Mengembalikan Kejayaan Islam Tanpa Jadi Khilafahers, Mungkinkah?

Muhammad Farhan

26/07/2024

6
Min Read
kejayaan Islam

On This Post

Harakatuna.com – Islam golden age adalah sebuah masa di mana umat Islam mengalami masa keemasan. Pada masa itu perkembangan ilmu pengetahuan sangatlah luar biasa. Masyarakat saat itu sejahtera dan sangat jarang ditemukan kemiskinan. Ibaratnya Islam pada masa itu sama seperti kemajuan masyarakat Eropa pada saat ini. Selama berabad-abad kejayaan Islam bertahan dalam sebuah sistem pemerintahan yang oleh para khilafahers disebut “khilafah”.

Namun, kejayaan Islam pada masa tersebut pada akhirnya berakhir ketika Turki Utsmani runtuh. Seperti yang dijelaskan oleh Philip K. Hitti dalam bukunya, History of the Arabs. Hilangnya kejayaan Islam ini akhirnya membuat sebagian orang-orang membuat sebuah kelompok untuk mengembalikan masa keemasan tersebut. Cara kelompok ini mengembalikan kejayaan Islam adalah dengan membentuk pemerintahan “khilafah” kembali, menggantikan nilai demokrasi dan nilai dasar bangsa Indonesia.

Kelompok ini juga membentuk sebuah kelompok untuk menyebarkan propaganda khilafahnya. Salah satunya seperti kelompok HTI. Kelompok ini mendakwahkan ideologi khilafah baik dalam bentuk lisan maupun tulisan. HTI sendiri juga membuat sebuah buletin yang berisi propaganda khilafah.

Dalam tulisan tersebut mereka menuliskan sebuah tulisan yang berjudul “100 Tahun Tanpa Khilafah: Umat Menderita!” pada Buletin Kaffah edisi 334. Pada tulisan edisi buletin ini mereka menggambarkan nasionalisme sebagai penyebab kehancuran masa keemasan Islam.

Tulisan ini dibuat dengan harapan agar masyarakat tidak meyakini bahwa membangun khilafah adalah solusi. Sebuah solusi untuk mengembalikan Islam pada masa keemasannya seperti dahulu bisa dicapai tanpa harus jadi khilafahers. Dari penjelasan tersebut, lantas apakah bisa mengembalikan kejayaan Islam tanpa menjadi khilafahers? Apa saja perangkat untuk mengembalikan masa keemasan tersebut?

Mengembalikan Zaman Keemasan

Manusia diberikan oleh Allah dua perangkat. Kita bisa mengklasifikasi perangkat tersebut menjadi dua, yaitu perangkat internal dan eksternal.

Perangkat Internal: Akal

Allah telah memberikan perangkat akal kepada manusia. Akal ada pada dalam diri manusia. Perangkat inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan akal manusia bisa memahami hukum sunatullah yang telah Allah buat. Dengan akal manusia bisa membedakan mana yang benar dan salah.

Dengan akal manusia bisa berpikir dan mampu memahami ayat-ayat yang ada di dalam Al-Qur’an secara benar. Dengan akal manusia mampu menjawab permasalahan masyarakat secara kontekstual.

Perangkat Eksternal: Wahyu

Allah menyadari meskipun manusia diberikan akal untuk berpikir. Manusia juga bisa tersesat oleh akal pikirannya. Sebab tidak ada sebuah petunjuk yang mengarahkan pemikiran manusia kepada jalan yang benar, dan bisa saja terjebak pada hawa nafsu.

Maka dari itu, Allah kemudian menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk kepada manusia. Al-Qur’an berasal dari luar diri manusia. Dalam Al-Qur’an, Allah menyampaikan kepada manusia agar membuktikan Islam sebagai agama yang toleran bukan intoleran. Membuktikan Islam agama yang cinta ilmu pengetahuan.

Mengamalkan Al-Qur’an dalam Konteks Indonesia

Al-Qur’an berisi petunjuk Allah kepada manusia agar tidak membuat kerusakan di muka bumi. Al-Qur’an dapat diamalkan secara benar jika akal dijadikan alat untuk memahami ayat-ayat Allah, dan wahyu sebagai sumber datanya. Dengan begitu manusia tidak akan tekstual, tapi bisa berpikir secara kontekstual dengan melihat apa permasalahan masyarakatnya ketika memahami Al-Qur’an.

Dalam konteks Indonesia, jika kita ingin mengembalikan zaman keemasan seperti Islam golden age, maka tidak mungkin mengganti dasar negara: Pancasila. Mengingat lahirnya negeri ini juga berkat perjuangan banyak agama, etnis, dan suku. Indonesia bisa merdeka dari penjajahan bukan hanya berkat orang Islam, namun berkat perjuangan dari segala elemen masyarakat.

