Harakatuna.com – Dalam satu minggu terakhir, menjadi rakyat Indonesia sepertinya tidak bisa kalau hidup tenang-tenang saja. Bayangkan dalam sepekan terakhir, sudah berapa banyak isu yang membuat masyarakat gaduh? Mulai dari penghapusan sistem kelas BPJS, pemotongan gaji karyawan swasta untuk program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera), hingga kasus korupsi yang dilakukan oleh mantan Menteri Pertanian (Mentan) periode 2019-2023 Syahrul Yasin Limpo (SYL) yang membuat masyarakat semakin tidak percaya kepada pemerintah.
Tidak berhenti pada kasus di atas, ada banyak bahkan bisa dikatakan ratusan isu yang sedang marak dibicarakan oleh netizen di media sosial, sehingga belum selesai dengan satu isu, beralih pada isu yang lain, karena terlalu banyak. Lalu, bisakah masyarakat Indonesia hidup santai dengan segala persoalan yang sedang marak dibicarakan di media sosial. Isu-isu yang berhubungan dengan pemerintah, memang sangat ciamik untuk dikritik. Sebab mereka adalah aktor utama dalam berjalannya kehidupan masyarakat untuk menciptakan kesejahteraan.
Tidak heran, kasus korupsi yang diaktori oleh SYL, adalah masalah yang banyak sekali disorot oleh netizen. Bukan tidak mungkin, kasus serupa juga terjadi pada kementerian yang lain. Kasus korupsi yang melibatkan seluruh keluarga, mulai dari istri hingga cucu tersebut, menjadi perbincangan hangat oleh masyarakat. Tidak berhenti pada masalah internal kenegaraan, masalah global yang turut menyita perhatian publik pada hari-hari belakangan ini adalah Israel dan Palestina.
Serangan brutal yang dilakukan oleh Israel terhadap Rafah, semakin gelap mata. Seluruh dunia mulai kehabisan cara dan upaya untuk menghentikan kekejaman dan kekejian Israel. Nasib 2,3 juta warga Palestina di Jalur Gaza berada di ujung tanduk. Tagar #AllEyesOnRafah menggema di media sosial, khususnya di Instagram. Seluruh dunia mengutuk kekejaman Israel, utamanya Netanyahu, Perdana Menteri Israel yang menjadi salah satu otak dari penyerangan tersebut.
Propaganda: Strategi yang Paling Ciamik?
Propaganda bisa dimaknai sebagai informasi palsu yang dimaksudkan untuk memantapkan suatu keyakinan yang dimiliki oleh seseorang/kelompok. Asumsinya adalah apabila orang mempercayai sesuatu itu salah, maka mereka akan senantiasa didera keraguan. Karena keraguan tersebut sudah membuat gelisah, maka mereka justru bersemangat untuk membuangnya dan oleh karena itu, mereka menjadi lebih terbuka terhadap apa yang disampaikan oleh mereka yang mempunyai otoritas. Propaganda, menjadi salah satu strategi utama yang dilakukan oleh aktivis khilafah dalam membentuk trust kepada masyarakat.
Artinya, dari sekian banyak isu yang terjadi belakangan ini, termasuk isu yang selalu datang dan pernah hadir, propaganda selalu dilakukan oleh para aktivis khilafah. Mereka menciptakan keraguan kepada masyarakat tentang kinerja pemerintah, dengan segala masalah yang terjadi. Mereka juga menarasikan berbagai masalah yang sedang marak dibicarakan oleh masyarakat, untuk membentuk persepsi baru, bahwa pemerintah tidak becus menjalankan tupoksinya sebagai pelayan rakyat.
Muara dari narasi tersebut adalah penggiringan opini untuk mendirikan sistem pemerintahan Islam sebagai solusi dari segala persoalan yang ada. Bahkan, dalam melihat Palestina dengan Israel, mereka juga mengharuskan seluruh negeri di dunia menerapkan khilafah agar konflik tersebut mereda.
Model narasi semacam itu sebenarnya sudah lama dilakukan oleh para aktivis khilafah. Sebab hal itu adalah upaya paling ciamik agar masyarakat memiliki keraguan terhadap sistem pemerintahan saat ini, sehingga memiliki keinginan untuk mencoba sistem baru, yang diberi nama sistem pemerintahan Islam. Namun, apakah itu benar-benar solusi?
Sebenarnya narasi yang disampaikan oleh para aktivis khilafah hanyalah akal busuk kelompok mereka saja. Mereka memainkan peran untuk terus menyerang pemerintah dan mencari kelemahan setiap isu yang sedang marak dibicarakan oleh masyarakat. Artinya, semakin banyak isu yang dibicarakan oleh masyarakat, semakin bagus pula bagi aktivis khilafah karena semakin banyak bahan untuk propaganda. Wallahu A’lam.









Leave a Comment