Mengatasi Penyelewengan Dakwah Agama dan Radikalisme di Media Digital

Agus Wedi

10/10/2024

3
Min Read
Dawakh Pendakwah dan Media

On This Post

Harakatuna.com – Internet saat ini menjadi sarana yang sangat efektif dalam penyebaran gagasan keagamaan. Semua situs dan wacana keagamaan tersusun rapi di media sosial. Mulai dari bagaimana cara membaca, membuat sesaji perjimatan dan cara cepat menjadi mubaligh alias pendakwah.

Konten Radikal dari Masa ke Masa

Artinya, media sosial sebenarnya adalah dunia yang dinamis. Bisa diisi apa saja tergantung orang yang menghendakinya. Celakanya, apabila seseorang sengaja mengisi dengan konten yang berbahaya bagi kalangan awam. Seperti halnya konten merakit bom, cara menyihir, dan konten-konten dakwah-ajaran ekstrem radikal.

Konten yang terakhir inilah yang kini menjadi problem di dunia internet Indonesia. Internet dalam lanskap Indonesia menjadi salah satu inti penyebaran ajaran radikalisme dan ekstremisme berbasis kekerasan (Rand Corporation, 2014).

Caranya adalah lewat medan dakwah. Mereka mewartakan ajaran agama dengan kemasan super mudah dan gampang plus populer. Tapi sering kali di baliknya sebenarnya mereka punya misi menerjemahkan gagasan radikalisme dan ekstremisme dengan tujuan mendirikan sistem khilafah atau syariat Islam.

Sampai sekarang dakwah yang menyulut kebencian terutama yang mengajak pada perilaku kekerasan beragama bukan tidak ada. Justru dengan hadirnya internet dengan ragam algoritma canggihnya, dakwah mereka makin leluasa.

Tren Para Pendakwah dan Pendakwah Khilafah

Banjir bandang dakwah mereka menguasai wacana keislaman di media sosial. Meski sempat redup pada tahun 2019, tetapi hari ini mereka hadir dengan dakwah barunya melalui media Youtube dan Tiktok. Cobalah lihat Felix Siuw, dia hari ini membungkus dakwahnya dengan menyeret nama-nama besar dan artis papan atas. Kalau ditonton secara keseluruhan videonya, Felix Siuw ini terus membawa isu khilafah dalam obrolannya.

Felix Siuw seperti teman-temannya yang lain, sebagai pendakwah dia tidak berubah. Dia tetap pada ambisi utamanya, yakni mendirikan sistem khilafah di Indonesia. Seperti semua gurunya di HTI, ia memanfaatkan “ceruk” kepolosan umat tentang Islam untuk dibawa kepada khilafah.

Bagi mereka, penyelewangan dakwah berangkali tidak menjadi masalah. Asal seluruh hasrat dan tujuan bisa tercapai. Sayangnya, di barisan yang sama, mereka sering kali memprovokasi umat dengan basis agama, dan bikin gaduh media sosial.

Tebaran dakwah radikal menjadikan umat bingung tentang agama Islam sendiri. Mereka mengira, para pendakwah yang hilir-mudik di media sosial yang selalu menyebut kata “Allah, Hadis, Al-Qur’an” adalah yang paling benar. Bagi awam, siapa pendakwah yang viral adalah kebenaran. Hal demikian inilah yang menjadi tantangan zaman sekarang.

Tren dakwah radikal seperti ini sudah lama. Mereka bahkan hampir memenangi dakwah di internet pada era itu. Maka pada 2017, Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir 27.000 situs yang dianggap menyebarkan konten radikal (Kemkominfo, 2017).

Sosialisasi Kunci Penting

Sayangnya, dunia digital tidak pernah bisa dihentikan. Dan pemblokiran situs ataupun media sosial oleh pemerintah saat itu hanya menjadi langkah yang kontra-produktif. Langkah tersebut dapat dipahami sebagai upaya pemerintah, tapi buktinya di lapangan justru berbeda. Kelompok para pendakwah ini sudah memiliki strategi berkali lipat untuk terus bisa hidup.

Kabar gembiranya pemerintah selain bisa memblokir media, dia dapat memberikan program kontra radikalisme dan terorisme, meski masih banyak bolong sana-sini. Yang dibutuhkan hari ini adalah bagaimana masyarakat bisa mengenali pergerakan kelompok ekstrem. Jadi selain pemerintah, masyarakat juga bisa waspada sebelum “kejadian” itu tiba.

Menurut saya, pemerintah masih kurang sosialisasi dalam peperangan melawan radikalisme dan terorisme, termasuk terhadap konten dan dakwah radikal di media digital. Padahal ini penting, salah satunya untuk identifikasi diri atau cara bagaimana individu merepresentasikan terhadap realitas yang ada.

Misalnya masyarakat bisa melihat karakter masyarakat dan interaksi sosial, seperti ustaz-kelompok yang memaksakan apa yang diyakininya terhadap kelompok lain, hingga menginisiasi kekerasan. Atau bisa melihat simbol dan atribut pakaian tertentu, penggunaan bahasa (misalnya, menggunakan sapaan berbahasa Arab), dan identitas dalam berinternet dan kecendrungan pemilihan tokoh serta kitab bacaan. Ini penting dilakukan sebagai upaya mengatasi penyelewangan dakwah agama dan radikalisme di media digital. Itu.

Leave a Comment

Related Post