Sehingga keliru jika kita bergabung dengan kelompok khilafah dapat membesarkan Islam. Mendirikan sistem kekhalifahan di tanah Indonesia justru memperumit dan memperbesar masalah. Negara kita justru akan berpecah-belah, dan konflik berkepanjangan.

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa, dan umat Islam untuk mengembalikan masa keemasan tersebut?

Pertama, membuktikan Islam sebagai agama yang cinta ilmu pengetahuan, bukan agama kekerasan.

Perbedaan yang mencolok antara Islam moderat dengan Islam khilafah adalah cara mereka dalam membesarkan Islam. Islam khilafah cenderung ke arah politik yang memaksakan pandangan dengan menggunakan doktrin agama sebagai dalilnya. Mereka cenderung menggunakan jalan kekerasan jika tidak sesuai dengan kepentingan kelompoknya.

Berbeda dengan Islam moderat. Mereka cenderung membesarkan Islam dengan landasan ilmu pengetahuan. Mereka mengajarkan anak-anak muda agar mencintai ilmu selayaknya orang-orang terdahulu, seperti Nabi Muhammad, para sahabat, dan ulama Muslim.

Hal itu selaras dengan Islam pada masa Rasulullah dan Islam golden age. Pada masa rasul, nabi menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah saja. Akan tetapi masjid difungsikan sebagai tempat tempat diskusi keilmuan, tempat belajar agama Islam, dan kegiatan sosial.

Begitu pula saat Islam golden age. Khas masa keemasan itu ialah berkat masyarakatnya yang cinta ilmu. Masa itu banyak lahir ilmuwan Islam seperti Ibnu Sina, al-Khawarizmi, Ibnu Rusyd, dan lain-lain. Berkat hadirnya orang-orang yang cinta ilmu, Islam pada masa itu mampu meraih sebuah kejayaan.

Maka agar kita bisa membesarkan agama dan bangsa, solusinya adalah membuktikan kita sebagai orang-orang yang cinta ilmu pengetahuan. Dengan begitu kita tidak hanya membuktikan Islam agama yang rahmatan lil alamin, tapi juga bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045. Allah sendiri juga menyampaikan di dalam Al-Qur’an akan meninggikan derajat manusia yang mencintai ilmu (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Kedua, membuktikan Islam sebagai agama toleran bukan intoleran.

Pada masa Islam golden age, penguasa Islam pada masa tersebut berperilaku adil terhadap kaum non-Muslim. Mereka yang non-Muslim diberikan kebebasan dalam beragama. Mereka tidak dipaksa untuk masuk ke dalam Islam. Mereka juga dipersilahkan untuk mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan yang ada di perpustakaan Baghdad dan Cordoba.

Salah satu orang Kristen yang belajar di negeri-negeri Islam adalah Gerard dari Cremona. Dia adalah cendekiawan Italia yang hidup pada abad ke-12. Dia adalah seorang ahli matematika, astronomi, dan penerjemah.

Dia banyak menerjemahkan karya ilmiah dari bahasa Arab ke bahasa Latin, termasuk karya-karya klasik Yunani dan penemuan-penemuan ilmiah dari dunia Muslim. Karya-karya ilmiah yang diterjemahkannya dia bawa ke negeri Eropa. Pengetahuan yang dia bawa ini akhirnya mampu mencerahkan Eropa dari masa kegelapan.

Dari sejarah tersebut membuktikan Islam bukanlah agama yang intoleran. Islam  justru memberikan kebebasan beragama dan kebebasan untuk mempelajari ilmu pengetahuan. Dalam konteks Indonesia, umat Islam harus membangun hubungan toleransi yang baik antar sesama umat beragama. Saling tolong-menolong, dan membantu untuk membesarkan bangsa Indonesia.

Kembalinya Golden Age

Umat Islam bisa mengembalikan Islam golden age, namun bukan dengan mendirikan khilafah seperti yang dipropagandakan khilafahers. Dalam konteks Indonesia, di mana masyarakatnya plural, golden age bisa dicapai jika memiliki kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan saling menjaga toleransi antarumat beragama.

Umat Islam harus mengamalkan Al-Qur’an secara benar, juga harus bisa menjawab permasalahan masyarakatnya sesuai konteks di Indonesia. Dengan menggunakan perangkat yang telah Allah berikan yaitu Al-Qur’an, dan akal diposisikan secara seimbang, umat Islam dapat membuktikan Islam sebagai agama rahmatan lil alamin, dan bisa mewujudkan Indonesia golden age itu sendiri tanpa harus jadi khilafahers.

Leave a Comment

Related Post