hingga santri saat ini tertinggal dalam memanfaatkan teknologi ini.
Penggunaannya masih dalam hal hiburan, bahkan hanya sebatas menggunakan tanpa visi dan misi. Padahal, di situ terdapat peluang besar untuk memberikan edukasi, menyampaikan pesan, serta memberikan alarm pencegahan secara otomatis.
Namun hal semacam ini cukup membingungkan dan menimbulkan pertanyaan: bagaimana cara menggunakannya? Padahal faktanya, sebagian besar konten, tren, dan entertainment menggunakan AI sebagai alat. Mereka punya visi dan misi besar; kalau tujuannya dalam hal kebaikan, itu bagus. Namun jika tujuannya untuk menyebarkan perilaku terorisme–radikalisme, hal itu akan menjadi bencana besar bagi kita. Maka oleh karena itu, diperlukan strategi untuk mencegah secara terdepan, canggih, serta optimal. Salah satu caranya yaitu hilirisasi AI.
Hilirisasi AI yakni proses membawa teknologi ini agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat, kaum muda, Gen Z, hingga santri. Proses hilirisasi sendiri telah beberapa kali disampaikan dan digalakkan oleh Wapres Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, Menteri Keuangan juga menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mengoptimalkan pekerjaannya. Hal ini menjadi bukti bahwa hilirisasi AI adalah peluang strategis dalam upaya mencegah tumbuhnya radikalisme, ekstremisme, dan terorisme di era modern.
Radikalisme tidak lagi berjalan melalui ruang tertutup atau forum sembunyi. Ideologi ekstrem kini hadir lewat layar ponsel, menyelinap melalui TikTok, YouTube, Instagram, game online, hingga platform hiburan lain yang dipenuhi sensasi. Mereka memanfaatkan emosi dan keresahan untuk mengarahkan individu menuju konten yang menggiring pada kekerasan dan kebencian.
Di tengah tantangan ini, nilai utama Islam sebenarnya telah memberi pedoman jelas bahwa keselamatan manusia adalah prioritas. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Mā’idah ayat 32:
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
“Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi.”
Ayat di atas terdapat kata membunuh dan menghidupkan yang memiliki makna luas. Saat ini, membunuh bukan sebatas menghunuskan pedang, tetapi mencakup membunuh akal sehat yang dilakukan oleh kelompok ekstrem. Sedangkan kata menghidupkan dapat diartikan sebagai konten edukasi, infografik, atau video singkat yang mencegah dan menyebarkan ajaran Islam kebangsaan yang penuh kasih sayang.
Hilirisasi AI memungkinkan bekerja langsung dalam memetakan, menganalisis, dan mendeteksi ancaman ekstremisme dengan kecepatan. AI mampu mengidentifikasi pola komunikasi mencurigakan dalam jutaan unggahan, mendeteksi konten propaganda melalui analisis teks, gambar, dan video, melacak jaringan penyebar radikalisme lintas platform, serta memberikan peringatan dini (early warning system) ketika muncul potensi perekrutan digital.
Jika manusia membutuhkan waktu berhari-hari untuk menelusuri jejak propaganda, AI dapat melakukannya dalam hitungan menit. Kecepatan itu menjadikannya senjata penting dalam mencegah ideologi ekstrem berkembang pada tahap awal.
Dengan sistem rekomendasi adaptif, AI dapat mengarahkan individu rentan ke konten positif, narasi moderat, atau layanan konseling digital. Pendekatan ini tidak hanya menutup ruang ekstrem, tetapi juga merawat kesehatan psikologis masyarakat.
Di media sosial, propaganda ekstrem sering dikemas dalam visual yang emosional. Konten kekerasan dimodifikasi menjadi narasi heroik. Figur ekstrem dijadikan role model semu. Pengulangan konten membuat pengguna menganggapnya sebagai kebenaran.
Jika seseorang sering terpapar konten yang menormalisasi kebencian, ada kemungkinan ia meniru dan mengembangkan perilaku serupa. Karena itu, AI berperan penting untuk menginterupsi proses pembelajaran negatif ini melalui deteksi cepat dan penyaringan konten. AI juga dapat memaksimalkan penyebaran konten positif agar menjadi model perilaku yang lebih kuat di ruang digital.
Radikalisme sering mengalahkan konten moderat bukan karena ideologinya lebih kuat, tetapi karena penyampaiannya lebih agresif dan mengikuti tren algoritma. Dengan hilirisasi AI, strategi penyebaran narasi Islam yang damai dapat dipersonalisasi. AI memetakan kebutuhan dan preferensi audiens. Dakwah moderat bisa disampaikan dengan gaya visual yang sesuai selera pengguna. Konten positif dapat ditempatkan di linimasa kelompok rentan. Pesan rahmat dijadikan arus utama, bukan sekadar alternatif.
Dengan cara ini, nilai kasih sayang Islam akan lebih mudah menjangkau generasi muda yang hidup dalam budaya digital serba cepat. Hilirisasi AI tidak cukup jika hanya dilakukan oleh pengembang teknologi. Ia membutuhkan ekosistem kolaboratif. Pemerintah menyediakan regulasi, proteksi data, dan kebijakan yang memungkinkan pemanfaatan AI secara etis.
Ulama dan lembaga keagamaan membimbing masyarakat dengan narasi keagamaan yang mengedepankan rahmat. Pendidikan dan akademisi mengembangkan AI yang tidak bias, tetap humanis, dan berlandaskan riset ilmiah. Masyarakat meningkatkan pemahaman digital untuk membentengi diri dari manipulasi algoritmik dan propaganda. Tanpa keterlibatan berbagai pihak, AI hanya akan menjadi teknologi canggih tanpa manfaat sosial yang nyata.
Dengan memaksimalkan AI, kita sedang membangun generasi digital yang lebih kritis dan lebih tahan terhadap manipulasi ideologi. Melalui perpaduan teknologi, moralitas, serta pemahaman agama yang benar, ruang digital dapat menjadi ruang damai, bukan ladang bagi radikalisme.
Di samping itu, penting pula memastikan bahwa literasi AI diperkuat sejak dini melalui kurikulum pendidikan formal maupun nonformal. Generasi muda perlu memahami cara kerja algoritma, risiko bias, serta etika penggunaan teknologi.
Dengan demikian, mereka bukan hanya menjadi pengguna pasif, tetapi aktor aktif yang mampu mengarahkan perkembangan AI ke arah kemaslahatan. Pendekatan ini menjadikan hilirisasi AI bukan sekadar program teknis, melainkan gerakan peradaban yang meneguhkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih sayang dalam ekosistem digital modern.








Leave a Comment